Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Bursa saham Korea Selatan ditutup melemah di perdagangan awal pekan ini, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan untuk mengakhiri perang. Namun, indeks utama berhasil memangkas koreksi awal karena investor dengan hati-hati menilai risiko geopolitik.
Senin (13/4/2026), indeks acuan KOSPI ditutup turun 50,25 poin atau 0,86% ke posisi 5.808,62, setelah sebelumnya turun lebih dari 2% pada awal sesi perdagangan.
Sentimen bagi bursa saham Korea Selatan datang setelah militer AS mengatakan akan memulai blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran pada hari ini, setelah pembicaraan akhir pekan gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang, yang membahayakan gencatan senjata dua minggu yang rapuh.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok: Waspada Tekanan Dolar AS dan Minyak Kembali ke US$ 100!
"Ada kecemasan, tetapi juga ada harapan, karena Iran, Israel, dan AS akan kehilangan banyak hal jika perang berlanjut. Pasar akan berada di ambang ketidakpastian dengan harapan dan kekhawatiran saat bersiap untuk musim laporan keuangan," kata Seo Sang-young, analis di Mirae Asset Securities.
Di antara saham-saham unggulan, saham produsen chip Samsung Electronics anjlok 2,43%. Sementara, saham SK Hynix naik 1,27%. Dan saham produsen baterai LG Energy Solution turun 2,55%.
Saham Hyundai Motor dan perusahaan saudaranya, Kia, masing-masing turun 2,25% dan 1,07%. Produsen baja POSCO Holdings turun 2,44%, dan saham perusahaan farmasi Samsung BioLogics turun 1,34%.
Dari total 910 saham yang diperdagangkan, 346 naik dan 525 turun.
Investor asing melakukan penjualan bersih senilai 456,2 miliar won atau setara US$ 306,2 juta.
Baca Juga: Impor Minyak Sawit India Turun 19% pada Maret 2026, Tertekan Lonjakan Harga Global
Won dikutip pada 1.489,2 per dolar AS di platform penyelesaian domestik, 0,38% di bawah penutupan Jumat di 1.483,5.
Imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan bertenor tiga tahun yang paling likuid naik 3,2 basis poin menjadi 3,388%, dan imbal hasil obligasi acuan bertenor 10 tahun naik 3,3 basis poin menjadi 3,720%.













