kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.990   -3,00   -0,02%
  • IDX 9.155   21,54   0,24%
  • KOMPAS100 1.262   -1,73   -0,14%
  • LQ45 891   -2,50   -0,28%
  • ISSI 335   1,14   0,34%
  • IDX30 456   0,81   0,18%
  • IDXHIDIV20 539   1,12   0,21%
  • IDX80 140   -0,30   -0,21%
  • IDXV30 149   0,73   0,49%
  • IDXQ30 146   0,28   0,20%

Bank Sentral China (PBOC) Tahan Suku Bunga Acuan untuk Kedelapan Kalinya


Selasa, 20 Januari 2026 / 08:39 WIB
Bank Sentral China (PBOC) Tahan Suku Bunga Acuan untuk Kedelapan Kalinya
ILUSTRASI. Bank Sentral China (PBOC) (REUTERS/Tingshu Wang)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bank sentral China (People’s Bank of China/PBOC) kembali mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) pada Januari 2026 untuk bulan kedelapan berturut-turut, sejalan dengan ekspektasi pasar.

Keputusan ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan moneter di Negeri Tirai Bambu belum terburu-buru melakukan pelonggaran moneter secara luas, meski sebelumnya telah meluncurkan pemangkasan suku bunga yang lebih terarah pada sektor tertentu.

Baca Juga: TV Pemerintah Iran Diretas! Pesan Putra Mahkota Gemparkan Publik

Berdasarkan data terbaru Selasa (20/1/2026), LPR tenor satu tahun tetap di level 3,00%, sementara LPR tenor lima tahun bertahan di 3,50%.

Survei Reuters terhadap 22 pelaku pasar menunjukkan seluruh responden memprediksi tidak ada perubahan pada kedua suku bunga tersebut.

Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini diambil setelah PBOC memangkas suku bunga pada instrumen kebijakan moneter struktural sebesar 25 basis poin pada pekan lalu.

Namun, langkah tersebut dinilai hanya memberikan dampak terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan pemangkasan suku bunga acuan.

PBOC sebelumnya juga menyatakan masih memiliki ruang untuk menurunkan rasio giro wajib minimum (Reserve Requirement Ratio/RRR) perbankan serta melakukan pemangkasan suku bunga yang lebih luas sepanjang tahun ini.

Secara ekonomi, China mencatat pertumbuhan 5,0% sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah.

Pertumbuhan tersebut ditopang lonjakan permintaan global terhadap barang produksi China, meski konsumsi domestik masih lemah.

Strategi ini membantu meredam dampak tarif Amerika Serikat, namun dinilai semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Tabrakan Dua Kereta Cepat di Spanyol, Sedikitnya 40 Orang Tewas

Pandangan Analis

Bank of America Securities menilai pemangkasan suku bunga yang bersifat sektoral baru-baru ini justru menurunkan kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

“Kami tetap memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang lebih komprehensif akan dilakukan pada akhir kuartal I hingga awal kuartal II,” tulis Bank of America Securities dalam risetnya.

Sementara itu, Nomura memperkirakan pemerintah China akan lebih mengandalkan kebijakan fiskal untuk mendorong permintaan dalam jangka pendek.

Lembaga tersebut tetap mempertahankan proyeksi pemangkasan suku bunga sebesar 10 basis poin dan penurunan RRR sebesar 50 basis poin pada kuartal II.

Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Terendah Sepekan, Geopolitik Picu Kembali Aksi Sell America

Nomura juga memperkirakan Beijing berpotensi meluncurkan kebijakan tambahan seperti subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) baru, meski pasar masih perlu bersabar menunggu paket kebijakan komprehensif guna menyelamatkan sektor properti yang masih tertekan.

Selanjutnya: Faktor Fundamental Memacu Laju Indeks Sektoral

Menarik Dibaca: Jadwal Daihatsu Indonesia Masters 2026, 10 Wakil Indonesia Berlaga Menuju 16 Besar




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×