kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Akankah Pasar Saham Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed kepada Investor


Selasa, 06 Januari 2026 / 15:15 WIB
Akankah Pasar Saham Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed kepada Investor
ILUSTRASI. Indeks saham utama Amerika Serikat, S&P 500, mencatatkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan kenaikan sekitar 16%. (KONTAN/The Fed)


Sumber: The Motley Fool,The Motley Fool | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks saham utama Amerika Serikat, S&P 500, mencatatkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan kenaikan sekitar 16%.

Pencapaian tersebut menandai tahun ketiga berturut-turut di mana indeks acuan Wall Street itu membukukan imbal hasil dua digit. Namun, berbagai indikator menunjukkan bahwa reli pasar saham ini berpotensi menghadapi tantangan serius pada 2026.

Sejumlah faktor utama menjadi perhatian investor, mulai dari pola historis pasar saham pada tahun pemilu paruh waktu (midterm election), hingga valuasi saham yang dinilai sudah sangat mahal dibandingkan standar historis.

Kinerja S&P 500 dan Risiko Tahun Pemilu Paruh Waktu

Sejak diluncurkan pada 1957, S&P 500 telah melewati 17 periode pemilu paruh waktu di Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun tersebut, indeks hanya mencatatkan kenaikan rata-rata sekitar 1% (di luar dividen). Angka ini jauh di bawah rata-rata imbal hasil tahunan S&P 500 yang mencapai sekitar 9% dalam jangka panjang.

Kinerja pasar saham bahkan cenderung lebih buruk pada pemilu paruh waktu yang berlangsung ketika presiden baru menjabat. Dalam kondisi tersebut, S&P 500 tercatat mengalami penurunan rata-rata sekitar 7%.

Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Pemilu paruh waktu sering kali menyebabkan partai presiden kehilangan kursi di Kongres, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan agenda ekonomi pemerintah.

Ketidakpastian arah kebijakan tersebut membuat investor cenderung bersikap hati-hati, yang pada akhirnya menekan pasar saham.

Baca Juga: Emas Dunia Naik 0,5% ke US$4.470 Selasa (6/1): Dampak The Fed & Geopolitik Venezuela

Meski demikian, ketidakpastian politik biasanya tidak berlangsung lama. Berdasarkan riset Carson Investment Research, enam bulan setelah pemilu paruh waktu yakni periode November hingga April, secara historis justru menjadi fase terkuat dalam siklus empat tahunan kepresidenan. Dalam periode tersebut, S&P 500 mencatatkan rata-rata kenaikan sekitar 14%.

Peringatan The Fed soal Valuasi Saham yang Tinggi

Selain faktor politik, perhatian investor juga tertuju pada valuasi pasar saham yang dinilai semakin mahal. Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada September lalu mengingatkan bahwa, “berdasarkan banyak indikator, harga saham berada pada level yang cukup tinggi.”

Sejak pernyataan tersebut, S&P 500 terus bergerak naik, sehingga valuasinya semakin teregang. Bahkan, saat ini indeks tersebut berada di salah satu tingkat valuasi termahal sepanjang sejarahnya.

Peringatan serupa juga disampaikan oleh pejabat The Fed lainnya. Dalam risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Oktober, disebutkan bahwa sejumlah peserta menyoroti valuasi aset keuangan yang “terlalu mahal”, serta risiko terjadinya penurunan harga saham secara tidak teratur.

Gubernur The Fed Lisa Cook pada November turut menyampaikan pandangan senada. Ia menilai terdapat peningkatan kemungkinan terjadinya koreksi harga aset dalam skala besar. Ia juga merujuk pada Laporan Stabilitas Keuangan terbaru The Fed, yang menyebut rasio forward price to earnings (PE) S&P 500 berada “dekat dengan batas atas kisaran historisnya”.

Valuasi S&P 500 di Level Historis Tinggi

Menurut data Yardeni Research, S&P 500 saat ini diperdagangkan dengan rasio forward PE sekitar 22,2 kali. Angka tersebut jauh di atas rata-rata 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 18,7 kali.

Sepanjang sejarah, S&P 500 hanya pernah diperdagangkan di atas 22 kali forward earnings dalam tiga periode. Menariknya, pada ketiga periode tersebut, pasar saham pada akhirnya mengalami koreksi tajam.

Pertama, pada era gelembung dot-com akhir 1990-an, ketika investor bersedia membayar harga sangat tinggi untuk saham teknologi dan internet yang spekulatif. Setelah mencapai puncaknya, S&P 500 anjlok hingga sekitar 49% pada Oktober 2002.

Baca Juga: Pasar Saham Bakal Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed untuk Investor

Kedua, pada masa pandemi COVID-19. Pada 2021, rasio forward PE kembali menembus level 22 seiring optimisme pasar yang mengabaikan dampak gangguan rantai pasok dan stimulus besar-besaran terhadap inflasi. Akibatnya, S&P 500 turun sekitar 25% dari puncaknya pada Oktober 2022.

Ketiga, setelah terpilihnya kembali Presiden Donald Trump. Pada 2024, investor lebih menyoroti sisi positif dari kemenangan tersebut, namun meremehkan dampak kebijakan tarif yang agresif terhadap pasar. Alhasil, S&P 500 terkoreksi sekitar 19% hingga April 2025.

Prospek Pasar Saham 2026

Secara keseluruhan, rasio forward PE di atas 22 kali memang tidak serta-merta menandakan kejatuhan pasar saham dalam waktu dekat. Namun, sejarah menunjukkan bahwa S&P 500 selalu mengalami penurunan signifikan setelah mencapai valuasi setinggi ini.

Jika dikombinasikan dengan catatan historis kinerja pasar saham pada tahun pemilu paruh waktu, terdapat alasan kuat untuk memperkirakan bahwa pasar saham AS berpotensi menghadapi tekanan pada 2026.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk mencermati risiko dengan lebih seksama dan mengelola portofolio secara lebih hati-hati di tengah valuasi yang mahal dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

Selanjutnya: Aturan Baru Menkeu Purbaya! Barang Impor Mangkrak Bisa Dilelang Negara

Menarik Dibaca: Katalog Promo Indomaret Minyak Goreng Hemat, Harga Berlaku sampai 7 Januari 2026




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×