Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGB) melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga dekade pada hari perdagangan pertama tahun 2026. Kenaikan ini dipicu ekspektasi pasar terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ).
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 2,125%, level tertinggi sejak Februari 1999. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun meningkat 2,5 basis poin ke 1,195%, tertinggi sejak Agustus 1996, berdasarkan data Japan Bond Trading.
Analis menilai lonjakan imbal hasil mencerminkan kekhawatiran investor bahwa suku bunga acuan BOJ pada akhirnya bisa melampaui konsensus pasar sebesar 1,5%, terutama karena yen masih melemah terhadap dolar AS.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS 10 Tahun Naik di Sesi Terakhir November
“Investor melihat risiko suku bunga terminal BOJ bisa lebih tinggi dari perkiraan pasar, sementara yen tetap lemah,” ujar Naoya Hasegawa, analis strategi obligasi senior di Okasan Securities.
Pelemahan yen dinilai meningkatkan biaya impor dan mendorong inflasi, sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan.
Meski demikian, Gubernur BOJ Kazuo Ueda belum memberi sinyal jelas mengenai waktu pengetatan berikutnya, setelah bank sentral menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 0,75% dari 0,5% pada bulan lalu.
Kenaikan imbal hasil juga terjadi pada tenor lain. Imbal hasil obligasi lima tahun naik 5,5 basis poin ke 1,6%, tertinggi sejak Juni 2007. Imbal hasil obligasi 20 tahun meningkat 5 basis poin menjadi 3,305%, sementara tenor 30 tahun naik 5 basis poin ke 3,455%.
Menurut Eiichiro Miura, manajer umum senior investasi di Nissay Asset Management, pasar masih kesulitan menemukan level imbal hasil yang wajar.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Turun 88% ytd, Purbaya: Beban Bunga Utang Lebih Murah
“Kenaikan imbal hasil terjadi sangat cepat, sehingga investor sulit masuk membeli obligasi saat terjadi koreksi,” ujarnya.
Di sisi kebijakan fiskal, pemerintah Jepang memutuskan untuk mengurangi penerbitan obligasi berjangka sangat panjang pada tahun fiskal berikutnya, serta menahan peningkatan penerbitan obligasi acuan tenor 10 tahun.
Langkah ini bertujuan meredam kekhawatiran kelebihan pasokan di pasar obligasi.
Miura menilai pergerakan imbal hasil terbaru menjadi sinyal perlunya langkah lanjutan dari pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.













