Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon dikabarkan akan mengirim ribuan pasukan elit dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini menambah eskalasi kekuatan militer AS, meskipun Presiden Donald Trump masih membuka peluang kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik.
Dua sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebutkan bahwa pengerahan ini akan melibatkan sekitar 3.000 hingga 4.000 personel dari 82nd Airborne Division, unit elit yang bermarkas di Fort Bragg, Carolina Utara. Namun, lokasi penempatan dan waktu kedatangan pasukan di Timur Tengah belum diungkapkan.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari laporan sebelumnya terkait rencana pemerintahan Trump untuk meningkatkan kehadiran militer di kawasan, termasuk opsi pengerahan pasukan ke dalam wilayah Iran. Jika direalisasikan, langkah ini berpotensi meningkatkan risiko konflik yang kini telah memasuki pekan keempat dan mengguncang pasar global.
Opsi Militer Masih Terbuka
Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa semua keputusan terkait pengerahan pasukan akan diumumkan oleh Pentagon. Juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa Trump memiliki seluruh opsi militer di tangannya.
Baca Juga: Negosiasi AS–Iran Bayangi Volatilitas Minyak
Meski demikian, salah satu sumber menyebutkan bahwa belum ada keputusan untuk mengirim pasukan langsung ke Iran. Pengerahan ini lebih ditujukan untuk memperkuat kapasitas operasi militer AS di kawasan sebagai antisipasi langkah lanjutan.
Sebelumnya, AS juga telah mengirim ribuan marinir dan pelaut menggunakan kapal serbu amfibi USS Boxer beserta kelompok tempur pendukung ke Timur Tengah.
Sebelum penambahan pasukan ini, jumlah tentara AS di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 50.000 personel.
Diplomasi dan Ketegangan Berjalan Bersamaan
Pengerahan pasukan ini terjadi sehari setelah Trump menunda ancaman untuk menyerang pembangkit listrik Iran, dengan alasan adanya pembicaraan yang disebut “produktif”. Namun, pihak Iran membantah adanya negosiasi tersebut.
Sejak operasi militer AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, AS dilaporkan telah menyerang sekitar 9.000 target di wilayah Iran. Konflik ini juga telah menimbulkan korban di pihak AS, dengan 13 tentara tewas dan 290 lainnya terluka.
Baca Juga: Tak Gentar Gertakan Trump, Komandan AL Iran: USS Abraham Lincoln Kini dalam Bidikan!
Pertimbangan Strategis dan Risiko Politik
Militer AS sebelumnya mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk mengamankan Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20% pasokan energi dunia. Selain itu, opsi pengerahan pasukan darat ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, juga tengah dikaji.
Divisi Lintas Udara ke-82 dikenal sebagai unit reaksi cepat yang mampu dikerahkan dalam waktu 18 jam untuk operasi serangan udara menggunakan parasut.
Namun, pengerahan pasukan darat—bahkan dalam skala terbatas—berpotensi menimbulkan risiko politik besar bagi Trump. Hal ini mengingat rendahnya dukungan publik AS terhadap perang dengan Iran serta janji kampanye Trump untuk menghindari keterlibatan dalam konflik baru di Timur Tengah.
Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan hanya 35% warga Amerika yang mendukung serangan AS ke Iran, turun dari 37% pada pekan sebelumnya. Sementara itu, tingkat penolakan meningkat menjadi 61%.
Dengan meningkatnya kehadiran militer di kawasan dan belum adanya kepastian jalur diplomasi, arah konflik AS-Iran masih diliputi ketidakpastian dan berpotensi terus memicu volatilitas di pasar global.













