Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah dan rupee India terpuruk ke level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Senin (18/5/2026), memimpin pelemahan mata uang Asia di tengah lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi global yang memperkuat dolar Amerika Serikat (AS).
Tekanan di pasar keuangan dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan drone menghantam aset di Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi mencegat drone yang masuk ke wilayahnya, dan Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Elon Musk: Mobil Otonom Tanpa Pengemudi Akan Semakin Banyak Digunakan di AS Tahun Ini
Melansir Reuters, rupiah melemah 0,4% ke level Rp17.668 per dolar AS, dibandingkan penutupan Jumat (15/5) yang berada Rp 17.597 per dolar AS.
Pelemahan ini juga menandai rekor terendah kedua rupiah dalam sepekan terakhir dan menempatkan mata uang Garuda menuju kinerja bulanan terburuk sejak 2016.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi lonjakan harga minyak akibat perang Iran, kekhawatiran terhadap disiplin fiskal pemerintah, arus keluar modal asing, independensi bank sentral, hingga tata kelola pasar saham setelah penghapusan sejumlah saham dari indeks MSCI.
Pasar saham Indonesia juga tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 3,7% ke level 6.475,24, memperpanjang pelemahan menjadi lima hari beruntun dan menyentuh level terendah sejak akhir April. Sepanjang tahun ini, IHSG telah terkoreksi lebih dari 25%.
Baca Juga: IKEA Pangkas 850 Karyawan di Tengah Melemahnya Belanja Konsumen
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menahan pelemahan rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan penggunaan instrumen kebijakan moneter. Hal ini membuat rapat kebijakan BI pekan ini menjadi sorotan utama pasar.
Saat ini suku bunga acuan BI masih berada di level 4,75% setelah dipertahankan dalam tujuh pertemuan berturut-turut.
Namun, sejumlah analis, termasuk Citi, mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, rupee India juga mencetak rekor terendah baru di level 96,303 per dolar AS. Mata uang tersebut telah melemah sekitar 5,5% sejak konflik Iran memicu lonjakan harga minyak pada akhir Februari lalu.
Baca Juga: Trump: Pemotongan Suku Bunga Mungkin Tertunda hingga Perang Iran Berakhir
Analis MUFG Michael Wan mengatakan mata uang negara berkembang Asia menjadi korban penguatan dolar AS. Negara pengimpor minyak seperti India dan Filipina terkena tekanan ganda dari lonjakan harga energi dan penguatan dolar, sementara rupiah juga dibebani faktor domestik.
Dari China, data ekonomi April menunjukkan perlambatan momentum pertumbuhan. Output industri melambat dan penjualan ritel turun tajam, menambah kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.
Indeks saham Shanghai turun 0,4%, sementara yuan relatif stabil. Di Thailand, pertumbuhan ekonomi kuartalan tercatat lebih baik dari perkiraan berkat dukungan ekspor, konsumsi, dan investasi. Baht bergerak tipis, sedangkan pasar saham Thailand naik 0,2%.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus ke US$ 112, Timur Tengah Kembali Bergejolak
Mata uang lain di kawasan juga melemah. Ringgit Malaysia turun 0,7% ke level 3,9750 per dolar AS, mendekati level psikologis 4,000 dan menuju pelemahan tiga hari berturut-turut.
Sementara itu, indeks mata uang negara berkembang versi MSCI turun 0,4% untuk hari ketiga berturut-turut seiring aksi jual obligasi global yang memperketat kondisi keuangan aset berisiko.













