kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.040   -37,00   -0,20%
  • IDX 5.778   -61,90   -1,06%
  • KOMPAS100 765   -6,18   -0,80%
  • LQ45 575   -6,16   -1,06%
  • ISSI 203   -0,85   -0,42%
  • IDX30 325   -3,68   -1,12%
  • IDXHIDIV20 401   -5,98   -1,47%
  • IDX80 87   -0,66   -0,76%
  • IDXV30 109   -2,01   -1,81%
  • IDXQ30 105   -1,47   -1,38%

Investor China Mulai Lirik Afrika, Dominasi Nikel Indonesia Terancam Kebijakan Baru


Jumat, 05 Juni 2026 / 08:23 WIB
Investor China Mulai Lirik Afrika, Dominasi Nikel Indonesia Terancam Kebijakan Baru
ILUSTRASI. Smelter mineral (Dok/dss+)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Sejumlah perusahaan China yang berperan besar dalam mengubah Indonesia menjadi produsen nikel terbesar dunia mulai menjajaki peluang investasi di luar negeri.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan kebijakan di Indonesia yang dinilai menguji model investasi yang selama ini mendorong pertumbuhan pesat industri nikel nasional.

Baca Juga: Harga Minyak Melemah di Pagi Ini (5/6), Ketidakpastian Kesepakatan Damai Membayangi

Melansir Reuters Jumat (5/6/2026), Grup Tsingshan dikabarkan tengah mempertimbangkan pengembangan proyek besar di Madagaskar, sementara Lygend Resources menjajaki proyek nikel di Tanzania dan berupaya menghidupkan kembali operasi Koniambo di Kaledonia Baru, menurut sumber industri.

Perusahaan-perusahaan China tersebut sebelumnya menjadi motor pembangunan smelter dan kawasan industri yang menjadikan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan global industri nikel, terutama setelah pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada 2020.

Berdasarkan data U.S. Geological Survey, pangsa produksi nikel tambang Indonesia melonjak menjadi lebih dari 60% produksi global pada 2025, naik dari sekitar 30% pada 2020.

Produksi berbiaya rendah yang didukung investor China mendorong pasar nikel global mengalami surplus, menekan harga, dan memaksa sejumlah produsen berbiaya tinggi seperti Glencore, BHP, dan Sumitomo menutup atau menghentikan sebagian operasinya.

Baca Juga: Tingkatkan Pasokan Listrik, Jepang Berencana Bangun Kembali Pembangkit Nuklir Tua

Namun sejak menjabat pada akhir 2024, Prabowo Subianto berupaya meningkatkan penerimaan negara untuk mendukung berbagai program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis senilai sekitar US$ 20 miliar.

Pada akhir Mei lalu, Prabowo mengumumkan rencana pengendalian ekspor batubara, minyak sawit, dan ferroalloy melalui mekanisme terpusat oleh negara.

Meski nickel pig iron (NPI) yang menjadi produk utama produsen China kemudian disebut tidak termasuk dalam skema tersebut, usulan itu tetap memicu kekhawatiran investor mengenai stabilitas kebijakan.

Sebelumnya, investor juga dihadapkan pada pengetatan kuota penambangan bijih nikel, rencana kenaikan pajak, serta revisi signifikan terhadap harga patokan mineral Indonesia.

Kondisi tersebut bahkan mendorong Kamar Dagang China di Indonesia mengirim surat kepada Presiden Prabowo yang memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menghambat investasi di masa depan.

"Ini jelas berdampak negatif bagi industri. Jika pemerintah menambah birokrasi dan mengendalikan harga jual komoditas, maka hal itu akan memengaruhi skala investasi," ujar analis pertambangan senior Canaccord, Tim Hoff.

Data menunjukkan investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia turun 6% pada 2025, setelah tumbuh 19% pada tahun sebelumnya. Investasi sektor pertambangan mencapai puncaknya pada 2024, sementara investasi baru di sektor pengolahan logam dasar cenderung stagnan sejak saat itu.

Baca Juga: F1 Perpanjang Kontrak GP Las Vegas: Keuntungan Besar Menanti Hingga 2037!

Mulai Melirik Proyek di Luar Indonesia

Tsingshan, produsen baja tahan karat terbesar dunia, telah mengajukan proposal investasi bernilai miliaran dolar AS kepada pemerintah Madagaskar untuk membangun kawasan industri yang mencakup pengembangan berbagai mineral, termasuk nikel.

Menteri Pertambangan Madagaskar Karl Andriamparany mengatakan konsep proyek tersebut terinspirasi dari kawasan industri Morowali dan Weda Bay di Indonesia. Namun proposal tersebut masih dalam tahap evaluasi dan belum memperoleh izin pertambangan.

Tsingshan diketahui telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan pemerintah Madagaskar pada Februari lalu.

Baca Juga: Produk Kripto Baru AS Dikritik Keras, Bos CME Sebut Bisa Jadi Bencana

Sementara itu, Lygend Resources yang dikenal sebagai pelopor teknologi high-pressure acid leach (HPAL) untuk bahan baku baterai kendaraan listrik juga mulai menjajaki peluang di luar Indonesia.

Menurut dua sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Lygend sedang berdiskusi untuk mengakuisisi sebagian saham proyek nikel Kabanga di Tanzania dari perusahaan Lifezone Metals.

Di kawasan Pasifik, Lygend juga telah mengajukan penawaran kepada perusahaan tambang milik negara Kaledonia Baru, SMSP, untuk mengambil saham dalam proyek nikel Koniambo yang saat ini tidak beroperasi.

Jika terealisasi, investasi di Tanzania maupun Kaledonia Baru akan menjadi proyek nikel pertama Lygend di luar Indonesia.

Baca Juga: JPMorgan hingga BofA Ramaikan Demam IPO SpaceX di Wall Street

Alternatif yang Tidak Mudah

Meski demikian, para analis menilai proyek-proyek baru tersebut menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.

Perubahan kebijakan di Indonesia memang telah memperketat proyeksi pasokan nikel global dan mendorong harga nikel ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Kondisi ini memberikan harapan baru bagi proyek-proyek seperti Koniambo yang sempat menghasilkan lebih dari 28.000 ton nikel pada puncak produksinya pada 2018.

Namun proyek baru di Madagaskar dan Tanzania dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi serta tidak memiliki kombinasi keunggulan yang dimiliki Indonesia, seperti cadangan bijih yang melimpah, infrastruktur yang relatif lengkap, dan skala industri yang besar.

Madagaskar baru saja mencabut moratorium penerbitan izin tambang yang berlaku selama 16 tahun untuk sebagian besar mineral.

Baca Juga: Presiden Kuba Masuk Daftar Hitam AS, Target Baru Pemerintahan Trump

Sementara operasi nikel-kobalt Ambatovy, satu-satunya tambang nikel utama di negara tersebut, telah lama menghadapi berbagai kesulitan operasional.

Di sisi lain, proyek Kabanga di Tanzania merupakan salah satu deposit nikel sulfida terbesar yang belum dikembangkan di dunia.

Namun menurut estimasi Lifezone Metals, proyek tersebut membutuhkan investasi awal hampir US$ 1 miliar dan memerlukan waktu sekitar enam tahun hingga mampu mencapai target produksi tahunan sekitar 50.000 ton nikel.

Dengan berbagai tantangan tersebut, Indonesia masih menjadi pusat industri nikel global. Namun meningkatnya ketidakpastian kebijakan tampaknya mulai mendorong investor China untuk menyiapkan alternatif jangka panjang di luar negeri.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×