Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran justru mengubah bursa kripto menjadi barometer risiko global akhir pekan ini. Saat pasar tradisional tutup, platform perdagangan 24 jam seperti Hyperliquid dibanjiri transaksi komoditas dan indeks saham berbasis kontrak perpetual (perps).
Kontrak perpetual minyak di Hyperliquid melonjak sekitar 5% ke US$ 70,6 per barel. Sementara itu, emas dan perak masing-masing naik 1,3% dan 2% menjadi US$ 5.323 dan US$ 94,9 per troy ounce. Lonjakan ini mencerminkan respons cepat investor terhadap eskalasi konflik, sekaligus memberi gambaran awal sentimen pasar sebelum perdagangan reguler dibuka kembali pada Senin.
Di pasar kripto, Bitcoin sempat terkoreksi sebelum berbalik naik hingga 2,3% ke kisaran US$ 67.000 pada perdagangan sore di New York. Ether juga menguat 2,4% ke level US$ 1.968. Pergerakan ini menunjukkan kripto kembali berfungsi sebagai aset lindung nilai jangka sangat pendek ketika pasar lain belum beroperasi.
Perak menjadi kontrak komoditas paling aktif di Hyperliquid dengan volume lebih dari US$ 227 juta dalam 24 jam terakhir. Kontrak emas mencatatkan transaksi sekitar US$ 173 juta. Sebaliknya, indeks saham AS berbasis perps di platform tersebut turun 0,4%–0,75%, mengindikasikan sentimen risk-off terhadap aset ekuitas.
Baca Juga: Tether Bekukan US$4,2 Miliar Stablecoin Terkait Kasus Kejahatan
Perps merupakan derivatif khas kripto yang menyerupai kontrak berjangka tetapi tanpa jatuh tempo. Instrumen ini memungkinkan investor memegang posisi leverage tanpa batas waktu, menjadikannya sarana populer untuk mengekspresikan pandangan makro secara instan tanpa menunggu proses kliring seperti di pasar konvensional.
Eskalasi konflik menjadi pemicu utama. AS dan Israel menyerang sejumlah target di Iran, yang kemudian membalas dengan serangan rudal ke beberapa lokasi di Israel dan kawasan Teluk. Presiden Donald Trump bahkan mendesak rakyat Iran menggulingkan pemerintahnya, memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.
Fenomena ini menegaskan pergeseran fungsi bursa kripto. Jika sebelumnya hanya menjadi arena spekulasi aset digital, kini platform seperti Hyperliquid mulai diposisikan sebagai “pasar darurat” global ketika Wall Street tutup. Meski demikian, secara nominal volume transaksi masih jauh di bawah pasar komoditas dan ekuitas konvensional.
Di sisi lain, tren tokenisasi aset tradisional, seperti saham dan obligasi kian dipercepat oleh institusi keuangan global. Integrasi aset riil ke dalam infrastruktur blockchain dinilai dapat membuka jalan menuju perdagangan lintas kelas aset selama 24 jam penuh.
Namun, pertanyaannya, apakah infrastruktur kripto siap menopang arus transaksi institusional dalam skala besar? Lonjakan akhir pekan ini mungkin menjadi uji coba alami. Jika volatilitas terus tinggi dan investor global semakin membutuhkan lindung nilai tanpa jeda waktu, tekanan terhadap pasar tradisional untuk beradaptasi bisa makin kuat.
Baca Juga: Hakim AS Tolak Permintaan Arbitrase Binance, Gugatan Nasabah Kripto Tetap Jalan













