kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.988.000   -4.000   -0,13%
  • USD/IDR 17.017   7,00   0,04%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Serangan Iran Meluas ke Teluk, Harga Minyak Melonjak dan Risiko Global Naik


Selasa, 17 Maret 2026 / 16:00 WIB
Serangan Iran Meluas ke Teluk, Harga Minyak Melonjak dan Risiko Global Naik
ILUSTRASI. Serangan Iran ke Uni Emirat Arab memicu krisis baru. Jalur ekspor minyak vital terganggu, ancam pasokan energi global (REUTERS/Amir Cohen)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - TEL AVIV/WASHINGTON. Eskalasi konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel memasuki fase yang semakin berbahaya. Iran meluncurkan serangan baru terhadap Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa, memperluas jangkauan konflik ke negara-negara Teluk yang merupakan sekutu utama Amerika Serikat.

Langkah ini mengejutkan Presiden Donald Trump, meskipun sejumlah sumber menyebutkan bahwa risiko serangan terhadap negara-negara Teluk sebenarnya telah diperkirakan sebelum konflik dimulai.

Iran Perluas Serangan ke Negara Teluk

Enam diplomat asing di kawasan Teluk dan Timur Tengah menyatakan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara Arab Teluk sudah lama diantisipasi, terutama jika Iran diserang oleh Amerika Serikat atau Israel. Penilaian ini disebut telah dibagikan oleh berbagai pemerintah regional dan Barat.

Baca Juga: Malaysia Sebut Kesepakatan Dagang dengan AS Batal

Konflik yang kini memasuki minggu ketiga telah menewaskan sedikitnya 2.000 orang. Situasi semakin kompleks dengan tertutupnya jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi rute utama sekitar 20% distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Penutupan jalur ini memicu lonjakan harga energi global serta meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Serangan Intensif Berlanjut

Iran terus menunjukkan kemampuan militernya dengan meluncurkan rudal jarak jauh ke Israel pada malam hari, meskipun telah menghadapi serangan intensif selama lebih dari dua minggu.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan sedang menargetkan “infrastruktur rezim Iran” di Teheran, serta posisi kelompok Hezbollah di Beirut. Israel juga dilaporkan telah menyiapkan rencana perang untuk setidaknya tiga minggu ke depan.

Media Israel melaporkan bahwa militer menargetkan pejabat keamanan Iran, Ali Larijani, meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai kondisi atau nasibnya.

Kedutaan AS di Baghdad Diserang

Serangan juga menyasar fasilitas Amerika Serikat di kawasan. Kedutaan AS di Baghdad menjadi target roket dan drone dalam serangan paling intens sejak konflik dimulai. Meski demikian, pejabat AS menyatakan tidak ada korban luka sejauh ini.

Uni Emirat Arab Jadi Target Utama

Iran turut menyerang Uni Emirat Arab, menyebabkan penutupan sementara wilayah udara. Sebuah drone dilaporkan menghantam fasilitas minyak di Fujairah, pelabuhan penting ekspor minyak UEA, untuk hari kedua berturut-turut.

Baca Juga: Serangan Udara di Kabul Picu Saling Tuding Afghanistan–Pakistan, Ratusan Tewas

Serangan ini mengancam jalur ekspor minyak UEA ke pasar global dan berpotensi memperburuk krisis energi.

Pihak berwenang UEA juga melaporkan bahwa puing rudal balistik yang berhasil dicegat jatuh di Abu Dhabi, menewaskan satu warga Pakistan. Selain itu, kebakaran terjadi di ladang gas Shah akibat serangan drone.

Trump Akui Terkejut, Meski Sudah Diperingatkan

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara tetangganya—termasuk Qatar, Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Kuwait—merupakan hal yang tidak terduga.

Namun, sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump sebenarnya telah diberi pengarahan sebelum perang bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas, termasuk serangan terhadap sekutu AS di Teluk.

Selain itu, Trump juga telah diperingatkan bahwa Iran kemungkinan akan menutup Selat Hormuz sebagai respons strategis.

Belum Ada Koalisi untuk Membuka Selat Hormuz

Upaya Amerika Serikat untuk membentuk koalisi internasional guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz belum membuahkan hasil.

Beberapa negara mitra utama, seperti:

  • Jerman
  • Spanyol
  • Italia
  • Jepang
  • Australia

menyatakan belum memiliki rencana untuk mengirim kapal perang.

Baca Juga: Thailand Jajaki Impor Minyak Mentah Rusia, Targetkan Harga Solar Tetap Terkendali

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki mandat dari organisasi internasional seperti PBB, Uni Eropa, atau NATO untuk terlibat dalam operasi militer tersebut.

Iran Klaim Kekuatan Militer Masih Kuat

Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, membantah laporan bahwa negaranya kehabisan peluncur rudal.

Ia menyatakan bahwa meskipun ada tekanan militer besar, kemampuan ofensif Iran justru meningkat dalam hal pengalaman, akurasi, dan efektivitas serangan.

Harga Minyak Melonjak, Risiko Stagflasi Meningkat
Ketegangan geopolitik ini berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak melonjak lebih dari 5% pada Selasa, sementara pasar saham Asia mulai pulih setelah penurunan sebelumnya.

Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya stagflasi—situasi di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Sebagai respons, Reserve Bank of Australia kembali menaikkan suku bunga untuk bulan kedua berturut-turut guna menekan inflasi.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×