kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.956   109,00   0,61%
  • IDX 5.889   -305,94   -4,94%
  • KOMPAS100 780   -43,96   -5,33%
  • LQ45 591   -28,72   -4,64%
  • ISSI 204   -10,98   -5,12%
  • IDX30 335   -14,44   -4,13%
  • IDXHIDIV20 414   -13,76   -3,21%
  • IDX80 89   -4,95   -5,29%
  • IDXV30 113   -4,58   -3,90%
  • IDXQ30 109   -3,81   -3,39%

Bank Sentral China Stop Injeksi Likuiditas Harian Pertama Kali Sejak 2024


Rabu, 03 Juni 2026 / 11:35 WIB
Bank Sentral China Stop Injeksi Likuiditas Harian Pertama Kali Sejak 2024
ILUSTRASI. Ekonomi China (REUTERS/Kim Kyung Hoon)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), untuk pertama kalinya sejak 2024 menghentikan injeksi likuiditas harian melalui reverse repo tujuh hari pada Rabu (3/6/2026). Langkah ini dipandang pasar sebagai tanda bahwa sistem perbankan sedang kelebihan likuiditas.

PBOC menyatakan volume operasi reverse repo menjadi nol karena menyesuaikan kebutuhan dealer utama di pasar terbuka. Ini menjadi kali pertama dalam hampir dua tahun tidak ada penambahan dana harian melalui instrumen tersebut.

Meski mengejutkan sebagian pelaku pasar, kondisi ini terjadi di tengah suku bunga antarbank yang masih rendah, dengan indikator repo tujuh hari bertahan di sekitar 1,33%, di bawah suku bunga acuan PBOC sebesar 1,4%.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Berpotensi Pangkas Produktivitas Global hingga US$ 17 Miliar

Sejumlah ekonom menilai langkah ini lebih bersifat teknis daripada perubahan arah kebijakan. Analis dari ING menyebut likuiditas saat ini masih sangat longgar sehingga bank sentral tidak perlu menambah dana baru. Sementara itu, Credit Agricole menilai PBOC mungkin ingin memberi sinyal agar pertumbuhan kredit tidak melambat terlalu jauh.

Di pasar obligasi, respons relatif terbatas. Imbal hasil obligasi tenor panjang hanya bergerak tipis, menunjukkan investor tidak melihat perubahan besar pada arah kebijakan moneter.

Ke depan, pasar masih memperkirakan People's Bank of China akan tetap mempertahankan kebijakan longgar untuk mendukung ekonomi yang masih menghadapi tekanan permintaan domestik yang lemah.

Di sisi global, arah kebijakan Tiongkok ini berbeda dengan tren pengetatan di negara lain. Federal Reserve di Amerika Serikat justru masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi akibat harga energi terus berlanjut.

Meski demikian, sebagian analis memperkirakan peluang penurunan suku bunga di Tiongkok masih terbuka pada akhir tahun jika kondisi global dan harga energi mereda.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×