Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aktivitas perdagangan minyak global menjadi sorotan setelah transaksi besar senilai lebih dari US$500 juta terjadi hanya 15 menit sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Data bursa dan perhitungan Reuters menunjukkan bahwa para trader memasang posisi besar pada kontrak berjangka minyak mentah tepat sebelum pernyataan Trump memicu aksi jual besar-besaran di pasar energi.
Trump sebelumnya memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi ancaman penghancuran pembangkit listriknya. Namun, dalam unggahan di Truth Social pada pukul 11.05 GMT, ia mengindikasikan adanya pembicaraan konstruktif antara Washington dan Teheran serta menunda serangan selama lima hari.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Rabu (25/3), Mata Uang Stabil di Tengah Harapan Negosiasi AS-Iran
Harga Minyak Jatuh Drastis
Pernyataan tersebut langsung mengguncang pasar. Harga minyak mentah Brent anjlok hingga 15% dalam hitungan menit, mencerminkan ekspektasi investor terhadap potensi de-eskalasi konflik yang dapat membuka kembali pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Sebelum pengumuman, Brent sempat berada di kisaran US$112 per barel, namun merosot ke sekitar US$99. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun dari hampir US$99 menjadi sekitar US$86 per barel.
Lonjakan Volume Transaksi
Data dari London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan bahwa antara pukul 10.49 hingga 10.50 GMT, terjadi transaksi sekitar 5.100 lot kontrak Brent dan WTI—setara lebih dari US$500 juta.
Volume transaksi melonjak tajam setelah pernyataan Trump. Dalam waktu hanya 60 detik pada pukul 11.05 GMT, lebih dari 13.000 lot kontrak—setara sekitar 13 juta barel minyak—berpindah tangan.
Bursa Intercontinental Exchange (ICE) dan CME Group selaku operator pasar berjangka minyak belum memberikan komentar resmi terkait pergerakan pasar yang tidak biasa ini.
Volatilitas Tinggi di Tengah Konflik
Sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari, harga minyak global telah melonjak lebih dari 40%. Sekitar 20% pasokan minyak dunia terdampak akibat gangguan distribusi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Bursa Jepang Ditutup Melejit Rabu (25/3), Indeks Nikkei 225 Naik Hampir 3%
Volume perdagangan juga meningkat signifikan. Jika dalam tiga tahun sebelum konflik rata-rata transaksi harian Brent mencapai 300.000 lot, dalam empat pekan terakhir angka tersebut melonjak hingga lebih dari 1 juta lot per hari, setara sekitar 1 miliar barel minyak.
Meski sempat jatuh tajam, harga Brent kini berada di bawah US$104 per barel. Ketidakpastian masih tinggi, terutama terkait dampak konflik terhadap ekonomi global dan kejelasan negosiasi antara AS dan Iran, yang hingga kini masih dibantah oleh Teheran.
Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap dinamika geopolitik, serta besarnya peran pernyataan politik dalam memicu volatilitas harga minyak dalam waktu singkat.













