Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bond/JGB) melonjak tajam pada perdagangan Selasa (13/1/2026), dipicu spekulasi bahwa pemilihan umum dini berpotensi memberi mandat kuat kepada Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menjalankan kebijakan stimulus fiskal agresif.
Lonjakan imbal hasil terjadi setelah pasar domestik Jepang kembali dibuka usai libur panjang akhir pekan.
Pasar merespons laporan mengenai kemungkinan pemilu dini yang juga memicu pelemahan nilai tukar yen.
Baca Juga: Nasib Samsung dan Micron Terancam: SK Hynix Perkuat Monopoli Chip AI
Melansir Reuters, imbal hasil JGB tenor 20 tahun naik 8 basis poin (bps) menjadi 3,135%, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun melonjak 9,5 bps ke level 3,495%.
Adapun imbal hasil obligasi acuan 10 tahun meningkat 4,5 bps menjadi 2,135%, level tertinggi sejak Februari 1999. Perlu dicatat, pergerakan imbal hasil obligasi berlawanan arah dengan harga.
Kenaikan imbal hasil jangka panjang telah berlangsung sejak awal November lalu dan terus mencetak rekor baru, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap besarnya rencana stimulus fiskal yang diperkirakan akan digulirkan pemerintahan Takaichi.
Sementara itu, imbal hasil jangka pendek juga berada di bawah tekanan naik setelah Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga kebijakan dan memberi sinyal bahwa pengetatan moneter masih akan berlanjut.
Media domestik Jepang melaporkan bahwa Takaichi tengah mempertimbangkan pelaksanaan pemilu pada Februari mendatang, kemungkinan yang semakin menguat setelah pernyataan pimpinan partai mitra koalisi pemerintah pada Minggu lalu.
Baca Juga: Dolar AS Berfluktuasi Selasa (13/1) Pagi, Dibayangi Sentimen Independensi The Fed
Ekonom Barclays Naohiko Baba dan Takashi Onoda menilai, selama masa kampanye, kekhawatiran terhadap ekspansi fiskal berpotensi terus menekan imbal hasil obligasi jangka panjang.
“Jika kekhawatiran terhadap belanja fiskal meningkat selama kampanye, imbal hasil jangka panjang kemungkinan akan terus berada di bawah tekanan naik, setidaknya untuk sementara waktu,” tulis mereka.
Namun demikian, mereka juga mengingatkan bahwa pelemahan yen dan kenaikan imbal hasil jangka panjang pada akhirnya bisa membatasi ruang gerak pemerintah Takaichi dalam menjalankan kebijakan fiskal yang terlalu ekspansif.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Jepang tenor lima tahun tercatat naik 4 bps ke level 1,595%.













