kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.743.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 18.133   83,00   0,46%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Dolar AS Makin Garang Senin (8/6), Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik ke 70%


Senin, 08 Juni 2026 / 07:34 WIB
Dolar AS Makin Garang Senin (8/6), Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik ke 70%
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kokoh di kisaran level tertinggi dalam dua bulan terakhir pada perdagangan hari Senin (8/6/2026).

Penguatan ini terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang tumbuh luar biasa, memicu para pelaku pasar untuk meningkatkan taruhan bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun ini.

Baca Juga: Cara Beli Saham IPO SpaceX untuk Investor Ritel, Simak Panduannya

Di sisi lain, keperkasaan greenback membuat mata uang Yen Jepang kian terpuruk dan kembali masuk ke dalam zona intervensi pemerintah Tokyo.

Meskipun pergerakan awal pasar valas cenderung terbatas karena bursa Australia tutup memperingati hari libur nasional, indeks dolar AS tetap mempertahankan keuntungan besarnya.

Laporan ketenagakerjaan AS mencatat adanya penambahan 172.000 lapangan kerja baru pada bulan lalu, angka yang jauh melampaui estimasi konsensus para ekonom.

Baca Juga: Ekonomi Jepang Melambat di Kuartal I-2026 Akibat Merosotnya Belanja Modal Perusahaan

Dampak dari penguatan dolar AS ini langsung menekan mata uang global lainnya ke level terendah:

  • Euro (EUR): Merosot ke level terendah dua bulan di posisi US$1,1507.
  • Poundsterling (GBP): Tertahan di level terendah tiga pekan pada posisi US$1,3316.
  • Dolar Australia (AUD): Merosot ke level terendah dua bulan di posisi US$0,7016.
  • Dolar Selandia Baru (NZD): Anjlok ke posisi US$0,5779.

Ketahanan Ekonomi AS di Tengah Krisis Energi

"Laporan data ketenagakerjaan AS ini menggambarkan bahwa pasar tenaga kerja mereka tetap menguat secara struktural, meskipun saat ini sedang terjadi guncangan harga energi global akibat konflik," kata Jonas Goltermann, Kepala Ekonom Pasar di Capital Economics dilansir Reuters.

Baca Juga: Regulasi Modal Diperketat, Investor China Serbu Hong Kong Amankan Aset US$54 Miliar

Kombinasi antara akselerasi pasar tenaga kerja dan risiko inflasi dari sektor energi membuat pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed pada akhir tahun ini menjadi kian masuk akal.

Capital Economics memproyeksikan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan meluncurkan dua kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun ini.

Sebelum data tenaga kerja dirilis, investor global sebenarnya sudah mulai mengantisipasi kenaikan bunga The Fed akibat krisis energi global yang dipicu oleh perang Iran, yang berpotensi kuat mengerek inflasi dunia.

Berdasarkan indikator CME FedWatch Tool, pasar kini melihat adanya probabilitas lebih dari 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember mendatang, melonjak tajam dibandingkan prediksi pekan lalu yang baru sebesar 45%.

Baca Juga: Saling Serang Israel-Iran Meletus, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari US$2

Yen Jepang Berada di Titik Kritis

Keperkasaan dolar AS menjadi mimpi buruk bagi mata uang Yen Jepang yang kini merosot ke level 160,29 per dolar AS.

Nilai ini mengikis habis seluruh keuntungan intervensi senilai 11,7 triliun yen ($73,01 miliar) yang digelontorkan pemerintah Tokyo sebulan lalu saat mata uangnya menyentuh level terendah sejak Juli 2024 di posisi 160,72.

"Yen terus berada di bawah tekanan karena volatilitas selisih suku bunga (interest rate disadvantage) yang persisten. Bank of Japan (BOJ) dinilai masih terlalu lambat dalam melakukan normalisasi kebijakan, di saat bank sentral negara maju lainnya sudah bergerak agresif (hawkish)," jelas David Meier, ekonom di Julius Baer.

Kendati demikian, sejumlah sumber internal mengungkapkan kepada Reuters bahwa BOJ diperkirakan akan mengambil langkah berani untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini, dengan catatan tidak terjadi eskalasi konflik militer yang ekstrem di Timur Tengah hingga mengacaukan pasar finansial.

Baca Juga: AS Pertimbangkan Beli Kepulauan Chagos dari Mauritius, Amankan Pangkalan Diego Garcia

Rebound Tipis Pasar Kripto

Dari pasar aset kripto, Bitcoin terpantau berhasil naik lebih dari 1% ke level US$62,838.60 pada Senin pagi, mencoba bangkit (rebound) setelah sempat jatuh ke level terendahnya sejak Oktober 2024 pada pekan lalu. Sementara itu, Ether menguat lebih dari 3% ke posisi US$1.680,87.

Pergerakan Bitcoin sejak awal tahun ini dinilai cukup berat karena kalah saing dalam memperebutkan likuiditas global.

Booming saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) serta rencana mega IPO sejumlah raksasa teknologi seperti SpaceX ditengarai telah menarik minat modal investor keluar dari pasar mata uang kripto terbesar di dunia tersebut.




TERBARU

[X]
×