Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perekonomian Amerika Serikat (AS) secara tak terduga kehilangan lapangan pekerjaan pada Juli 2026. Selain itu, data ketenagakerjaan pada bulan sebelumnya direvisi turun tajam.
Kondisi tersebut berpotensi memunculkan kembali pertanyaan mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan mendatang.
Berdasarkan laporan ketenagakerjaan yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (7/8), jumlah tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls turun sebanyak 23.000 pekerjaan pada Juli.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan kenaikan 20.000 pekerjaan pada Juni setelah direvisi turun. Sebelumnya, pertumbuhan lapangan kerja AS pada Juni dilaporkan mencapai 57.000 pekerjaan.
Hasil tersebut juga jauh di bawah ekspektasi pasar. Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, nonfarm payrolls diperkirakan meningkat 80.000 pekerjaan pada Juli. Perkiraan para ekonom berada dalam rentang kenaikan 10.000 hingga 140.000 pekerjaan.
Baca Juga: Inpex Naikkan Proyeksi Laba 2026 hingga 46% Jadi Rekor 510 Miliar Yen
Meski demikian, para ekonom mencatat bahwa data ketenagakerjaan AS cenderung lebih lemah pada Juli. Pasar tenaga kerja AS juga dinilai berada dalam kondisi yang disebut sebagai "perekrutan lambat, pemutusan hubungan kerja juga lambat" atau "slow hire, slow fire".
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AS masih berhati-hati dalam merekrut pekerja baru, tetapi pada saat yang sama belum melakukan pemutusan hubungan kerja secara agresif.
Tingkat Pengangguran AS Turun
Di tengah pelemahan penciptaan lapangan kerja, tingkat pengangguran AS justru turun menjadi 4,1% pada Juli dari 4,2% pada Juni.
Namun, penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan kembali melemahnya tingkat partisipasi angkatan kerja. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca kesehatan pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan.
Sebelum data ketenagakerjaan terbaru dirilis, pasar keuangan telah memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Pekan lalu, bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan overnight pada kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut juga disertai perbedaan pandangan di antara anggota komite kebijakan moneter The Fed.
Sebanyak tiga anggota komite memilih untuk tidak mendukung keputusan mempertahankan suku bunga. Mereka lebih memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Guncang Wildberries, Bisnis Ritel Rusia Tertekan Keras
Data Inflasi Jadi Penentu Kebijakan The Fed
Data ketenagakerjaan terbaru berpotensi menambah kompleksitas bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.
Pelemahan pasar tenaga kerja dapat memberikan alasan bagi bank sentral AS untuk lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga. Namun, keputusan tersebut tetap akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan diperkirakan dapat memperjelas perdebatan mengenai prospek kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Sementara itu, perekonomian AS sejauh ini masih menunjukkan ketahanan. Konflik di Timur Tengah yang telah memasuki bulan keenam dinilai belum mengganggu perekonomian AS secara signifikan.
Permintaan domestik bahkan tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun pada kuartal II 2026.
Dengan demikian, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada kombinasi antara perkembangan pasar tenaga kerja, inflasi, serta kekuatan permintaan domestik untuk melihat apakah The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada September.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
