Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak sedikit berubah pada ini setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya, dengan prospek yang semakin suram untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran dalam waktu dekat setelah milisi Hizbullah menolak gencatan senjata baru di Lebanon.
Jumat (5/6/2026) pukul 07.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 turun 21 sen atau 0,22% menjadi US$ 95,24 per barel, setelah turun 2,84% pada sesi sebelumnya.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2026 berada di US$ 92,94 per barel, turun 10 sen, atau 0,11%, setelah anjlok 3,1% pada hari Kamis (4/6/2026).
Kedua kontrak tersebut diperkirakan akan mencatatkan kenaikan mingguan pertama mereka dalam tiga minggu, dengan WTI naik lebih dari 6%, setelah pertempuran kembali berkobar di Timur Tengah sementara perundingan perdamaian perang AS-Iran berlarut-larut dan lalu lintas di Selat Hormuz, tempat seperlima minyak dunia melewatinya, tetap terbatas.
Baca Juga: Tingkatkan Pasokan Listrik, Jepang Berencana Bangun Kembali Pembangkit Nuklir Tua
Para analis telah menyampaikan kekhawatiran tentang penurunan persediaan minyak secara global yang dapat menyebabkan lonjakan harga pada kuartal ketiga.
Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pada hari Kamis menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran.
Iran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat untuk kesepakatan perdamaian apa pun dengan Washington.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa ia percaya kemajuan sedang dicapai antara Israel dan Lebanon dan bahwa Lebanon pantas mendapatkan perdamaian.
"Optimisme apa pun tetap sangat tertutupi oleh jalinan berita utama dan berita tandingan yang rumit," kata analis pasar IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan.
"Dari perspektif teknis, selama minyak mentah (WTI) tetap di atas garis tren dukungan di kisaran $80-an rendah, risikonya tetap condong ke atas."
OPEC tetap berpegang pada perkiraan pertumbuhan permintaan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari untuk tahun ini, kata Sekretaris Jenderal Haitham Al Ghais pada hari Kamis, meskipun terjadi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Ekspor minyak Iran telah turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir terutama karena blokade angkatan laut AS, menurut data pengiriman, meskipun permintaan yang lemah di China telah menekan harga minyak.













