Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Di tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang telah berlangsung 25 hari, Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya sinyal positif dari Iran berupa “hadiah” bernilai besar sebagai bentuk itikad baik dalam negosiasi.
Mengutip Bloomberg (25/3), meski tidak merinci bentuknya, Trump menyebut “hadiah” tersebut berkaitan dengan kelancaran arus energi di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pernyataan ini langsung memicu optimisme pasar, meski situasi di lapangan menunjukkan arah yang bertolak belakang.
Di satu sisi, Washington mengklaim tengah membuka jalur diplomasi. Trump menyebut sejumlah pejabat tinggi, mulai dari utusan khusus hingga Menteri Luar Negeri, terlibat dalam pembicaraan dengan Teheran. Namun di sisi lain, Pentagon justru meningkatkan kehadiran militer dengan mengirim sekitar 2.000 pasukan tambahan ke kawasan, menegaskan bahwa opsi eskalasi tetap terbuka.
Kontradiksi ini mencerminkan pendekatan “dua kaki” AS, yakni mendorong negosiasi sambil mempertahankan tekanan militer. Bagi pasar, sinyal yang tidak konsisten ini justru memperbesar ketidakpastian.
Baca Juga: Transaksi US$500 Juta Terjadi Menjelang Pernyataan Trump, Harga Minyak Anjlok Tajam
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak Brent sempat merosot hingga 7% ke kisaran US$ 97 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke sekitar US$ 87. Penurunan ini didorong harapan bahwa jalur diplomasi dapat meredakan gangguan pasokan.
Namun, pelaku pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin. Sebab, Iran masih mempertahankan kendali ketat atas Selat Hormuz, bahkan mulai mengenakan biaya transit bagi kapal komersial. Lalu lintas tanker pun nyaris terhenti, menandakan risiko pasokan belum benar-benar mereda.
Di saat yang sama, Israel tetap melanjutkan serangan dengan intensitas tinggi. Konflik juga mulai merembet ke negara lain, seperti Kuwait yang melaporkan serangan drone ke fasilitas energi. Ini mempertegas bahwa risiko geopolitik masih tinggi dan berpotensi meluas.
Dari sisi fundamental, pasar energi kini berada dalam posisi rapuh. Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu dalam jangka panjang, dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga rantai pasok global dan inflasi energi.
Tekanan juga mulai terasa di dalam negeri AS. Harga bensin terus naik sejak konflik dimulai, tren kenaikan terpanjang sejak 2022. Bahkan, perusahaan energi Chevron Corporation memperingatkan potensi krisis energi di California, di mana harga bensin mendekati US$ 6 per galon, jauh di atas rata-rata nasional.
Di tengah tekanan ini, Trump kembali menegaskan bahwa kesepakatan hanya akan terjadi jika Iran bersedia meninggalkan ambisi senjata nuklir, garis merah lama sejak era Barack Obama. Namun, tuntutan Iran atas jaminan keamanan dan kompensasi dinilai sulit diterima Washington maupun Israel.
Artinya, jalan menuju kesepakatan masih panjang dan berliku.
Baca Juga: Trump Ubah Wajah Budaya dan Sejarah Amerika: Dari Smithsonian hingga Patung Columbus
Sejumlah negara juga mulai mengambil posisi. Narendra Modi mendorong perdamaian demi menjaga stabilitas pasokan energi India. Sementara Benjamin Netanyahu memastikan kepentingan Israel tetap menjadi prioritas dalam setiap negosiasi.
Di kawasan Teluk, Arab Saudi bahkan memberi sinyal siap membalas jika infrastruktur energinya diserang Iran, sebuah peringatan yang bisa memperluas konflik menjadi regional.
Dengan dinamika ini, pasar global menghadapi dilema klasik: antara harapan damai dan risiko eskalasi. Selama Selat Hormuz masih menjadi “titik tekan” utama, volatilitas harga energi diperkirakan akan tetap tinggi.
Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat bahwa faktor geopolitik kembali menjadi penentu utama arah pasar bukan sekadar data ekonomi.













