Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Militer Amerika Serikat (AS) pada Selasa menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut “bergerak agresif” mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk membuka kembali pembicaraan nuklir antara Teheran dan Washington.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan drone tersebut adalah tipe Shahed-139 yang terbang menuju kapal induk dengan “tujuan yang tidak jelas”. Drone itu kemudian ditembak jatuh oleh jet tempur F-35 milik Angkatan Laut AS.
“Jet tempur F-35C dari Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran sebagai tindakan bela diri untuk melindungi kapal induk dan personel di dalamnya,” ujar Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM.
Tidak ada personel militer AS yang terluka dan tidak ada peralatan yang rusak dalam insiden tersebut.
Baca Juga: Surat Utang AS: Jepang Memimpin, Eropa Borong, BRICS Justru Jual
Misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak memberikan komentar. Sementara kantor berita Tasnim milik Iran melaporkan bahwa kontak dengan sebuah drone hilang di perairan internasional, namun penyebabnya belum diketahui.
Kabar penembakan drone ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak berjangka melonjak lebih dari US$ 1 per barel setelah berita tersebut beredar, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang merupakan jalur vital pasokan energi dunia.
Insiden ini terjadi ketika para diplomat tengah berupaya mengatur pembicaraan nuklir baru antara Iran dan AS. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa dengan kapal-kapal perang AS yang bergerak mendekati Iran, “hal-hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai.
Kelompok tempur kapal induk Abraham Lincoln menjadi simbol paling nyata dari peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Pengerahan ini dilakukan setelah penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah di Iran bulan lalu, yang disebut sebagai gejolak domestik paling mematikan sejak Revolusi Iran 1979.
Baca Juga: Trump Naikkan Tekanan ke Harvard, Tuntut Ganti Rugi US$1 Miliar
Trump, yang sebelumnya menahan diri untuk tidak melakukan intervensi langsung saat kerusuhan tersebut terjadi, kini menekan Teheran agar memberikan konsesi terkait program nuklirnya.
Ia menyatakan pekan lalu bahwa Iran “sedang berbicara secara serius”, sementara pejabat keamanan tinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan bahwa pengaturan untuk negosiasi sedang berlangsung.
Kapal Iran Ganggu Tanker Berbendera AS di Selat Hormuz
Dalam insiden terpisah pada hari yang sama di Selat Hormuz, pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan mengganggu sebuah kapal dagang berbendera AS dengan awak AS.
Menurut Hawkins, dua kapal cepat IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mendekati kapal tanker M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi dan mengancam akan menaiki serta menyita kapal tersebut.
Kelompok manajemen risiko maritim Vanguard melaporkan bahwa kapal-kapal Iran memerintahkan tanker untuk menghentikan mesin dan bersiap untuk diperiksa. Namun, tanker tersebut justru meningkatkan kecepatan dan melanjutkan pelayaran.
Kapal perang Angkatan Laut AS USS McFaul yang berada di sekitar lokasi kemudian mengawal Stena Imperative hingga situasi mereda.
“Situasi berhasil diredakan dan tanker berbendera AS itu kini melanjutkan pelayaran dengan aman,” kata Hawkins.













