kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Proyek Pipa Irak-Suriah Diproyeksi Butuh 4 Tahun dan Investasi US$15 Miliar


Senin, 17 Agustus 2026 / 16:56 WIB
Proyek Pipa Irak-Suriah Diproyeksi Butuh 4 Tahun dan Investasi US$15 Miliar
ILUSTRASI. Irak  menyiapkan pembangunan jalur pipa minyak melalui Suriah sebagai alternatif pengiriman crude oil guna mengurangi ketergantungan Selat Hormuz (Raheb Homavandi/File Photo/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - RIYADH/DAMASKUS/HOUSTON. Irak tengah menyiapkan pembangunan jalur pipa minyak melalui Suriah sebagai alternatif pengiriman crude oil guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk dibangun dengan nilai investasi sedikitnya US$15 miliar.

Informasi tersebut disampaikan dua sumber yang mengetahui langsung rencana proyek kepada Reuters. Proyek pipa Irak-Suriah menjadi bagian dari upaya mencari jalur ekspor minyak alternatif setelah konflik Iran menyebabkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu secara signifikan.

Pejabat Amerika Serikat (AS) dan sejumlah eksekutif perusahaan energi menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan industri energi terhadap Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menilai peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi global dapat berkurang secara drastis dalam beberapa tahun mendatang.

"Dalam dua tahun ke depan, selat tersebut akan menjadi tidak relevan. Selat itu akan menjadi seperti perairan lainnya," kata Bessent pekan lalu.

Sebelum konflik, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Bessent mengatakan lebih dari 50% hingga 70% ekspor tersebut nantinya dapat dialihkan melalui jaringan pipa bawah tanah.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Yen Menguat Jelang Pertemuan The Fed di Jackson Hole

Namun, dua sumber yang terlibat langsung dalam proyek mengatakan pembangunan pipa Irak-Suriah kemungkinan membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari perkiraan tersebut. Lamanya pembangunan terutama disebabkan kebutuhan membangun infrastruktur baru serta potensi kendala lainnya.

Kedua sumber meminta identitasnya tidak disebutkan karena sensitifnya pembahasan proyek tersebut.

Pipa Lama Irak-Suriah Rusak Akibat Perang

Irak menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh gangguan di Selat Hormuz. Sebelum perang, Irak mengekspor sekitar 3,6 juta barel minyak per hari (bph), sebagian besar melalui terminal minyak di Teluk dekat Basra.

Namun, menurut perusahaan minyak negara Irak, SOMO, volume minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz sepanjang Juli hanya mencapai sekitar 35,5 juta barel.

Irak sebenarnya telah memiliki jaringan pipa yang menghubungkan wilayah Kirkuk di utara Irak dengan Pelabuhan Banias di pesisir Mediterania Suriah. Akan tetapi, jaringan tersebut mengalami kerusakan parah akibat perang di Irak dan Suriah serta tidak digunakan secara rutin sejak 1980-an.

Kedua sumber mengatakan pembangunan proyek baru kemungkinan tidak sekadar berupa rehabilitasi jaringan lama. Infrastruktur baru sepenuhnya diperlukan dengan biaya sedikitnya US$15 miliar.

Salah satu sumber mengatakan sebagian jaringan baru memang akan mengikuti jalur Kirkuk-Banias yang sebelumnya digunakan. Namun, sejumlah bagian pipa lama yang masih utuh tidak kompatibel dengan spesifikasi yang dikembangkan untuk proyek baru sehingga tidak dapat digunakan.

Baca Juga: Harga Minyak Bervariasi di Tengah Kebuntuan Perang Iran, Potensi Kenaikan Terbatas

Sumber lainnya mengatakan proyek tersebut akan mencakup pembangunan sistem pipa minyak mentah terpadu yang menghubungkan ladang-ladang minyak Irak di wilayah selatan dan utara dengan pusat penghubung di Haditha, Irak bagian barat. Dari Haditha, jaringan tersebut akan diteruskan menuju Banias di Suriah.

Pemerintah AS menyambut rencana "rehabilitasi dan pembangunan kembali" jaringan pipa tersebut. Jalur baru itu pada tahap awal ditargetkan memiliki kapasitas pengangkutan minyak mentah sebesar 2 juta bph.

Kapasitas tersebut akan menjadi peningkatan signifikan dibandingkan kapasitas pipa lama yang sekitar 300.000 bph. Angka tersebut bahkan kurang dari sepersepuluh volume minyak yang diekspor Irak melalui Selat Hormuz sebelum perang Iran.

Selain proyek pipa melalui Suriah, Irak juga telah kembali mengekspor minyak dari ladang-ladang di Kirkuk melalui jaringan pipa menuju Pelabuhan Ceyhan di Turki. Jalur tersebut ditargetkan memiliki kapasitas sekitar 250.000 bph.

Pembangunan Pipa Diperkirakan Empat Tahun

Kedua sumber memperkirakan pembangunan pipa Irak-Suriah membutuhkan waktu sekitar empat tahun. Salah satu sumber mengatakan jadwal tersebut masih dapat bertambah karena proyek harus memperhitungkan proses pembersihan infrastruktur lama serta pengurusan hak penggunaan lahan baru dengan pemerintahan Suriah.

Artinya, proyek tersebut tidak hanya menghadapi tantangan pendanaan dan konstruksi, tetapi juga persoalan teknis, regulasi, serta kondisi infrastruktur di sepanjang jalur pipa.

Irak dan Suriah telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara terpisah dengan sebuah konsorsium yang terdiri atas perusahaan energi AS Chevron, TI Capital dan UCC Holding dari Qatar.

Konsorsium tersebut akan melakukan kajian teknis dan finansial sebagai persiapan pembangunan proyek.

Kementerian Perminyakan Irak dan perusahaan minyak negara Suriah, Syrian Petroleum Company, belum memberikan tanggapan Reuters terkait proyek tersebut, termasuk mengenai perkiraan waktu pembangunan dan biaya yang disampaikan sumber.

TI Capital dan UCC Holding juga belum memberikan tanggapan. Sementara itu, Chevron merujuk pada pernyataan sebelumnya mengenai kesepakatan awal dan mengatakan perusahaan tidak memberikan komentar mengenai detail persoalan komersial.

Baca Juga: Thailand Kerek Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kisaran 2%-2,5%, Ini Alasannya

Chevron Soroti Akses Pasar Melalui Mediterania

Dalam konferensi pers bulan lalu, seorang eksekutif Chevron mengatakan proyek tersebut dapat menyediakan "jalur akses lain ke pasar" melalui kawasan Mediterania.

Menurut eksekutif tersebut, jaringan pipa yang akan dibangun juga perlu terhubung dengan ladang minyak Irak di bagian selatan, termasuk West Qurna 2 dan Nassiriya. Chevron saat ini tengah melakukan negosiasi untuk memasuki kedua ladang minyak tersebut.

Chevron masih perlu menyelesaikan kajian teknis untuk menentukan apakah jaringan pipa Irak-Suriah yang ada dapat digunakan kembali, diperbaiki, diperluas, atau harus dibangun ulang sepenuhnya.

Perusahaan juga belum memberikan perkiraan mengenai kapasitas ekspor proyek tersebut di masa depan.

"Biasanya, ketika jaringan pipa seperti ini mulai beroperasi, kapasitas 100% tidak tersedia sejak hari pertama," kata eksekutif Chevron tersebut.

Jika terealisasi, jalur pipa Irak-Suriah berpotensi menjadi salah satu infrastruktur strategis baru bagi ekspor minyak Irak sekaligus menyediakan rute alternatif menuju pasar global. Namun, kebutuhan investasi sedikitnya US$15 miliar dan waktu pembangunan sekitar empat tahun menunjukkan bahwa pengurangan ketergantungan terhadap Selat Hormuz tidak dapat dilakukan secara cepat.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×