Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga rumah di Australia kembali mengalami penurunan pada Juli 2026. Pelemahan ini menjadi yang terbesar sejak Desember 2022, seiring tingginya biaya pinjaman dan kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan pajak yang semakin menekan pasar properti.
Berdasarkan data konsultan properti Cotality yang dirilis pada Senin (3/8), harga rumah secara nasional turun 0,7% pada Juli dibandingkan Juni.
Baca Juga: Konsensus Analis Memprediksi PMI Manufaktur Eropa Masih Ekspansi di Juli
Sementara itu, pertumbuhan harga secara tahunan melambat menjadi 5,3%, jauh di bawah laju pertumbuhan dua digit yang sempat tercatat pada awal tahun.
Kota Sydney dan Melbourne kembali menjadi penyumbang terbesar penurunan harga bulanan, masing-masing turun 1,4% dan 1,2%.
Dengan penurunan tersebut, harga rumah di kedua kota kini telah terkoreksi lebih dari 5% dari level puncaknya.
Pelemahan pasar juga mulai merambah kota-kota berukuran menengah. Di Perth, yang sebelumnya menikmati lonjakan harga, pertumbuhan harga rumah pada Juli nyaris tidak berubah.
Head of Research Cotality Gerard Burg mengatakan, data harga untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah, yang menunjukkan laju pelemahan pasar berlangsung lebih cepat dari perkiraan.
Baca Juga: OPEC+ Naikkan Produksi Minyak September, Rampungkan Penghapusan Pemangkasan Sukarela
"Revisi ini menunjukkan perubahan kondisi pasar yang berlangsung sangat cepat, terutama di kota-kota besar berukuran menengah," ujarnya.
Ia menambahkan, jumlah rumah baru yang ditawarkan di pasar juga mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir, terutama di Sydney.
Banyak pemilik rumah memilih menunda penjualan sambil menunggu kondisi pasar membaik.
"Kami melihat penurunan jumlah properti baru yang dipasarkan di berbagai wilayah Australia, dipimpin oleh Sydney, karena para pemilik memilih menunggu hingga kondisi pasar lebih kondusif," kata Burg.
Perlambatan pasar perumahan tersebut juga menjadi perhatian Reserve Bank of Australia (RBA).
Gubernur RBA Michele Bullock beberapa kali menyinggung melemahnya pasar properti dalam pernyataannya pekan ini.
Baca Juga: Ekonomi China Melambat, PBOC Janji Jaga Likuiditas dan Sesuaikan Kebijakan
Kondisi itu memicu spekulasi bahwa bank sentral Australia telah mengakhiri siklus kenaikan suku bunga setelah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini.
Pelemahan berkepanjangan di sektor perumahan dinilai berpotensi berdampak luas terhadap perekonomian Australia.
Pasalnya, sektor properti memiliki keterkaitan erat dengan berbagai industri lain, mulai dari jasa agen properti, konstruksi, hingga sektor perdagangan bahan bangunan.
Data terpisah dari PropTrack juga menunjukkan tren serupa. Indeks harga rumah versi PropTrack turun 0,3% pada Juli, menandai penurunan selama empat bulan berturut-turut. Di Sydney, harga rumah menurut indeks tersebut turun 0,6%.
Baca Juga: Holcim Lepas 68% Saham Bisnis di Filipina kepada Huaxin China Senilai US$527 Juta
PropTrack menilai usulan pembatasan insentif pajak bagi properti investasi telah memengaruhi kepercayaan calon pembeli.
Selain itu, tren penurunan harga yang masih berlangsung membuat sebagian pembeli memilih menunda transaksi hingga harga dinilai lebih stabil.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
