Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank of England (BoE) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan ini, di tengah ketidakpastian ekonomi akibat eskalasi konflik Iran yang mulai berdampak pada perekonomian Inggris.
Dalam laporan Reuters, Senin (27/4/2026), bank sentral Inggris diproyeksikan kembali menahan suku bunga setelah keputusan serupa diambil pada Maret lalu. Langkah ini dilakukan untuk mengamati sejauh mana dampak inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat lonjakan harga energi.
Investor Antisipasi Kenaikan Suku Bunga
Meski BoE diperkirakan menahan suku bunga dalam waktu dekat, pelaku pasar mulai memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Investor telah memperhitungkan potensi kenaikan sebesar 25 basis poin pada Juli, diikuti kenaikan lanjutan pada September, serta peluang tambahan kenaikan menjelang akhir tahun.
Namun, Gubernur BoE Andrew Bailey sebelumnya mengingatkan bahwa langkah pengetatan kebijakan moneter saat ini masih terlalu dini, mengingat ketidakpastian ekonomi yang tinggi.
Baca Juga: Dapat Restu AS, Filipina Bakal Perpanjang Impor Minyak dari Rusia
Risiko Inflasi Masih Membayangi
Sejumlah anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC) mulai mempertimbangkan risiko lonjakan inflasi baru, terutama mengingat pengalaman pada 2022 ketika inflasi Inggris sempat melampaui 11%.
Survei ekonom Reuters menunjukkan mayoritas memperkirakan BoE akan kembali mempertahankan suku bunga di level 3,75% dengan hasil voting 8-1, sedikit berbeda dari keputusan bulat pada Maret.
Meski demikian, beberapa analis menilai ada kemungkinan hingga tiga anggota MPC mendukung kenaikan suku bunga menjadi 4,0% guna mencegah tekanan inflasi yang lebih luas, termasuk kenaikan upah dan harga barang.
Inggris Rentan terhadap Lonjakan Harga Energi
Ekonomi Inggris dinilai sangat rentan terhadap kenaikan harga energi global akibat ketergantungan tinggi pada gas alam. Lonjakan biaya energi telah meningkatkan biaya produksi perusahaan serta ekspektasi kenaikan harga dalam 12 bulan ke depan.
International Monetary Fund sebelumnya memproyeksikan inflasi Inggris akan mencapai puncaknya di level 4% tahun ini, tertinggi di antara negara-negara Group of Seven dalam beberapa tahun terakhir.
Perdebatan Internal BoE
Perdebatan internal di BoE semakin menguat. Kepala Ekonom BoE, Huw Pill, menekankan pentingnya respons yang tepat waktu terhadap tekanan inflasi.
"Jika Anda menunggu dan mengamati tetapi tidak melihat apa pun, maka Anda hanya sekadar menunggu." ujarnya pada 17 April, mengisyaratkan risiko jika bank sentral terlalu lama menunda tindakan.
Sebagian anggota MPC cenderung fokus pada kenaikan harga jasa dan tekanan harga di sektor korporasi. Sementara itu, kelompok lain menyoroti potensi perlambatan pasar tenaga kerja serta penurunan kepercayaan konsumen dan dunia usaha.
Baca Juga: Trump Buka Opsi Negosiasi dengan Iran, Upaya Damai Masih Buntu
Outlook Ekonomi Masih Tidak Pasti
Dengan ketidakjelasan durasi konflik dan dampaknya terhadap harga energi, BoE kemungkinan akan mempertahankan sikap “siap bertindak” sebagaimana disampaikan pada pertemuan sebelumnya.
Ekonom RSM, Thomas Pugh, menilai nada kebijakan yang lebih hawkish tidak serta-merta berarti kenaikan suku bunga akan segera dilakukan. Ia memperkirakan data ekonomi Inggris akan melemah dalam beberapa bulan ke depan, sehingga fokus kebijakan bisa kembali pada risiko perlambatan ekonomi.
BoE juga dijadwalkan merilis pembaruan proyeksi ekonomi terbarunya, yang diperkirakan menunjukkan inflasi lebih tinggi serta pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah pada 2026 dan 2027.
Ekonom Oxford Economics, Edward Allenby, memperkirakan suku bunga akan tetap ditahan sepanjang tahun ini, sembari menunggu kejelasan dampak guncangan energi terhadap ekonomi.
Keputusan suku bunga BoE akan diumumkan pada Kamis, disusul konferensi pers oleh Gubernur Andrew Bailey dan anggota MPC lainnya untuk memberikan panduan arah kebijakan ke depan.













