kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.902   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

Harga Minyak Anjlok 5% di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS–Iran


Rabu, 25 Maret 2026 / 19:16 WIB
Harga Minyak Anjlok 5% di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS–Iran
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia turun tajam sekitar 5% pada Rabu (25/3) setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan proposal perdamaian 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik.

Kabar ini memicu optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata, meskipun serangan udara antara Iran dan Israel masih berlangsung.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$5,66 atau 5,42% menjadi US$98,83 per barel pada pukul 10.22 GMT, setelah sempat menyentuh level terendah US$97,57. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$4,82 atau 5,22% ke level US$87,53 per barel, setelah sempat turun ke US$86,72.

Sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat naik hampir 5% pada Selasa, sebelum kembali terkoreksi dalam perdagangan yang volatil.

Baca Juga: Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Bursa Eropa Naik, Harga Minyak Turun

Harapan Damai vs Ketegangan Militer

Penurunan harga minyak terjadi di tengah harapan akan meredanya konflik. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang menunjukkan kemajuan. Sumber Reuters juga mengonfirmasi bahwa Washington telah mengajukan proposal perdamaian kepada Teheran.

Namun, sejumlah analis tetap skeptis terhadap prospek tersebut. Mereka menilai pasar energi masih akan bergejolak karena ketidakpastian geopolitik, termasuk laporan pengerahan pasukan tambahan AS ke Timur Tengah.

Kepala BlackRock, Larry Fink, memperingatkan bahwa jika Iran terus menjadi ancaman bagi Selat Hormuz, harga minyak bisa bertahan di kisaran US$100 hingga US$150 per barel selama bertahun-tahun.

Gangguan Pasokan dari Selat Hormuz

Konflik yang berlangsung hampir satu bulan ini telah mengganggu serius distribusi energi global. Pengiriman minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz—yang biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan energi dunia—nyaris terhenti.

International Energy Agency bahkan menyebut kondisi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.

Diperkirakan, dunia kehilangan sekitar 20 juta barel minyak per hari akibat gangguan tersebut. Dalam 25 hari, total kehilangan pasokan mencapai sekitar 500 juta barel, setara dengan lima hari konsumsi global.

Analis menyebutkan bahwa meskipun jalur distribusi kembali dibuka, belum tentu seluruh produksi yang terhenti dapat segera pulih, terutama jika belum ada kepastian mengenai keberlanjutan gencatan senjata.

Respons Negara Produsen dan Jalur Alternatif

Untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz, ekspor minyak dari Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah meningkat tajam hingga mendekati 4 juta barel per hari.

Di sisi lain, Iran menyatakan kepada Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal-kapal “non-hostil” masih dapat melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi bersama otoritas Iran.

Baca Juga: AS Siapkan Ribuan Pasukan Elit ke Timur Tengah di Tengah Opsi Damai Iran

Namun, ketidakpastian pasar energi global juga diperburuk oleh faktor lain. Rusia dilaporkan menghentikan pemuatan minyak di pelabuhan Baltik utama seperti Primorsk dan Ust-Luga setelah serangan drone Ukraina memicu kebakaran besar.

Peristiwa ini menjadi salah satu serangan terbesar terhadap fasilitas ekspor energi Rusia dalam konflik yang telah berlangsung selama empat tahun, sekaligus menambah tekanan pada pasar minyak global.

Prospek Harga Tetap Volatil

Analis menilai perkembangan di Timur Tengah akan tetap menjadi faktor utama penggerak harga minyak dalam jangka pendek. Dengan kombinasi antara harapan diplomasi dan eskalasi militer, pasar energi diperkirakan akan terus bergerak fluktuatif.

Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap setiap perkembangan baru, baik dari sisi geopolitik maupun pasokan energi global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×