Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sistem pertahanan udara NATO menghancurkan sebuah rudal Iran yang melintas menuju wilayah udara Turki, menandai pertama kalinya aliansi tersebut terseret langsung dalam konflik Timur Tengah yang kian meluas.
Insiden ini terjadi di tengah peningkatan kampanye militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, tidak ada indikasi bahwa insiden tersebut akan memicu Pasal 5 NATO tentang pertahanan kolektif.
Baca Juga: Kapal Selam AS Tenggelamkan Fregat Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 80 Tewas
Dalam pernyataannya di Pentagon Rabu (4/3/2026), Hegseth juga mengungkapkan bahwa kapal selam AS telah menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai selatan Sri Lanka.
Otoritas Sri Lanka melaporkan sedikitnya 80 orang tewas dalam insiden tersebut.
Serangan Berlanjut
AS dan Israel terus melancarkan serangan terhadap target-target di Iran. Hegseth menyebut operasi militer berjalan “lebih cepat dari rencana” dan menegaskan bahwa ini “bukan pertarungan yang adil”.
Pasar global sempat terguncang oleh eskalasi konflik. Namun, sentimen membaik setelah laporan The New York Times menyebutkan bahwa intelijen Iran diam-diam menjajaki kemungkinan dialog dengan CIA untuk mengakhiri konflik.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran menginginkan pembicaraan, tetapi menurutnya “sudah terlambat”.
Baca Juga: Apple Rilis MacBook Neo US$ 599, Tantang Chromebook dan Laptop Windows Murah
Suksesi Pemimpin Tertinggi Iran
Di tengah konflik, perhatian juga tertuju pada suksesi kepemimpinan Iran setelah pemimpin tertinggi berusia 86 tahun tewas dalam serangan udara Israel akhir pekan lalu.
Ledakan kembali terdengar di ibu kota Teheran, sementara rencana pemakaman dilaporkan ditunda.
Majelis Ahli Iran, lembaga yang berwenang memilih pemimpin tertinggi, dikabarkan segera mengumumkan pengganti.
Salah satu kandidat terkuat adalah Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin, yang disebut memiliki pengaruh besar di kalangan aparat keamanan dan jaringan bisnis negara.
Nama lain yang disebut adalah Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran yang dikenal dekat dengan faksi reformis.
Namun, sejumlah sumber menilai peluang Mojtaba lebih besar, yang dinilai akan mempertegas dominasi kelompok garis keras.
Baca Juga: Negara Teluk Diserang Ratusan Rudal dan Ribuan Drone Iran, Ini Data Lengkapnya
Konflik Meluas ke Lebanon
Militer Israel juga memperluas operasi ke Lebanon dengan menargetkan kelompok bersenjata Hezbollah.
Pasukan darat Israel dilaporkan bergerak di Lebanon selatan dan memerintahkan evakuasi wilayah di selatan Sungai Sungai Litani.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan rudal Iran yang ditembak jatuh NATO sebelumnya melintas di atas Irak dan Suriah sebelum dihancurkan. Tidak jelas target akhir rudal tersebut.
Di tengah meningkatnya tekanan militer dan ketidakpastian politik di Teheran, dunia kini menanti arah konflik sekaligus keputusan penting terkait pemimpin tertinggi baru Iran yang hanya kedua kalinya dilakukan sejak Revolusi Islam 1979.













