Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar AS bertahan di level stabil pada Senin (30/3/2026), dan berpotensi mencatat kenaikan bulanan terkuat sejak Juli, di tengah kekhawatiran investor atas dampak perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Tekanan itu mendorong yen melemah menembus level krusial 160, memicu spekulasi intervensi mata uang.
Melansir Reuters, pasar terguncang bulan ini setelah konflik efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting sekitar 20% aliran minyak dan gas global, sehingga mendorong harga Brent menuju kenaikan bulanan terbesar sekaligus mengguncang ekspektasi suku bunga global.
Baca Juga: Tanker Rusia Dekati Kuba Saat Trump Longgarkan Blokade Minyak
Perang yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah meluas ke wilayah Timur Tengah.
Kekhawatiran tentang operasi darat dan masuknya kelompok Houthi yang pro-Iran di Yaman pada Sabtu (28/3/2026) semakin menekan sentimen.
Pakistan menyatakan tengah mempersiapkan "perundingan bermakna" untuk mengakhiri konflik dalam beberapa hari mendatang, meski Teheran menegaskan siap merespons jika AS melancarkan operasi darat.
Kondisi ini membuat dolar AS lebih menguat, karena investor mencari aset aman. Euro diperdagangkan di level US$1,1512, menuju penurunan 2,5% untuk Maret, mencatatkan pelemahan bulanan terburuk sejak Juli.
Sterling berada di US$1,32585, relatif stabil pada hari ini tetapi diproyeksikan turun 1,7% sepanjang bulan ini.
Indeks dolar AS, yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama, tercatat di 100,14 pada awal perdagangan.
Baca Juga: Yen Melemah ke 160 per Dolar, Jepang Siap Ambil Langkah Tegas
Yen Melemah Kembali Menjadi Sorotan
Yen Jepang sedikit menguat ke 159,97 per dolar setelah sempat menyentuh 160,47, level terlemah sejak Juli 2024 saat Tokyo terakhir kali melakukan intervensi pasar.
Otoritas Jepang siap mengambil langkah “tegas” jika pergerakan spekulatif terus berlanjut di pasar valuta asing, kata diplomat senior mata uang Atsushi Mimura pada Senin.
Yen juga mendapat dukungan setelah Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyatakan, bank sentral memantau pergerakan nilai tukar secara ketat, menegaskan dampaknya terhadap pertumbuhan dan inflasi.
"Penurunan yen baru-baru ini kami nilai lebih karena fundamental daripada spekulasi," kata para ahli strategi di Commonwealth Bank of Australia. "Intervensi pasar langsung akan dengan cepat menurunkan USD/JPY beberapa yen."
Baca Juga: Bursa Asia Rontok Senin (30/3) Pagi, Harga Minyak Brent Menuju Rekor Kenaikan Bulanan
Mata uang lain juga melemah. Dolar Australia turun 0,3% ke US$0,6851, menuju penurunan bulanan 3,8%, terburuk sejak Desember 2024.
Dolar Selandia Baru melemah 0,4% menjadi US$0,57275, turun 4,4% sepanjang Maret.













