Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan tidak keberatan jika sejumlah kapal dari beberapa negara tetap melintasi Selat Hormuz untuk sementara waktu.
Langkah ini dinilai penting guna menjaga kelancaran pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah melihat semakin banyak kapal bahan bakar yang mulai kembali melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga: Dampak Serangan Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 92
Menurut dia, beberapa kapal dari Iran sudah lebih dulu keluar dari kawasan itu, disusul kapal dari India dan kemungkinan juga dari China.
"Kapal-kapal bahan bakar mulai kembali melintas. Kapal Iran sudah keluar lebih dulu, lalu kapal India, dan kami juga melihat kemungkinan kapal China ikut lewat," kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
Ia menjelaskan, arus kapal tersebut diharapkan meningkat secara bertahap sebelum kemungkinan adanya pengawalan armada atau perlindungan militer di kawasan Teluk. Pemerintah AS menilai situasi ini dapat menciptakan pembukaan jalur pelayaran secara alami.
“Untuk saat ini kami tidak masalah. Kami ingin pasokan energi dunia tetap terjaga,” ujarnya.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Serangan AS - Israel, Iran Tutup Selat Hormuz
Bessent juga menyinggung potensi kenaikan harga minyak akibat konflik dengan Iran. Menurut dia, pemerintah memiliki sejumlah opsi untuk meredam dampak terhadap pasar energi, namun langkah yang diambil akan sangat bergantung pada lamanya konflik berlangsung.
“Semua akan tergantung pada durasi konflik,” katanya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk harus melewati selat sempit ini sebelum dikirim ke berbagai negara konsumen.
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut kerap memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.













