kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Inilah Perkiraan Waktu Pemangkasan Suku Bunga The Fed Tahun 2026


Selasa, 06 Januari 2026 / 15:26 WIB
Inilah Perkiraan Waktu Pemangkasan Suku Bunga The Fed Tahun 2026
ILUSTRASI. Ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sepanjang 2025 telah menciptakan nilai hingga triliunan dolar AS bagi perusahaan teknologi dan sektor terkait. (KONTAN/The Fed)


Sumber: The Motley Fool | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sepanjang 2025 telah menciptakan nilai hingga triliunan dolar AS bagi perusahaan teknologi dan sektor terkait.

Momentum tersebut turut mendorong indeks saham utama Amerika Serikat, S&P 500, mencetak rekor tertinggi baru. Namun, selain euforia AI, investor juga mendapat dorongan penting lain sepanjang tahun lalu, yakni penurunan suku bunga acuan.

Penurunan suku bunga umumnya menekan biaya utang, meningkatkan profitabilitas korporasi, serta membuka ruang pembiayaan yang lebih besar untuk ekspansi usaha. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi mempercepat imbal hasil bagi investor.

Saat ini, Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) tengah menghadapi tantangan meningkatnya tingkat pengangguran, yang menjadi sinyal awal melemahnya perekonomian. Tak heran, pelaku pasar di Wall Street mulai memperkirakan akan ada penurunan suku bunga lanjutan sepanjang 2026.

Baca Juga: Akankah Pasar Saham Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed kepada Investor

Meski secara teori suku bunga yang lebih rendah cenderung positif bagi pasar saham, dampaknya bisa berbalik negatif apabila investor mulai mengkhawatirkan risiko resesi. Berikut ulasan mengenai waktu penurunan suku bunga berikutnya dan implikasinya bagi portofolio saham.

The Fed Menghadapi Tekanan dari Kenaikan Pengangguran

The Fed memiliki dua mandat utama, yakni menjaga stabilitas harga dan mendorong terciptanya lapangan kerja maksimal.

Stabilitas harga diukur melalui inflasi Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) dengan target kenaikan sekitar 2% per tahun, sementara untuk tingkat pengangguran tidak ditetapkan target angka spesifik.

Sepanjang 2025, inflasi CPI konsisten berada di atas target The Fed. Data terbaru November menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,7%. Dalam kondisi normal, level inflasi tersebut akan membuat bank sentral menahan diri untuk memangkas suku bunga.

Namun, pelemahan pasar tenaga kerja menjelang akhir 2025 memaksa The Fed mengambil langkah berbeda.

Kekhawatiran mulai muncul pada Juli 2025, ketika perekonomian AS hanya menambah 73.000 lapangan kerja, jauh di bawah estimasi ekonom sebesar 110.000. Pada saat yang sama, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS) merevisi data Mei dan Juni turun total 258.000 pekerjaan.

Revisi ini mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi sebenarnya lebih rapuh dari perkiraan awal.

Serangkaian laporan ketenagakerjaan yang lemah berlanjut hingga mendorong tingkat pengangguran naik ke 4,6% pada November, level tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Baca Juga: Emas Dunia Naik 0,5% ke US$4.470 Selasa (6/1): Dampak The Fed & Geopolitik Venezuela

Situasi semakin diperburuk oleh pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell pada 10 Desember, yang menyebut data ketenagakerjaan kemungkinan terlalu tinggi sekitar 60.000 pekerjaan per bulan akibat kendala dalam proses pengumpulan data.

Berdasarkan perhitungannya, ekonomi AS bahkan berpotensi kehilangan sekitar 20.000 pekerjaan per bulan saat ini.

Dengan latar belakang tersebut, keputusan The Fed memangkas suku bunga pada Desember menjadi langkah yang relatif tak terelakkan. Pemangkasan tersebut merupakan yang ketiga sepanjang 2025 dan yang keenam sejak September 2024.

Dua Kali Penurunan Suku Bunga Berpotensi Terjadi pada 2026

Dalam laporan Summary of Economic Projections (SEP) edisi Desember, para pembuat kebijakan di Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS untuk 2026.

Hal ini sejalan dengan ekspektasi bahwa penurunan suku bunga sebelumnya akan mendorong aktivitas ekonomi dalam jangka menengah.

Meski demikian, mayoritas anggota FOMC masih memperkirakan setidaknya satu kali penurunan suku bunga tambahan pada 2026, seiring munculnya retakan di pasar tenaga kerja.

Pandangan ini juga sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, yang menghitung probabilitas perubahan suku bunga dari perdagangan kontrak berjangka Fed Funds, pasar memperkirakan dua kali penurunan suku bunga pada 2026, masing-masing pada April dan September.

Dampak Penurunan Suku Bunga terhadap Pasar Saham

Secara umum, penurunan suku bunga merupakan sentimen positif bagi pasar saham karena dapat meningkatkan laba perusahaan. Namun, kenaikan tingkat pengangguran juga kerap dipandang sebagai indikator awal resesi.

Jika resesi benar-benar terjadi, kinerja laba perusahaan berpotensi tertekan akibat melemahnya belanja konsumen dan dunia usaha.

Dalam skenario tersebut, pasar saham cenderung melemah meskipun The Fed menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif.

Baca Juga: Pasar Saham Bakal Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed untuk Investor

Sejarah mencatat beberapa periode serupa dalam 25 tahun terakhir, seperti saat pecahnya gelembung dot-com, krisis keuangan global, dan pandemi COVID-19, ketika indeks S&P 500 mengalami penurunan tajam meski didukung pemangkasan suku bunga agresif.

Saat ini belum ada indikasi kuat akan terjadinya krisis ekonomi besar. Namun, investor disarankan tetap mencermati perkembangan pasar tenaga kerja. Pelemahan lanjutan dapat menjadi sinyal peringatan dini yang patut diwaspadai.

Di sisi lain, penutupan indeks S&P 500 pada akhir 2025 yang berada di dekat rekor tertinggi menjadi pengingat bahwa setiap aksi jual, koreksi, maupun pasar bearish dalam sejarahnya bersifat sementara.

Oleh karena itu, apabila perlambatan ekonomi memicu pelemahan pasar saham pada 2026, investor jangka panjang dapat mempertimbangkannya sebagai peluang akumulasi aset dengan valuasi yang lebih menarik.

Selanjutnya: Prabowo: Swasembada Beras Tercapai, RI Bebas Impor pada Tahun 2025

Menarik Dibaca: Wanita Wajib Tahu! Ini 5 Makanan yang Sering Menyebabkan Kista




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×