Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham China dan Hong Kong ditutup menguat pada Selasa (14/4/2026), ditopang optimisme pelaku pasar terhadap kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat (as) dan Iran.
Sentimen positif ini mampu menahan kekhawatiran atas melemahnya kinerja ekspor China pada Maret.
Indeks utama di kawasan mencatat kenaikan solid. Indeks blue-chip CSI300 naik 1,2%, sementara Shanghai Composite menguat 1%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng juga ditutup naik 0,8%.
Harapan bahwa pembicaraan AS-Iran akan berlanjut menjadi katalis utama penguatan pasar.
Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Siap Listing Saham di Bursa Efek Hong Kong
Sejumlah sumber menyebutkan, tim negosiasi kedua negara berpotensi kembali bertemu di Islamabad pekan ini, setelah perundingan sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan.
Di tengah sentimen tersebut, saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sektor terkait emas menjadi motor penggerak pasar. Saham AI di bursa domestik China melonjak 2,2%, diikuti saham semikonduktor yang naik 2,6%.
Selain itu, saham logam non-ferrous menguat 2%, sementara saham material yang tercatat di luar negeri naik 2,1%. Raksasa teknologi yang diperdagangkan di Hong Kong juga mencatat kenaikan moderat sebesar 0,6%.
Meski demikian, tekanan masih membayangi dari sisi fundamental. Kinerja ekspor China dilaporkan melambat pada Maret, seiring dampak konflik di Timur Tengah yang memicu gejolak energi dan menghambat permintaan global.
Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Anjlok, Sentimen Merosot Usai Wall Street Terpuruk
Kondisi ini menjadi tantangan bagi upaya Beijing menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
Strategis ekuitas China dari UBS, Meng Lei, melihat aliran dana baru ke pasar saham domestik akan banyak berasal dari ETF, dana leverage, private fund, serta dana asuransi. Ia menyarankan investor untuk tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Dalam jangka pendek, sebaiknya alokasi tetap seimbang antara saham growth dan value, serta antara kapitalisasi besar dan kecil,” ujarnya.
Namun, ketika pasar mulai stabil, Meng menilai saham growth dan siklikal berpotensi lebih unggul. Ia menyebut prospek kenaikan harga produsen (PPI) dan perbaikan laba industri dapat menjadi pendorong bagi sektor siklikal.
Baca Juga: Harga Minyak Turun di Tengah Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran dan Gangguan Pasokan
Di level saham individu, Pop Mart melonjak 6,5% setelah investor kawakan Duan Yongping mengisyaratkan ketertarikannya terhadap saham tersebut melalui unggahan di media sosial.













