Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa (13/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran, yang dinilai lebih dominan dibandingkan prospek bertambahnya pasokan minyak mentah dari Venezuela.
Melansir Reuters, harga Brent naik 28 sen atau 0,4% ke level US$64,15 per barel pada pukul 01.01 GMT, bertahan di dekat level tertinggi dua bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 28 sen atau 0,5% menjadi US$59,78 per barel, level tertinggi sejak 8 Desember yang sempat disentuh lebih awal pada sesi perdagangan.
Baca Juga: Harga Minyak Kompak Menguat di Pagi Ini (13/1), Brent Incar US$ 65 Per Barel
Iran, salah satu produsen terbesar anggota OPEC, tengah menghadapi gelombang unjuk rasa anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Situasi ini memicu peringatan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kemungkinan tindakan militer menyusul laporan kekerasan mematikan terhadap para demonstran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat seniornya pada Selasa untuk membahas berbagai opsi kebijakan terkait Iran.
Pada Senin (12/1), Trump juga menegaskan bahwa negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25% atas seluruh transaksi dagang dengan AS.
Perkembangan ini menjadi perhatian pasar minyak karena Iran merupakan produsen besar yang berada di bawah sanksi, sehingga eskalasi konflik berpotensi mengganggu pasokan global atau menambah premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Baca Juga: Bursa Asia Terbang (13/1): Nikkei Cetak Rekor Tertinggi, Pendorongnya Bukan Hanya AI
“Ketegangan di Iran telah menambah premi risiko geopolitik sekitar US$3–4 per barel pada harga minyak,” tulis Barclays dalam catatan risetnya.
Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi tambahan pasokan minyak global dari Venezuela, menyusul rencana kembalinya ekspor minyak negara tersebut.
Setelah tergulingnya Presiden Nicolas Maduro, Trump pekan lalu menyebut pemerintah di Caracas berencana menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS, dengan tetap memperhatikan rezim sanksi Barat.
Perusahaan-perusahaan perdagangan minyak global disebut menjadi pihak yang paling awal diuntungkan dalam perebutan aliran minyak Venezuela, bahkan melangkahi perusahaan energi besar asal AS.
Baca Juga: Fitch Ratings Peringatkan Risiko Tinggi pada Sekuritas Berbasis Bitcoin
Ketegangan geopolitik global juga meningkat setelah Rusia melancarkan serangan ke dua kota terbesar Ukraina pada Selasa dini hari, menurut pejabat Ukraina. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu orang di kota Kharkiv, wilayah timur laut Ukraina.
Sementara itu, di AS, pemerintahan Trump kembali melontarkan kritik terhadap Federal Reserve, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS dan menambah ketidakpastian terkait kondisi ekonomi serta prospek permintaan minyak ke depan.













