kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.155   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.549   -44,70   -0,59%
  • KOMPAS100 1.040   -10,07   -0,96%
  • LQ45 743   -12,35   -1,63%
  • ISSI 274   -1,48   -0,54%
  • IDX30 399   -2,21   -0,55%
  • IDXHIDIV20 485   -4,24   -0,87%
  • IDX80 116   -1,48   -1,26%
  • IDXV30 139   0,33   0,24%
  • IDXQ30 128   -1,43   -1,11%

Negara Teluk Khawatir Negosiasi AS-Iran Perkuat Cengkeraman “Emas” Teheran di Hormuz


Selasa, 21 April 2026 / 11:09 WIB
Negara Teluk Khawatir Negosiasi AS-Iran Perkuat Cengkeraman “Emas” Teheran di Hormuz
ILUSTRASI. Selat Hormuz kini disebut 'aset emas' Iran, alat pengaruh baru. Bagaimana ini mengubah dinamika keamanan regional dan global secara drastis? (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Negara-negara Teluk semakin khawatir bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran hanya akan menghasilkan pembukaan kembali Selat Hormuz, tanpa mencapai deeskalasi yang lebih luas.

Kekhawatiran itu menguat setelah mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev menyebut Selat Hormuz sebagai “senjata nuklir” Iran dalam unggahannya di media sosial pada 8 April lalu.

Menurut pejabat dan analis, putaran negosiasi berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad diperkirakan akan lebih fokus pada batas pengayaan uranium Iran dan bagaimana mengelola pengaruh Teheran atas Selat Hormuz, ketimbang membahas program rudal atau kelompok proksi Iran di kawasan.

Negara-negara Teluk menilai pendekatan ini berisiko memperkuat posisi Iran atas pasokan energi Timur Tengah. Pasalnya, fokus pembicaraan dianggap lebih menekankan stabilitas ekonomi global dibanding menghapus ancaman keamanan yang dihadapi negara-negara di kawasan.

Fokus Negosiasi Bergeser

Sumber-sumber Teluk menyebut diplomasi antara AS dan Iran kini tidak lagi berfokus pada upaya membatasi program rudal Iran, tetapi lebih kepada tingkat pengayaan uranium dan penerimaan diam-diam terhadap pengaruh Iran atas Selat Hormuz.

Padahal, selat tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Negara-negara Teluk memandang situasi ini sebagai perubahan besar dalam prioritas keamanan regional.

“Pada akhirnya, Hormuz akan menjadi garis merah,” kata salah satu sumber Teluk yang dekat dengan lingkaran pemerintah.

“Dulu ini bukan isu utama. Sekarang iya. Patokannya sudah bergeser,” tambahnya.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tipis, Pasar Menanti Peluang Perundingan Damai AS-Iran

Ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Teluk selama perang telah mematahkan tabu lama terkait penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan. Kini, gangguan terhadap jalur tersebut menjadi instrumen negosiasi yang realistis untuk pertama kalinya.

Selat Hormuz Disebut “Aset Emas” Iran

Dalam unggahan di platform X, Medvedev mengatakan belum jelas bagaimana gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan berkembang. Namun, menurutnya, satu hal yang pasti adalah Iran telah “menguji senjata nuklirnya”, yakni Selat Hormuz.

Pernyataan itu menggambarkan Hormuz sebagai alat pengaruh yang memungkinkan Iran meningkatkan biaya dan membentuk aturan tanpa harus benar-benar menggunakan senjata nuklir.

Sumber keamanan Iran bahkan menggambarkan Selat Hormuz sebagai “aset emas” yang tidak ternilai dan berasal dari posisi geografis Iran.

“Iran telah mempersiapkan selama bertahun-tahun untuk skenario penutupan Selat Hormuz, merencanakan setiap langkah,” kata seorang sumber keamanan senior Iran.

“Hari ini, itu menjadi salah satu alat paling efektif Iran dan bentuk pengaruh geografis yang sangat kuat,” terangnya.

Sumber lain yang dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps menyebut Selat Hormuz kini ibarat pedang yang sudah terhunus dan tidak bisa lagi diabaikan oleh AS maupun negara-negara kawasan.

Negara Teluk Merasa Dikesampingkan

Yang paling mengkhawatirkan bagi negara-negara Teluk adalah fakta bahwa meskipun rudal, drone, dan kelompok proksi Iran berulang kali menyerang kawasan mereka, pembicaraan internasional justru lebih banyak difokuskan pada Selat Hormuz karena dampaknya terhadap ekonomi global.

Presiden Emirates Policy Center, Ebtesam Al-Ketbi, menilai kondisi saat ini menunjukkan ketimpangan antara pihak yang menentukan aturan dan pihak yang harus menanggung akibat ketika aturan tersebut dilanggar.

“Apa yang terbentuk hari ini bukanlah penyelesaian bersejarah, tetapi rekayasa konflik yang berkelanjutan,” ujar Al-Ketbi.

Ia menambahkan bahwa ancaman utama bagi negara-negara Teluk sebenarnya bukan hanya Hormuz, tetapi juga rudal dan kelompok proksi Iran yang selama ini menyerang kawasan.

Negara Teluk Tolak Pelonggaran Sanksi Penuh

Para diplomat mengatakan negara-negara Teluk telah mendesak Washington agar tidak memberikan pelonggaran sanksi penuh kepada Iran. Mereka lebih memilih pendekatan bertahap untuk menguji perilaku Teheran.

Menurut mereka, ancaman utama Iran masih belum terselesaikan, terutama rudal yang dapat menjangkau ibu kota negara-negara Teluk serta kelompok proksi bersenjata yang digunakan Iran untuk memperluas pengaruhnya.

Baca Juga: Iran Pertimbangkan Hadiri Perundingan Damai dengan AS di Pakistan

Konflik antara AS dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari juga telah memukul ekonomi negara-negara Teluk. Serangan terhadap infrastruktur energi, kenaikan biaya ekspor, hingga premi asuransi yang lebih tinggi menjadi dampak langsung yang mereka rasakan.

Ketergantungan pada AS Dinilai Memiliki Batas

Meski negara-negara Teluk mengakui kekuatan militer AS masih menjadi faktor penentu utama di kawasan, mereka mulai menyadari bahwa ketergantungan pada satu pelindung eksternal memiliki keterbatasan.

Akademisi asal Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, mengatakan negara-negara Teluk mampu bertahan dalam perang berkat sistem pertahanan canggih buatan AS seperti THAAD dan Patriot.

Namun, ia menilai AS tetap bisa salah perhitungan, termasuk dalam meremehkan kemungkinan konflik di Selat Hormuz.

Direktur pusat riset berbasis di Dubai, B’huth, Mohammed Baharoon, mengatakan salah satu pelajaran penting dari perang ini adalah bahwa negara-negara Teluk tidak bisa hanya bergantung pada satu kekuatan eksternal.

Kini, saat Washington dan Teheran melanjutkan negosiasi, para pejabat Teluk menilai pengucilan mereka dari proses pembicaraan bukan lagi sekadar masalah regional, tetapi isu global mengingat pentingnya Selat Hormuz bagi perekonomian dunia.




TERBARU

[X]
×