Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan manajemen risiko maritim asal Yunani, MARISKS, memperingatkan adanya pesan penipuan yang menjanjikan jalur aman melintasi Selat Hormuz dengan imbalan pembayaran mata uang kripto.
Peringatan tersebut muncul di tengah situasi yang masih tegang di kawasan Teluk, setelah Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran dan Teheran kembali memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz.
Sebelum konflik di Timur Tengah memanas, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Kini, ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut masih tertahan di kawasan Teluk akibat ketidakpastian keamanan.
Dalam peringatannya pada Senin (20/4/2026), MARISKS menyebut bahwa sejumlah perusahaan pelayaran menerima pesan dari pihak tak dikenal yang mengaku mewakili otoritas Iran. Mereka meminta biaya transit dalam bentuk kripto seperti Bitcoin atau Tether untuk mendapatkan “izin” melintasi selat.
Baca Juga: Dampak Konflik Jalur Selat Hormuz Terhenti, India Putar Haluan Impor Minyak.
MARISKS menegaskan bahwa pesan tersebut merupakan penipuan dan bukan berasal dari pemerintah Iran.
Menurut perusahaan itu, modus penipuan tersebut memanfaatkan situasi darurat dan kebingungan di kalangan operator kapal yang terjebak di kawasan barat Selat Hormuz.
Di tengah pembicaraan gencatan senjata, Iran sebelumnya sempat membuka kembali Selat Hormuz pada 18 April dengan sejumlah persyaratan pemeriksaan. Namun, upaya sejumlah kapal untuk melintas tidak berjalan mulus.
Setidaknya dua kapal, termasuk sebuah tanker, melaporkan bahwa kapal patroli Iran melepaskan tembakan ke arah mereka sehingga memaksa kapal berbalik arah.
Baca Juga: AS dan Iran Berpeluang Lanjutkan Perundingan Damai di Pakistan
MARISKS menduga sedikitnya satu kapal yang terkena tembakan saat mencoba keluar dari selat pada Sabtu lalu merupakan korban dari skema penipuan tersebut.
Pesan yang dikutip MARISKS menyebut bahwa setelah dokumen kapal diserahkan dan kelayakan dinilai oleh “Layanan Keamanan Iran”, maka besaran biaya akan ditentukan dalam bentuk kripto.
“Hanya setelah itu kapal Anda akan dapat melintasi selat tanpa hambatan pada waktu yang telah disepakati sebelumnya,” demikian isi pesan tersebut.
Hingga kini, belum ada komentar resmi dari pemerintah Iran terkait laporan tersebut. Reuters juga belum dapat memverifikasi identitas perusahaan pelayaran yang menerima pesan penipuan itu.













