Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu (14/1/2026), melanjutkan kenaikan untuk hari kelima berturut-turut.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Iran di tengah kerusuhan sipil yang mematikan serta saling ancam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 42 sen atau 0,6% ke level US$ 65,89 per barel pada pukul 10.33 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 36 sen atau 0,6% menjadi US$ 61,51 per barel.
Baca Juga: Dampak Blokade Trump: Impor Minyak China dari Venezuela Anjlok 75%
Pemerintah Iran sebelumnya memperingatkan sekutu AS di kawasan Timur Tengah bahwa Teheran akan menyerang pangkalan militer AS di wilayah mereka jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.
Sejumlah personel bahkan dilaporkan telah disarankan untuk meninggalkan salah satu pangkalan militer AS di Qatar.
“Kita berada dalam periode ketidakstabilan geopolitik dan potensi gangguan pasokan,” ujar Managing Director Onyx Capital Group, Jorge Montepeque.
Menurutnya, protes di Iran dipandang berpotensi mengarah pada perubahan rezim, yang menjadi faktor risiko besar bagi pasar energi global. Ia juga menilai kemungkinan serangan AS terhadap Iran semakin tinggi.
Baca Juga: China Menyelidiki Agen Travel Trip.com Atas Dugaan Monopoli
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (13/1) turut memperkeruh situasi dengan menyerukan warga Iran untuk terus melakukan aksi protes.
Trump juga menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan, meski tidak menjelaskan bentuk bantuan tersebut.
Analis Citi menilai, aksi protes di Iran berisiko memperketat keseimbangan pasokan minyak global, baik melalui potensi gangguan pasokan dalam jangka pendek maupun meningkatnya premi risiko geopolitik.
Citi pun menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk tiga bulan ke depan menjadi US$ 70 per barel.
Meski demikian, Citi mencatat bahwa sejauh ini aksi protes belum meluas ke wilayah utama penghasil minyak di Iran. Kondisi tersebut membuat dampak terhadap pasokan minyak secara aktual masih terbatas.
Baca Juga: Boom Mereda, Penjualan Kendaraan dan Ekspor China Masuk Fase Perlambatan
Kenaikan harga minyak juga tertahan oleh lonjakan persediaan minyak mentah dan produk minyak di AS. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan, stok minyak mentah AS naik 5,23 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari.
Persediaan bensin tercatat melonjak 8,23 juta barel, sementara stok distilat meningkat 4,34 juta barel dibandingkan pekan sebelumnya. Data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan rilis pada Rabu waktu setempat.
Sebelumnya, jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS diperkirakan turun pada pekan lalu, sementara persediaan bensin dan distilat diprediksi mengalami kenaikan.
Faktor lain yang membatasi kenaikan harga minyak datang dari Venezuela. Negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tersebut mulai membalikkan pemangkasan produksi minyak yang dilakukan di bawah embargo AS, seiring kembali bergulirnya ekspor minyak mentah.
Baca Juga: Defisit Anggaran Tembus 5%, Prancis Masuk Zona Bahaya pada 2026
Dua kapal tanker super dilaporkan meninggalkan perairan Venezuela pada Senin (12/1), masing-masing membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah.
Pengiriman ini diduga menjadi bagian awal dari kesepakatan pasokan minyak sebesar 50 juta barel antara Caracas dan Washington untuk menghidupkan kembali ekspor, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS.













