kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   4.000   0,14%
  • USD/IDR 16.918   17,00   0,10%
  • IDX 8.274   -36,15   -0,43%
  • KOMPAS100 1.163   -5,91   -0,51%
  • LQ45 834   -4,25   -0,51%
  • ISSI 296   -0,45   -0,15%
  • IDX30 437   -1,48   -0,34%
  • IDXHIDIV20 520   -5,14   -0,98%
  • IDX80 130   -0,58   -0,44%
  • IDXV30 144   0,34   0,24%
  • IDXQ30 140   -1,50   -1,06%

Dolar AS di Atas Level Terendah, Pasar Waspadai Sinyal The Fed dan Isu Geopolitik


Kamis, 19 Februari 2026 / 20:47 WIB
Dolar AS di Atas Level Terendah, Pasar Waspadai Sinyal The Fed dan Isu Geopolitik
ILUSTRASI. Risalah The Fed ungkap potensi kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Dolar AS menguat, investor wajib tahu alasannya! (Reuters/Marcos Brindicci)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – SINGAPURA/LONDON. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di atas level terendah terbarunya pada perdagangan Kamis (19/2/2026), setelah risalah rapat bank sentral AS menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan belum terburu-buru memangkas suku bunga.

Bahkan, sejumlah pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.

Risalah terbaru dari Federal Reserve yang dirilis Rabu (18/2/2026) memperlihatkan perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan terkait arah suku bunga ke depan. Dokumen tersebut juga mengindikasikan bahwa ketua baru The Fed yang akan mulai menjabat pada Mei mendatang berpotensi menghadapi tantangan besar untuk mendorong pemangkasan suku bunga.

Beberapa pejabat The Fed memperkirakan peningkatan produktivitas dapat membantu meredam tekanan inflasi. Namun, “sebagian besar peserta” rapat memperingatkan bahwa proses penurunan inflasi kemungkinan berlangsung lambat dan tidak merata. Bahkan, beberapa di antaranya menyatakan kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan apabila inflasi tetap berada di atas target.

Peter Dragicevich, analis strategi mata uang Asia-Pasifik di Corpay, menilai risalah tersebut mengindikasikan tidak ada urgensi besar untuk segera memangkas suku bunga lagi, setidaknya hingga masa jabatan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, berakhir pada Mei.

Ketegangan Timur Tengah Dorong Aset Safe Haven

Selain faktor kebijakan moneter, pasar juga dibayangi kekhawatiran geopolitik. Investor mencermati laporan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah dan potensi konflik antara AS dan Iran. Situasi ini mendorong kenaikan harga minyak serta meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.

Baca Juga: Emas Melemah Usai Reli 2% Kamis (19/2), Dolar Menguat Jelang Data Inflasi AS

Data ekonomi AS yang dirilis Rabu turut memperkuat posisi dolar. Produksi pabrik AS pada Januari tercatat meningkat paling besar dalam 11 bulan terakhir. Kenaikan belanja modal (capex) dan pembangunan perumahan (housing starts) juga memberikan sinyal positif terhadap prospek ekonomi.

Pelaku pasar kini menantikan rilis indeks manajer pembelian (PMI) global serta data produk domestik bruto (PDB) AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat (21/2).

Euro Stabil Usai Spekulasi Pergantian Pimpinan ECB

Sementara itu, euro sempat tertekan hingga turun tipis di bawah level US$1,18 setelah melemah tajam sehari sebelumnya. Pelemahan ini dipicu laporan bahwa Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, berencana mengakhiri masa jabatannya lebih awal sebelum Oktober tahun depan.

Menurut laporan Financial Times, spekulasi tersebut membuka peluang bagi Presiden Prancis, Emmanuel Macron, untuk berperan dalam penunjukan pengganti Lagarde. Masa jabatan Lagarde sejatinya akan berakhir pada Oktober 2027.

Meski demikian, para analis menilai potensi suksesi di ECB belum tentu mengubah arah kebijakan moneter secara signifikan. Thierry Wizman, analis strategi valas dan suku bunga global di Macquarie Group, menyebut perubahan kepemimpinan di The Fed kemungkinan memiliki dampak lebih besar terhadap arah kebijakan dibandingkan pergantian di ECB.

Menurutnya, Lagarde dapat digantikan oleh figur yang cenderung dovish maupun hawkish, dan hingga kini belum ada kandidat kuat yang muncul sebagai frontrunner. Hal ini menjelaskan mengapa pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap spekulasi tersebut.

Yen dan Yuan Bergerak Terbatas

Di Asia, yen Jepang menguat tipis ke level 154,63 per dolar AS setelah sebelumnya tertekan hampir 1,5% sepanjang pekan ini. Pelemahan yen terjadi usai pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan proyek investasi senilai US$36 miliar sebagai tahap awal dari komitmen Jepang untuk menanamkan investasi sebesar US$550 miliar di AS.

Baca Juga: Dolar Menguat Usai Risalah The Fed Isyaratkan Tak Terburu-buru Pangkas Suku Bunga

Chris Turner, kepala riset global di ING, menilai investasi langsung Jepang ke AS akan menjadi faktor penting yang dipantau pasar tahun ini, terutama dalam menentukan arah pergerakan pasangan USD/JPY.

Ia menambahkan, pasar valas akan mencermati apakah investasi tersebut akan mendukung arus dolar atau justru memanfaatkan cadangan devisa Jepang untuk menjamin pinjaman dolar baru demi menghindari tekanan lebih lanjut terhadap yen.

Perdagangan di Asia cenderung lebih sepi karena libur di Hong Kong, China, dan Taiwan. Sementara itu, yuan China relatif stabil di kisaran 6,9 per dolar AS dalam perdagangan offshore pada sesi Eropa.

Dengan kombinasi sentimen kebijakan moneter, data ekonomi solid, dan ketidakpastian geopolitik, pergerakan dolar AS dan mata uang utama lainnya diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek.

Selanjutnya: Emas Tembus US$ 4.989 di Tengah Ketegangan AS–Iran dan Sikap The Fed

Menarik Dibaca: Tak Ingin Bau Mulut saat Puasa? Coba 6 Tips dari Dokter Berikut




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×