Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, bersiap mencatatkan sejarah baru di pasar modal global. Menjelang dimulainya roadshow kepada investor, SpaceX dikabarkan berencana menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar US$135 per saham untuk menghimpun dana hingga US$75 miliar.
Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui rencana tersebut, SpaceX akan menawarkan sekitar 555,6 juta saham kepada publik. Dengan skema tersebut, perusahaan membidik valuasi fantastis sebesar US$1,75 triliun, menjadikannya salah satu perusahaan dengan nilai pasar terbesar saat melantai di bursa.
Langkah ini diperkirakan akan membuka jalan bagi gelombang IPO perusahaan teknologi besar lainnya, termasuk pengembang kecerdasan buatan OpenAI dan Anthropic, setelah beberapa tahun aktivitas IPO perusahaan besar relatif lesu.
Strategi IPO Tidak Lazim
SpaceX memilih pendekatan yang tidak biasa dengan menetapkan harga saham tetap sebelum presentasi kepada investor dan proses bookbuilding berlangsung.
Dalam praktik umum, perusahaan yang akan melakukan IPO biasanya menetapkan kisaran harga untuk memberi ruang penyesuaian berdasarkan minat investor. Jika permintaan tinggi, harga akhir dapat berada di batas atas kisaran atau bahkan lebih tinggi saat debut di pasar.
Baca Juga: Serangan Rudal Iran Hantam Bandara Kuwait, Penerbangan Dialihkan
Roadshow SpaceX dijadwalkan dimulai pada Kamis pekan ini. Sebelumnya, perusahaan telah mengadakan sejumlah pertemuan awal dengan investor untuk mengukur minat pasar.
Meski demikian, sumber yang mengetahui proses tersebut mengingatkan bahwa ukuran penawaran dan target dana yang dihimpun masih dapat berubah seiring berlangsungnya pertemuan dengan investor.
Mitra senior firma hukum Wilson Sonsini Goodrich & Rosati di Hong Kong, Weiheng Chen, menilai tidak ada aturan yang melarang strategi penetapan harga tetap seperti yang dilakukan SpaceX.
"Musk hanya mengambil pendekatan 'ambil atau tinggalkan', yang bekerja efektif bagi para pengikutnya dan juga masuk akal mengingat kondisi pasar serta minimnya perusahaan pembanding," ujar Chen.
Ambisi Mars hingga Pusat Data AI di Luar Angkasa
Elon Musk juga disebut mengubah banyak aspek dalam proses IPO SpaceX. Mulai dari rencana memberikan porsi alokasi lebih besar kepada investor ritel, mendorong masuknya saham ke indeks pasar lebih cepat, hingga mempertahankan kontrol kuat pendiri terhadap perusahaan.
Valuasi SpaceX saat ini sangat bergantung pada keyakinan bahwa perusahaan mampu mendominasi berbagai teknologi dan pasar masa depan yang masih dalam tahap pengembangan, mulai dari misi ke Mars hingga pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa SpaceX mempertimbangkan mengalokasikan hingga 30% saham IPO kepada investor individu. Porsi tersebut tergolong besar untuk ukuran IPO dan ditujukan untuk memanfaatkan basis penggemar Elon Musk yang sangat loyal sekaligus memperluas kepemilikan publik.
IPO ini juga dirancang sebagai penawaran saham primer sepenuhnya (all-primary offering), sehingga seluruh dana hasil penjualan saham akan masuk ke perusahaan. Pemegang saham lama SpaceX tidak akan menjual saham mereka dalam IPO tersebut.
Selain itu, Musk diwajibkan menahan kepemilikan saham SpaceX miliknya selama 366 hari setelah IPO. Ketentuan ini dinilai sebagai sinyal komitmen jangka panjang kepada investor.
Dana hasil IPO akan digunakan antara lain untuk memperluas kapasitas komputasi AI serta mengembangkan jaringan satelit SpaceX.
Baca Juga: AS Usulkan Tarif Baru untuk 60 Negara, Indonesia Masuk Daftar
Sinergi dengan xAI dan Tantangan Valuasi
Awal tahun ini, SpaceX bergabung dengan perusahaan kecerdasan buatan milik Musk, xAI, dalam transaksi yang menilai SpaceX sebesar US$1 triliun dan xAI sebesar US$250 miliar.
Namun, para analis menilai valuasi SpaceX masih menjadi perdebatan karena perusahaan tidak memiliki pesaing langsung yang sebanding.
Dalam catatan riset tertanggal 1 Juni, Morningstar memperkirakan nilai SpaceX hanya sekitar US$780 miliar, atau 48% lebih rendah dibanding valuasi pasar privat saat ini. Sebagian besar nilai tersebut berasal dari bisnis komunikasi satelit Starlink yang menjadi sumber utama pendapatan, laba, dan pertumbuhan perusahaan sepanjang tahun lalu.
Di sisi lain, prospek pertumbuhan SpaceX kini semakin dikaitkan dengan sektor AI. Perusahaan mengandalkan berbagai teknologi yang belum dibangun sepenuhnya, termasuk pusat data tenaga surya di luar angkasa, untuk menggarap pasar potensial senilai US$28,5 triliun.
Dengan valuasi US$1,75 triliun dan pendapatan tahun 2025 sebesar US$18,67 miliar, SpaceX diperdagangkan pada rasio harga terhadap pendapatan (price-to-revenue ratio) sekitar 93,7 kali.
Sebagai perbandingan, Rocket Lab diperdagangkan pada rasio sekitar 118 kali, Palantir Technologies sekitar 81 kali, sementara Tesla hampir 17 kali.
Meski demikian, SpaceX tidak dapat dinilai menggunakan rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) karena perusahaan masih mencatatkan kerugian bersih pada tahun lalu.
Gelombang IPO Raksasa
IPO SpaceX diperkirakan menjadi awal dari gelombang IPO perusahaan teknologi bernilai jumbo. Bersama OpenAI dan Anthropic, ketiga perusahaan tersebut berpotensi menambah hampir US$4 triliun kapitalisasi pasar baru ke bursa saham global.
Bagi banyak investor, daya tarik utama bukan hanya bisnis SpaceX, melainkan juga figur Elon Musk. Rekam jejaknya dalam membangun Tesla serta kemampuannya menarik minat investor ritel diyakini dapat mendorong tingginya permintaan saham.
Baca Juga: DeepSeek Raup Dana US$ 7,4 Miliar, Tencent dan CATL Jadi Investor Utama
Craig Coben, mantan kepala bersama pasar modal global Asia-Pasifik Bank of America, mengatakan pendekatan SpaceX mencerminkan posisi unik perusahaan tersebut.
"Ketika Anda menjadi IPO yang paling dinantikan sepanjang masa, Anda dapat meminta investor menyesuaikan diri dengan proses yang Anda tetapkan, bukan sebaliknya," kata Coben.
Risiko Tetap Membayangi
Meskipun memiliki prospek besar, tidak semua lini bisnis SpaceX menghasilkan keuntungan. Dari tiga unit bisnis utama perusahaan, hanya segmen konektivitas yang menaungi konstelasi satelit Starlink yang saat ini menghasilkan laba dan menjadi sumber kas utama perusahaan.
Pendapatan SpaceX meningkat menjadi US$4,69 miliar pada kuartal pertama yang berakhir 31 Maret 2026, dibandingkan US$4,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kerugian per saham melebar menjadi US$1,27 dari sebelumnya US$0,18 per saham. Secara tahunan, perusahaan berbalik mencatat rugi bersih US$4,94 miliar pada 2025, setelah membukukan laba US$791 juta pada tahun sebelumnya.
Sejumlah pakar tata kelola perusahaan juga menyoroti struktur pengendalian perusahaan. Prospektus IPO menunjukkan adanya struktur saham dua kelas (dual-class share structure) yang memberikan kekuatan suara lebih besar kepada Elon Musk dan sekelompok kecil orang dalam perusahaan.
SpaceX berencana mencatatkan sahamnya di bursa Nasdaq dengan kode perdagangan SPCX. Debut perdagangan diperkirakan berlangsung pada 12 Juni mendatang.
IPO ini akan ditangani oleh sejumlah bank investasi global terkemuka, yakni Goldman Sachs, Morgan Stanley, BofA Securities, Citigroup, dan J.P. Morgan sebagai joint book-running managers.












