kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Serangan Drone Ukraina Guncang Wildberries, Bisnis Ritel Rusia Tertekan Keras


Jumat, 07 Agustus 2026 / 19:19 WIB
Serangan Drone Ukraina Guncang Wildberries, Bisnis Ritel Rusia Tertekan Keras
Asap membubung setelah serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap sebuah kilang minyak, (Reuters/Media Sosial)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO. MOSKOW. Serangan drone Ukraina yang menyasar gudang milik Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar di Rusia, mulai mengguncang aktivitas bisnis di negara itu.

Dalam waktu kurang dari tiga pekan, serangan terhadap sedikitnya 20 fasilitas logistik Wildberries merusak jaringan distribusi, mengganggu pasokan barang, serta memukul puluhan ribu pelaku usaha kecil yang bergantung pada platform tersebut.

Dampaknya bahkan menjadi perhatian pemerintah Rusia dan bank sentral karena berpotensi memperburuk inflasi serta memperlambat pemulihan ekonomi.

Sejak 18 Juli lalu, Ukraina melancarkan gelombang serangan drone hampir setiap malam ke sejumlah gudang Wildberries di berbagai wilayah Rusia.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar, menghancurkan stok barang, dan melumpuhkan sebagian jaringan logistik perusahaan.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Guncang St. Petersburg, Infrastruktur Minyak Disasar

Berdasarkan penelusuran Reuters terhadap citra satelit, sedikitnya 1,18 juta meter persegi area pergudangan mengalami kerusakan atau hancur. Luasan itu setara dengan lebih dari seperlima kapasitas gudang Wildberries.

Perusahaan juga melaporkan kembali adanya serangan pada Jumat (7/8) dan kini mencari mitra untuk membuka pusat penyimpanan baru guna memulihkan operasional.

Gangguan distribusi ini langsung terasa di tingkat pelaku usaha. Wildberries mengoperasikan sekitar 98.000 titik pengambilan barang (pick-up point) di Rusia dan negara tetangga, yang menjadi tulang punggung layanan pengiriman perusahaan.

Salah satu mitranya, Vasily Klimov di Moskow, mengaku usahanya berubah dari menguntungkan menjadi merugi hanya dalam beberapa pekan.

Jumlah paket yang diterima tokonya turun drastis menjadi sekitar 150 paket per hari dari sebelumnya sekitar 400 paket. Bahkan ketika Reuters mengunjungi tokonya, tidak ada satu pun paket yang datang.

"Penjualan turun sekitar 50% dalam sebulan terakhir karena hampir tidak ada pengiriman. Bulan terakhir sepenuhnya merugi," kata Klimov.

Karena tidak lagi memiliki cadangan dana untuk bertahan, Klimov memutuskan menjual usahanya. Namun hingga kini belum ada pembeli yang berminat. Ia bahkan sempat berseloroh menawarkan bisnisnya kepada wartawan Reuters seharga satu rubel.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Kian Gencar, Kilang Minyak Rusia Lumpuh dan Produksi Tertekan

Fenomena itu bukan kasus tunggal. Hingga Rabu (6/8), lebih dari 3.100 gerai waralaba Wildberries tercatat dijual melalui platform Avito.

Dampak serangan juga meluas ke puluhan ribu penjual yang mengandalkan Wildberries sebagai kanal utama pemasaran produk mereka.

Wildberries merupakan platform e-commerce terbesar di Rusia yang bersama platform daring lain menangani transaksi barang dan jasa senilai sekitar 8,5% dari total perekonomian Rusia.

Ukraina menilai Wildberries turut mendukung upaya perang Rusia karena menjual berbagai perlengkapan seperti kacamata penglihatan malam, kantong amunisi, dan helm, selain produk konsumsi sehari-hari.

Namun perusahaan maupun Kremlin membantah memasok kebutuhan militer Rusia.

Dalam konflik tersebut, sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap gudang Wildberries.

Ukraina menegaskan tidak menargetkan warga sipil dan menyatakan serangan itu merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan biaya perang yang harus ditanggung Rusia.

Di sisi lain, Rusia juga melancarkan serangan ke gudang komersial di sekitar Kyiv yang dituding menyimpan komponen drone serta barang berfungsi ganda untuk kepentingan sipil dan militer. Sedikitnya 17 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Gangguan pada rantai pasok membuat Bank Sentral Rusia ikut mencermati perkembangan situasi. Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina sebelumnya menyatakan pihaknya akan memantau apakah terganggunya distribusi barang akan mendorong kenaikan inflasi.

Ekonom Kyiv School of Economics dan Peterson Institute for International Economics, Elina Ribakova, menilai gangguan pasokan dapat menghambat upaya bank sentral menurunkan suku bunga acuan yang saat ini berada di level 14%.

Menurutnya, meski ekonomi Rusia diperkirakan tidak tumbuh tahun ini setelah mengalami kontraksi pada kuartal pertama, inflasi masih tetap tinggi sehingga gangguan pasokan sekecil apa pun berpotensi memaksa bank sentral memperlambat bahkan menghentikan penurunan suku bunga.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Hantam Kilang Minyak Terbesar Rusia

Sektor keuangan juga mulai merasakan dampaknya. Pada akhir Juli, bank terbesar Rusia, Sberbank, mengungkapkan kemungkinan meningkatkan pencadangan kerugian kredit setelah kualitas pinjaman pelaku usaha ritel daring menurun.

Sekitar 300 perusahaan dilaporkan mengajukan restrukturisasi pinjaman akibat terganggunya bisnis mereka.

Sumber yang dekat dengan Kremlin menyebut gelombang kebangkrutan berpotensi terjadi karena banyak usaha kecil dan menengah yang sama sekali tidak terkait dengan perang ikut menjadi korban.

Pemerintah Rusia pun dikabarkan telah membahas berbagai bentuk bantuan bagi Wildberries, termasuk pinjaman dari bank-bank milik negara, insentif pajak, hingga subsidi bagi perusahaan maupun para penjual yang terdampak.

Wildberries sendiri menyatakan telah memberikan berbagai bentuk dukungan kepada mitra penjual, antara lain diskon tambahan, penundaan pembayaran, serta kompensasi awal kepada lebih dari 97.000 penjual yang kehilangan stok akibat serangan.

Meski demikian, kerugian pelaku usaha tetap besar. Merek fesyen Finn Flare kehilangan produk senilai lebih dari 100 juta rubel setelah gudang Wildberries di Elektrostal terbakar akibat serangan drone pada Juli. Berkurangnya stok membuat volume pesanan ikut merosot.

Pelaku usaha lain memilih tidak terlalu berharap pada kompensasi.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Meluas, Satu Orang Tewas di Krimea

Produsen permen toffee rumahan Anna Starostina, yang kehilangan 170 kotak produknya dalam salah satu serangan pertama pada 18 Juli, mengaku tidak ingin menggantungkan harapan pada pembayaran ganti rugi karena khawatir akan berujung pada kekecewaan.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×