kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.889   14,00   0,08%
  • IDX 7.468   26,78   0,36%
  • KOMPAS100 1.038   0,75   0,07%
  • LQ45 759   -0,49   -0,06%
  • ISSI 264   1,59   0,61%
  • IDX30 401   -0,02   0,00%
  • IDXHIDIV20 495   -0,48   -0,10%
  • IDX80 117   -0,07   -0,06%
  • IDXV30 135   -0,19   -0,14%
  • IDXQ30 129   0,04   0,03%

Harga Minyak Bergejolak Rabu (11/3), IEA Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Terbesar


Rabu, 11 Maret 2026 / 08:51 WIB
Harga Minyak Bergejolak Rabu (11/3), IEA Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Terbesar
ILUSTRASI. Harga minyak dunia (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (11/3/2026) setelah laporan media menyebutkan rencana pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah guna meredam gangguan pasokan akibat perang di Iran.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar untuk menstabilkan pasar energi global yang terguncang konflik di Timur Tengah.

Pada pukul 01.29 GMT, kontrak minyak mentah global Brent naik tipis 11 sen atau 0,13% menjadi US$87,91 per barel.

Sementara kontrak minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 7 sen atau 0,08% ke level US$83,52 per barel.

Baca Juga: Pasar Valas Wait and See pada Rebu (11/3) di Tengah Perang Iran, Dolar Bertahan

Kedua kontrak sempat turun setelah laporan tersebut dirilis, yang membalikkan kenaikan harga sebelumnya.

Menurut laporan The Wall Street Journal, rencana pelepasan cadangan minyak itu berpotensi melampaui 182 juta barel minyak yang dilepas negara-negara anggota IEA pada 2022 saat Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina.

Baik IEA maupun Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Perang Iran Picu Gangguan Pasokan Energi

Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara paling intens terhadap Iran pada Selasa.

Militer AS juga menyatakan telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran di sekitar Strait of Hormuz.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$5.213,99 Rabu (11/3) Pagi, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ranjau yang dipasang Iran di jalur pelayaran tersebut harus segera disingkirkan.

Trump juga menegaskan Amerika Serikat siap mengawal kapal tanker yang melintas di Strait of Hormuz jika diperlukan.

Namun sumber Reuters menyebut Angkatan Laut AS sejauh ini menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer karena risiko serangan masih terlalu tinggi.

Analis pasar di IG Group Tony Sycamore mengatakan harga minyak diperkirakan akan tetap sangat volatil dalam waktu dekat.

“Kami memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak liar mengikuti perkembangan berita, dengan kisaran perdagangan sekitar US$75 hingga US$105 per barel dalam beberapa sesi mendatang,” ujarnya.

Sebelumnya, harga minyak anjlok lebih dari 11% pada Selasa penurunan harian terbesar sejak 2022 setelah sempat melonjak di atas US$119 per barel pada Senin, level tertinggi sejak Juni 2022.

Penurunan tajam terjadi setelah Trump memprediksi perang dengan Iran dapat segera berakhir.

Baca Juga: Survei StanChart: Perusahaan Global Lihat Ruang Besar untuk Pembiayaan Yuan

Gangguan Infrastruktur Energi

Negara-negara Group of Seven (G7) juga telah menggelar pembahasan daring untuk mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak darurat guna menstabilkan pasar.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan memimpin pertemuan virtual para pemimpin G7 pada Rabu untuk membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi global.

Sementara itu, perusahaan minyak nasional Abu Dhabi ADNOC menghentikan operasi kilang Ruwais setelah fasilitas di kompleks tersebut mengalami kebakaran akibat serangan drone.

Arab Saudi eksportir minyak terbesar dunia dilaporkan meningkatkan pengiriman melalui pelabuhan Laut Merah di Yanbu untuk menambah ekspor.

Namun volume tambahan itu masih jauh dari cukup untuk menggantikan berkurangnya pasokan dari kawasan Teluk.

Baca Juga: IEA Usulkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar untuk Redam Lonjakan Harga

Data pelayaran menunjukkan sejumlah negara produsen seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga telah mengurangi produksi di tengah konflik.

Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan perang saat ini telah memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk hingga sekitar 15 juta barel per hari. Jika gangguan berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel.

Sementara itu, analis Morgan Stanley menilai bahkan jika konflik segera berakhir, pasar energi kemungkinan masih akan menghadapi gangguan pasokan selama beberapa minggu ke depan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×