Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
SINGAPURA. Sejumlah pemerintah di berbagai negara bergerak cepat untuk membatasi dampak ekonomi dari meluasnya konflik Iran yang memicu lonjakan harga minyak global.
Harga minyak melonjak tajam pada Senin setelah beberapa produsen utama memangkas produksi dan situasi politik di Iran menandakan bahwa kelompok garis keras akan tetap memegang kendali.
Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran luas mengenai pasokan minyak global, terutama setelah jalur pelayaran penting di kawasan Teluk Persia mengalami gangguan.
Negara-Negara G7 Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak
Sebagai tanda meningkatnya kekhawatiran pemerintah dunia terhadap gangguan pasokan energi, para menteri keuangan dari kelompok negara maju G7 dijadwalkan membahas kemungkinan pelepasan bersama cadangan minyak darurat.
Sumber dari pemerintah Prancis menyebutkan bahwa langkah ini akan menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin. Kebijakan tersebut bertujuan menstabilkan pasar energi dan meredam lonjakan harga yang dapat berdampak pada konsumen global.
Korea Selatan Batasi Harga BBM
Di Asia, Korea Selatan mengambil langkah drastis dengan membatasi harga bahan bakar untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun.
Baca Juga: G7 Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak Darurat untuk Redam Lonjakan Harga Energi
Presiden Lee Jae Myung mengatakan bahwa negaranya sangat rentan terhadap krisis energi karena sekitar 70% impor minyak Korea Selatan berasal dari Timur Tengah.
Dalam rapat darurat pemerintah, Lee menyebut krisis ini sebagai:
“Beban signifikan bagi ekonomi kami yang sangat bergantung pada perdagangan global dan impor energi dari Timur Tengah.”
Ia juga memperingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik bahan bakar yang dapat memperburuk situasi.
Jepang Siapkan Pelepasan Cadangan Energi
Pemerintah Jepang juga bersiap menghadapi potensi krisis energi. Seorang anggota parlemen senior mengungkapkan bahwa pemerintah telah menginstruksikan fasilitas penyimpanan cadangan minyak nasional untuk bersiap jika diperlukan pelepasan minyak mentah ke pasar.
Namun, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang menegaskan bahwa belum ada keputusan resmi terkait pelepasan cadangan tersebut.
Jepang mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Negara itu memiliki cadangan minyak yang cukup untuk memenuhi 354 hari konsumsi domestik.
Negara Asia Ambil Langkah Penghematan Energi
Beberapa negara Asia lainnya juga mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi krisis energi:
-
Vietnam menghapus tarif impor bahan bakar guna menekan harga domestik.
-
Bangladesh menutup universitas sementara untuk menghemat listrik dan bahan bakar.
-
China meminta kilang minyak menghentikan ekspor bahan bakar dan berupaya membatalkan pengiriman yang sudah direncanakan.
Langkah-langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Baca Juga: IMF Peringatkan Risiko Inflasi Global Akibat Konflik Timur Tengah
Trump Redam Kekhawatiran Lonjakan Harga BBM
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mencoba meredam kekhawatiran publik terkait kenaikan harga bensin.
Harga bensin di AS tercatat naik 11% dalam sepekan hingga Jumat, memicu tekanan politik domestik.
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer mendesak pemerintah untuk menjual minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) guna menstabilkan harga.
Namun Trump menilai kenaikan harga tersebut hanya bersifat sementara. Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Minggu malam, ia mengatakan bahwa:
“Harga minyak jangka pendek akan turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran telah dihancurkan. Itu adalah harga yang sangat kecil untuk keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat dan dunia.”
Harga Minyak Brent Melonjak 25%
Pasar energi global mengalami gejolak besar. Harga minyak Brent melonjak hingga 25%, menandai potensi kenaikan harian terbesar dalam sejarah.
Lonjakan ini terjadi setelah produsen minyak OPEC seperti Kuwait dan Irak memangkas produksi selama akhir pekan.
Situasi semakin memburuk karena Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia, dilaporkan masih efektif tertutup. Jalur ini biasanya dilalui oleh sekitar sepertiga perdagangan minyak laut global.
Produksi Minyak Timur Tengah Terpangkas
Gangguan pasokan semakin parah setelah beberapa produsen besar di Timur Tengah mengurangi produksi:
-
Irak memangkas produksi di ladang minyak utama wilayah selatan sebesar 70% menjadi 1,3 juta barel per hari.
-
Kuwait Petroleum Corp mulai menurunkan produksi sejak Sabtu dan menyatakan kondisi force majeure.
-
Perusahaan energi Bapco Energies di Bahrain juga menyatakan force majeure setelah kilang mereka diserang.
Selain itu, Qatar, eksportir LNG terbesar kedua di dunia, telah menghentikan ekspor gas alam cair.
Analis memperkirakan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga dapat terpaksa mengurangi produksi jika penutupan Selat Hormuz terus berlangsung karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak.
Baca Juga: Konflik di Iran Memaksa Bank Sentral Ubah Arah Kebijakan Secara Drastis
Risiko “Perfect Storm” di Pasar Energi
Analis minyak senior dari Kpler, Muyu Xu, mengatakan bahwa kondisi saat ini menciptakan kombinasi faktor yang sangat berbahaya bagi pasar energi global.
Menurutnya, situasi ini merupakan:
“Semua bahan untuk badai sempurna di pasar minyak – pemangkasan produksi oleh produsen Teluk Persia, penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, serta meningkatnya pesimisme terhadap penyelesaian konflik dalam waktu dekat.”
Dampak ke Pasar Keuangan Global
Di seluruh Asia, pasar saham melemah sementara dolar AS menguat seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi akan berlangsung lama.
Sekitar 60% kebutuhan minyak Asia berasal dari Timur Tengah, sehingga kawasan ini menjadi yang paling rentan terhadap krisis energi yang dipicu konflik geopolitik tersebut.
Jika konflik terus berlanjut, para analis memperingatkan bahwa dunia berpotensi menghadapi krisis energi global baru yang dapat mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi internasional.












