Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, berencana mempertahankan kendali kuat pendirinya setelah melantai di bursa. Dalam dokumen IPO rahasia yang diajukan bulan ini, SpaceX disebut akan memberikan saham dengan hak suara super kepada Musk dan sejumlah kecil orang dalam perusahaan.
Struktur saham ganda tersebut membuat pemegang saham Kelas B memiliki 10 hak suara per saham, sedangkan saham Kelas A yang dijual ke publik hanya memiliki satu hak suara per saham. Dengan skema ini, Musk dan lingkaran dekatnya akan tetap memegang kendali atas arah perusahaan meski sudah menjadi emiten publik.
Setelah IPO rampung, Musk akan tetap menjabat sebagai CEO, Chief Technology Officer, sekaligus ketua dewan direksi SpaceX yang beranggotakan sembilan orang. Meskipun gaji resminya tahun lalu hanya sebesar US$ 54.080, Musk diperkirakan akan memperoleh miliaran dolar dari kepemilikan sahamnya setelah perusahaan tercatat di pasar saham.
IPO Berpotensi Jadi yang Terbesar dalam Sejarah
SpaceX menargetkan valuasi sekitar US$ 1,75 triliun dan berencana menghimpun dana hingga US$ 75 miliar. Jika tercapai, penawaran saham perdana ini akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah, melampaui rekor sebelumnya milik Saudi Aramco pada 2019.
Baca Juga: Penipuan Berkedok Izin Lintas Selat Hormuz Marak, Kapal Diminta Bayar Kripto
Sebagai bagian dari persiapan IPO, sejumlah eksekutif SpaceX dijadwalkan menggelar pertemuan selama tiga hari dengan analis Wall Street. Agenda tersebut dimulai dengan tur ke fasilitas peluncuran Starbase milik SpaceX di Texas dan presentasi bisnis kepada calon investor.
Kinerja Keuangan SpaceX dan Beban Investasi AI
Dokumen IPO juga mengungkap kondisi keuangan SpaceX setelah perusahaan bergabung dengan bisnis kecerdasan buatan dan media sosial milik Musk, yakni xAI.
Perusahaan gabungan itu menutup tahun 2025 dengan kas sekitar US$ 24,8 miliar. Total asetnya mencapai US$ 92 miliar, sedangkan total liabilitas berada di level US$ 50,8 miliar.
Meski bisnis internet satelit Starlink mencetak keuntungan miliaran dolar, SpaceX tetap membukukan rugi konsolidasi sebesar US$ 4,94 miliar pada 2025 dengan pendapatan US$ 18,67 miliar. Kerugian ini terjadi akibat lonjakan investasi besar-besaran pada infrastruktur AI xAI. Sebagai perbandingan, perusahaan sebelumnya mencatat laba US$ 791 juta pada 2024.
Belanja modal SpaceX melonjak hampir lima kali lipat dalam dua tahun menjadi US$ 20,74 miliar pada 2025, dengan lebih dari separuhnya dialokasikan untuk pengembangan AI. Sementara itu, Starlink menghasilkan laba operasional sekitar US$ 4,42 miliar, tetapi hanya menyumbang kurang dari seperempat dari total belanja modal perusahaan.
Baca Juga: Dampak Konflik Jalur Selat Hormuz Terhenti, India Putar Haluan Impor Minyak.
Hak Investor Publik Lebih Terbatas
Selain struktur saham super-voting, dokumen IPO juga mencantumkan sejumlah ketentuan yang membatasi kemampuan investor publik untuk mempengaruhi pemilihan dewan direksi atau menggugat perusahaan secara hukum.
Sengketa antara pemegang saham dan perusahaan nantinya sebagian besar akan diarahkan ke arbitrase, serta dibatasi hanya dapat diajukan di lokasi tertentu. Struktur seperti ini memang umum digunakan perusahaan teknologi yang dipimpin pendiri, tetapi sekaligus membatasi pengaruh investor publik terhadap strategi dan manajemen perusahaan.
Beberapa analis menilai valuasi SpaceX yang sangat tinggi masih sangat bergantung pada optimisme investor terhadap visi jangka panjang Musk, termasuk proyek AI, internet satelit, hingga eksplorasi Mars. Namun, sebagian pihak menilai nilai tersebut terlalu agresif mengingat perusahaan masih mencatat kerugian besar.













