Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks saham Nikkei Jepang jatuh sekitar 5% pada Senin (30/3/2026), menghapus seluruh keuntungan tahun ini dalam aksi jual luas, sementara imbal hasil obligasi acuan menembus level tertinggi 27 tahun, seiring memburuknya perang Timur Tengah yang memicu kekhawatiran stagflasi.
Melansir Reuters, Indeks Nikkei turun 4,8% ke 50.786,64 setelah sempat jatuh 5,3% di sesi pagi, dan menuju penurunan bulanan terbesar sejak krisis keuangan global 2008 dengan penurunan 13,6%. Indeks Topix yang lebih luas melemah 4,5% ke 3.486,86.
Baca Juga: Emas Dunia Turun Lebih dari 1% Senin (30/3) Pagi, Serangan Houthi Dorong Harga Minyak
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik ke 2,390%, level yang terakhir terlihat pada Februari 1999. Imbal hasil bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.
“Pasar kini mungkin khawatir tidak hanya terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi akibat situasi Timur Tengah, tetapi juga potensi resesi. Artinya, pertumbuhan negatif, bukan sekadar perlambatan biasa,” kata Shingo Ide, kepala strategi ekuitas di NLI Research Institute.
Yen diperdagangkan di atas level penting 160 per dolar, tertekan oleh perang yang telah berlangsung sebulan di Iran.
Dalam ringkasan pendapat dari pertemuan kebijakan terbaru Bank of Japan, salah satu anggota menyatakan bahwa harga minyak yang melonjak dan yen yang melemah bisa mendorong inflasi naik tajam.
Baca Juga: Dolar Menguat Senin (30/3), Risiko Perang Panjang di Timur Tengah Tekan Sentimen
Pada akhir pekan lalu, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan pertama mereka ke Israel sejak dimulainya perang AS-Israel dengan Iran, mendorong harga minyak naik.
Pakistan menyatakan sedang mempersiapkan “pembicaraan bermakna” untuk mengakhiri konflik dengan Iran dalam beberapa hari mendatang, meski Teheran menyatakan siap menanggapi jika AS melancarkan serangan darat.
Di pasar saham, hanya satu saham yang menguat di Nikkei dibanding 223 saham yang melemah. Konglomerat teknologi SoftBank Group memimpin penurunan dengan rugi 9%, diikuti produsen alat uji chip Advantest yang turun 6,7%, memberikan tekanan terbesar pada indeks utama.
Baca Juga: Tanker Rusia Dekati Kuba Saat Trump Longgarkan Blokade Minyak
Di pasar obligasi, imbal hasil dua tahun, yang paling sensitif terhadap suku bunga BOJ, turun 1,5 basis poin menjadi 1,36%.
Imbal hasil lima tahun turun 1 basis poin ke 1,805%, sementara imbal hasil 30 tahun naik 4 basis poin ke 3,740%.













