kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Likuiditas Ditarik, Bank Sentral China Mulai Rem Kebijakan


Jumat, 03 April 2026 / 04:00 WIB
Likuiditas Ditarik, Bank Sentral China Mulai Rem Kebijakan
ILUSTRASI. Beijing China (REUTERS/Florence Lo)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Bank sentral China mulai menginjak rem kebijakan moneternya. Setelah berbulan-bulan membanjiri pasar dengan likuiditas untuk menopang ekonomi, kini otoritas moneter Negeri Tirai Bambu justru menarik dana dari sistem keuangan langkah yang mengirim sinyal kehati-hatian di tengah tekanan global yang kian kompleks.

Dalam laporan Bloomberg (2/4), People’s Bank of China (PBOC) tercatat menyedot likuiditas sebesar 890 miliar yuan sepanjang Maret melalui operasi pasar terbuka jangka pendek. Tak berhenti di situ, tambahan 250 miliar yuan juga ditarik lewat instrumen jangka panjang seperti reverse repo dan medium-term lending facility (MLF).

Jika dikalkulasikan, langkah ini membuat perbankan mencatat pembayaran bersih pertama ke bank sentral sejak Mei tahun lalu. Artinya, era banjir likuiditas yang sempat menjadi penopang utama ekonomi China mulai dikurangi.

Perubahan arah ini terbilang kontras. Sebelumnya, PBOC agresif menyuntikkan likuiditas untuk menahan perlambatan ekonomi pasca pembukaan kembali dari pandemi Covid-19. Namun, dengan pertumbuhan yang mulai pulih di awal 2026, bank sentral kini memilih menjaga ruang gerak kebijakan.

Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Tahan Suku Bunga Acuan untuk Kedelapan Kalinya

Risiko tekanan inflasi

Tekanan eksternal menjadi salah satu pertimbangan. Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran mulai merembes ke dalam negeri dan berpotensi mengakhiri fase deflasi panjang yang sempat membayangi ekonomi China. Dalam konteks ini, menambah likuiditas justru berisiko mempercepat tekanan inflasi.

Ekonom ING Bank Lynn Song menilai, langkah ini sebagai upaya PBOC menyimpan peluru untuk menghadapi ketidakpastian ke depan. “Likuiditas di pasar antarbank sudah cukup longgar, sehingga tidak perlu ditambah lagi,” ujarnya.

Namun, di balik stabilnya likuiditas, terselip pesan yang lebih dalam bahwa PBOC mulai lebih selektif dalam memberi stimulus. Sejumlah analis bahkan mulai menggeser ekspektasi penurunan suku bunga dan giro wajib minimum (RRR) ke waktu yang lebih lambat.

Ini menempatkan China pada posisi yang berbeda dibanding bank sentral global lainnya yang justru bergerak ke arah pengetatan. OECD, misalnya, kini memproyeksikan inflasi negara G20 mencapai 4% tahun ini, naik dari estimasi sebelumnya 2,8%.

Meski demikian, sinyal pengetatan dari China belum sepenuhnya terlihat. Suku bunga antarbank overnight tetap stabil di kisaran 1,3%, menandakan kondisi moneter masih relatif longgar. PBOC sendiri tetap menyebut stance kebijakannya sebagai moderat longgar.

Di sisi lain, pemerintah China tampak lebih mengandalkan kebijakan fiskal untuk menopang pertumbuhan. Bank sentral juga masih menjaga biaya pembiayaan tetap rendah guna mendukung penerbitan obligasi pemerintah.

Baca Juga: Yuan China Tembus Level Tertinggi 15 Bulan, Abaikan Sinyal Pengetatan PBOC

Yang menarik, di tengah penarikan likuiditas ini, PBOC tetap melakukan pembelian obligasi pemerintah sejak Oktober lalu. Namun, nilainya terbatas, tak lebih dari 100 miliar yuan per bulan indikasi bahwa injeksi likuiditas kini dilakukan secara lebih terukur.

Situasi ini mencerminkan dilema klasik bank sentral: menjaga pertumbuhan tanpa memicu risiko inflasi. Terlebih, pemulihan ekonomi China sejauh ini cukup solid. Data menunjukkan sektor perdagangan dan manufaktur masih bertahan bahkan setelah pecahnya konflik Iran.

Kondisi tersebut mengurangi urgensi stimulus tambahan. Namun, bukan berarti ruang pelonggaran sudah tertutup. Ekonom Mizuho Securities Serena Zhou memperkirakan pemangkasan suku bunga masih mungkin terjadi, bahkan hingga dua kali masing-masing 10 basis poin dalam waktu dekat.

Pada akhirnya, arah kebijakan PBOC akan sangat bergantung pada satu faktor kunci, permintaan domestik. Selama konsumsi dan investasi belum pulih signifikan, bank sentral masih punya alasan untuk tetap akomodatif. “Sikap PBOC tetap hati-hati. Yang terpenting adalah stabilitas suku bunga, bukan besaran likuiditas,” ujar ekonom Societe Generale Michelle Lam.

Dengan kata lain, penarikan likuiditas saat ini bukanlah sinyal pengetatan agresif, melainkan strategi menata ulang amunisi. Di tengah ketidakpastian global, fleksibilitas menjadi aset paling berharga bagi bank sentral China.

Baca Juga: Saham Stablecoin Hong Kong Turun Pasca PBOC Berencana Menindak Tegas Mata Uang Kripto


Tag


TERBARU

[X]
×