kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Kisah Si Pendiam yang Jadi Pelaku Penembakan Massal di Sekolah Thailand


Sabtu, 08 Agustus 2026 / 00:04 WIB
Kisah Si Pendiam yang Jadi Pelaku Penembakan Massal di Sekolah Thailand
ILUSTRASI. Penembakan massal yang terjadi di sebuah sekolah di Bangkok, Thailand, mengakibatkan lima orang tewas, plus dua orang tewas di rumah sang pelaku (KONTAN/Fenie Chintya)


Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - BANG BUA THONG. Warga Thailand masih ramai membicarakan kasus penembakan yang terjadi di sebuah sekolah di Bangkok. Ini merupakan kasus penembakan missal terburuk di Thailand sejak 2022.

Pada Jumat (7/8/2026) pagi, menjelang pukul 10.00 waktu setempat, seorang siswa Debsirin Nonthaburi School berusia 14 tahun melakukan penembakan missal. Menjelang siang, jenazah-jenazah tergeletak di sekolah tersebut, lima orang tewas dan 23 lainnya terluka.

Penembakan berhenti setelah siswa tersebut mengarahkan senjata ke dirinya sendiri. Ia menjadi salah satu korban tewas dalam peristiwa tersebut.

Sebelum itu, di pagi harinya, siswa tersebut juga menembak mati kakek dan neneknya di rumah yang mereka tinggali bersama. Kepala Kepolisian Bang Bua Thong Kolonel Polisi Thadsakorn Konthong mengatakan, seperti dikutip Reuters, remaja itu membunuh kakek neneknya sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat.

"Senjata api dan pelurunya adalah milik sang kakek," ujar Thadsakorn kepada Reuters. Ketiganya tinggal bersama di rumah di pinggiran Bangkok, yang dikelilingi pepohonan dan pagar beton di kawasan permukiman yang tenang.  Keberadaan orang tua remaja itu masih belum diketahui.

Baca Juga: Teror di Sekolah, 6 Drakor Thriller Ini Penuh Misteri Menegangkan

Setelah menembak kakek-neneknya, remaja itu menaiki mobil jemputan sekolah yang datang menjemputnya di rumah, kata Thadsakorn. Ia membawa senjata api dan puluhan butir peluru bersamanya.

Debsirin Nonthaburi School, tempat remaja itu bersekolah, terletak sekitar 18 km dari rumah kakek neneknya, atau sekitar 45 menit perjalanan darat. Kelas pertamanya dimulai pukul 08.30 pagi, diikuti oleh kelas berikutnya pada pukul 09.20 pagi.

Menurut perkiraan polisi, sekitar setengah jam setelah kelas kedua dimulai, remaja itu mengeluarkan senjata api dan mulai melakukan penembakan. Pada pukul 09.57 pagi, Kantor Polisi Plai Bang, yang membawahi wilayah tempat sekolah tersebut berada, menerima panggilan telepon mengenai insiden penembakan tersebut.

Kepala Kepolisian Provinsi Nonthaburi Mayor Jenderal Polisi Dejrapee Kongdee menuturkan, remaja tersebut diduga pertama kali menembak para guru di lantai enam gedung tempatnya belajar dan menewaskan tiga orang di antaranya.

Salah satu korban adalah seorang guru bahasa Thailand perempuan yang ditembak tepat di bagian mata. Pelaku kemudian tampak bergerak menyusuri lorong sambil melepaskan tembakan ke arah para siswa.

Baca Juga: Kanada Terdesak Tarif Trump 50%, Siapkan Sejumlah Konsesi untuk AS

"Dia kemudian menuruni tangga dan berpapasan dengan wakil kepala sekolah serta sekretaris kepala sekolah, yang saat itu sedang naik untuk memeriksa situasi," ujar Dejrapee. Pelaku menembak dan menewaskan keduanya di tangga tersebut.

Remaja itu sempat berjalan menuju gedung lain. Namun, polisi menduga, remaja tersebut mengubah arah setelah melihat kedatangan polisi, lalu melarikan diri ke dalam sebuah bangunan berlantai empat.

Saat tiba di lokasi kejadian, petugas layanan darurat Kiatikhun Verapongpradith mengatakan situasi sangat kacau. Banyak siswa berlari tanpa memakai alas kaki, atau hanya mengenakan kaus kaki. Banyak siswa berlindung di bawah meja sembari menangis. Sejumlah siswa mengalami luka tembak di punggung, dada, dan lengan.

Setelah mengevakuasi siswa dan guru dari sekolah, polisi mulai menyisir gedung lantai demi lantai hingga menemukan remaja tersebut di lantai empat, sudah menembak dirinya sendiri. Dejrapee mengatakan, saat itu sekitar pukul 10.40 pagi. "Saat itu dia masih hidup, jadi petugas melakukan CPR dan segera membawanya ke rumah sakit," ujarnya. Remaja berusia 14 tahun itu meninggal tak lama kemudian.

Baca Juga: AS Kehilangan 23.000 Pekerjaan pada Juli, Tekanan terhadap The Fed Menguat

Secara keseluruhan, dia telah menggunakan setidaknya 26 peluru. Masih ada sebanyak 34 butir peluru lainnya ditemukan.

Motif remaja tersebut masih belum jelas. Namun Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan kepada wartawan, remaja tersebut stres akibat pelajaran.

Selain bersekolah, Dejrapee menyebut, remaja berusia 14 tahun itu mengikuti kelas bimbingan belajar di akhir pekan dan gemar bermain gim tembak-menembak hingga tengah malam. "Siswa tersebut digambarkan sebagai sosok yang pendiam, tidak terlalu mudah bergaul, dan memiliki prestasi akademik yang cukup baik," ujarnya.

Aksi kekerasan pada hari Jumat itu kembali memicu sorotan terhadap aturan kepemilikan senjata api di Thailand. Negara ini merupakan negara dengan jumlah kepemilikan senjata api terbanyak di Asia Tenggara, yakni sekitar 15 pucuk senjata api per 100 penduduk.

Anutin, yang memperketat aturan kepemilikan senjata saat menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pasca-insiden penembakan massal sebelumnya, mengatakan ia akan mengusulkan undang-undang baru untuk membatasi warga sipil dalam membawa senjata api.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×