Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak dunia bergerak menuju kenaikan tajam dalam sepekan terakhir, meski pemerintah Amerika Serikat (AS) berupaya meredakan kekhawatiran pasar dengan memberikan izin sementara bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia yang tertahan di laut.
Pada perdagangan Jumat (13/3/2026), minyak mentah Brent untuk kontrak Mei naik sekitar 1% menjadi US$101,48 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak April juga menguat 1% ke US$ 96,67 per barel. Secara mingguan, Brent berpotensi melonjak hampir 10%, sedangkan WTI naik lebih dari 6%.
Pemerintah AS sebelumnya mengeluarkan lisensi selama 30 hari yang memungkinkan negara-negara membeli minyak dan produk minyak Rusia yang sempat tertahan di laut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut langkah ini sebagai upaya untuk menstabilkan pasar energi global yang terguncang akibat konflik yang melibatkan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Stabil, Pasar Cermati Perkembangan Perundingan AS–Iran
Namun para analis menilai kebijakan tersebut hanya memberi dampak terbatas karena tidak menyentuh akar persoalan pasokan.
Analis senior LSEG Emril Jamil mengatakan pasar masih melihat tekanan pasokan sebagai masalah utama. “Langkah ini hanya solusi jangka pendek dan belum menyelesaikan inti gangguan pasokan,” ujarnya.
Menurutnya, harga Brent cenderung lebih sensitif terhadap risiko keamanan energi dibandingkan WTI. Hal ini karena Eropa sangat bergantung pada impor energi, sementara AS masih memiliki produksi domestik yang relatif kuat.
Analis Yang An juga menilai stabilitas pasar baru akan tercapai jika jalur pelayaran energi utama kembali normal. “Lisensi ini meredakan sebagian kekhawatiran, tetapi persoalan paling mendasar adalah pemulihan navigasi di Selat Hormuz,” katanya.
Sehari sebelum pengumuman lisensi tersebut, Departemen Energi AS juga menyatakan akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategis negara itu untuk membantu menekan lonjakan harga. Langkah tersebut dikoordinasikan dengan International Energy Agency, yang berencana melepas total 400 juta barel minyak dari cadangan darurat negara-negara anggotanya.
Baca Juga: Iran Ingatkan Konflik Regional Jika AS Menyerang, Sebut Tentara Uni Eropa Teroris
Meski sempat memberi kelegaan sesaat, sentimen pasar kembali memanas setelah risiko konflik di Timur Tengah meningkat. Analis IG Tony Sycamore mengatakan kekhawatiran geopolitik kembali mendominasi pergerakan harga minyak.
Pada Kamis sebelumnya, kedua harga acuan minyak melonjak lebih dari 9% dan menyentuh level tertinggi sejak Agustus 2022.
Ketegangan memuncak setelah pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyatakan negaranya akan terus berperang dan mempertahankan penutupan Strait of Hormuz sebagai tekanan terhadap AS dan Israel.
Di lapangan, situasi keamanan juga memburuk. Dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak dilaporkan diserang perahu Iran bermuatan bahan peledak. Seorang pejabat Irak menyebut seluruh pelabuhan minyak negara itu sementara menghentikan operasi.
Baca Juga: Harga Minyak Menguat Tipis Setelah Perundingan Damai AS–Rusia Gagal Capai Terobosan
Pemerintah AS mengatakan Angkatan Lautnya kemungkinan akan mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, bersama koalisi internasional, jika kondisi militer memungkinkan. Langkah ini dipandang krusial untuk memastikan jalur perdagangan energi global tetap terbuka.













