kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.818   19,00   0,11%
  • IDX 8.925   -19,34   -0,22%
  • KOMPAS100 1.227   -4,69   -0,38%
  • LQ45 868   -3,70   -0,43%
  • ISSI 323   -0,54   -0,17%
  • IDX30 440   -3,19   -0,72%
  • IDXHIDIV20 519   -1,77   -0,34%
  • IDX80 137   -0,51   -0,37%
  • IDXV30 144   -0,52   -0,36%
  • IDXQ30 141   -1,08   -0,76%

Pasar Saham Bakal Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed untuk Investor


Selasa, 06 Januari 2026 / 08:35 WIB
Pasar Saham Bakal Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed untuk Investor
ILUSTRASI. Indeks S&P 500 naik 16% pada 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan imbal hasil dua digit. Namun, tren positif ini berpotensi terhenti pada 2026. (NULL/SHANNON STAPLETON)


Sumber: The Motley Fool,The Motley Fool | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Indeks S&P 500 naik 16% pada 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan imbal hasil dua digit. Namun, tren positif ini berpotensi terhenti pada 2026. Tahun pemilu paruh waktu (midterm) secara historis kerap sulit bagi investor, sementara valuasi saham saat ini sudah tinggi jika dibandingkan standar sejarah.

The Motley Fool melaporkan, pada September 2026, Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan, “Menurut banyak ukuran… harga saham saat ini tergolong sangat mahal.” 

Sejak pernyataan itu, S&P 500 kembali naik dan valuasinya semakin meregang. Bahkan, indeks ini kini termasuk salah satu yang paling mahal dalam sejarahnya.

Kinerja saham biasanya lemah di tahun pemilu paruh waktu

Sejak dibentuk pada 1957, S&P 500 telah melewati 17 pemilu paruh waktu dan mencatatkan imbal hasil rata-rata hanya 1% (di luar dividen) pada tahun-tahun tersebut. Angka ini jauh di bawah rata-rata tahunan 9% sejak 1957. Kinerjanya bahkan lebih buruk ketika pemilu paruh waktu berlangsung pada masa awal presiden baru, dengan penurunan rata-rata 7%.

Catatan saja, di Amerika Serikat, pemilu paruh waktu adalah pemilu yang digelar di tengah masa jabatan presiden, yaitu dua tahun setelah presiden dilantik dan dua tahun sebelum pemilu presiden berikutnya.

Baca Juga: Soal Minyak Venezuela, Trump Siapkan Pertemuan dengan Exxon, Chevron, ConocoPhillips

Penyebab utamanya adalah ketidakpastian kebijakan. Partai presiden yang berkuasa sering kehilangan kursi di Kongres, memicu keraguan pasar soal kelanjutan agenda ekonomi. Ketidakpastian ini biasanya menekan pasar karena investor ragu menempatkan dana.

Namun, ketidakpastian tersebut cenderung cepat mereda. Enam bulan setelah pemilu paruh waktu (November–April) justru menjadi periode terkuat dalam siklus empat tahunan kepresidenan. Berdasarkan Carson Investment Research, S&P 500 secara historis mencatatkan imbal hasil rata-rata 14% pada periode itu.

The Fed mengingatkan valuasi saham yang terlalu mahal

Peringatan tidak hanya datang dari Powell. Risalah rapat FOMC Oktober menyebutkan bahwa sejumlah peserta menilai valuasi aset “terlalu teregang” dan menyoroti kemungkinan penurunan harga saham yang tidak teratur.

Gubernur The Fed Lisa Cook menegaskan hal serupa pada November, menyebut meningkatnya peluang penurunan harga aset yang besar. Laporan Stabilitas Keuangan terbaru The Fed juga menilai rasio price-to-earnings (PE) ke depan S&P 500 mendekati batas atas kisaran historis.

Saat ini, rasio forward PE S&P 500 berada di 22,2 menurut Yardeni Research. Angka ini jauh di atas rata-rata 10 tahun sebesar 18,7. Sepanjang sejarah, indeks hanya diperdagangkan di atas 22 kali laba ke depan pada tiga periode, dan setiap kali itu terjadi, pasar akhirnya terkoreksi tajam:

  • Gelembung dot-com: Rasio PE menembus 22 di akhir 1990-an; S&P 500 turun 49% dari puncak hingga Oktober 2002.
  • Pandemi COVID-19: Rasio PE menembus 22 pada 2021; indeks turun 25% hingga Oktober 2022.
  • Pemilihan Presiden Trump: Rasio PE menembus 22 pada 2024; indeks turun 19% hingga April 2025 akibat dampak tarif yang diremehkan pasar.

Tonton: RI Jadi Negara Paling Bahagia, Prabowo: Saya Terharu, Sebagian Besar Hidup Sangat Sederhana

Gambaran besarnya: rasio forward PE di atas 22 tidak berarti kejatuhan pasar akan terjadi seketika, tetapi secara historis S&P 500 selalu mengalami penurunan tajam setelah mencapai valuasi setinggi itu. Jika digabung dengan pola lemah pada tahun pemilu paruh waktu, masuk akal bila pasar saham berpotensi menghadapi tekanan pada 2026.

Kesimpulan 

Peringatan The Fed bukan ramalan kiamat, melainkan sinyal risiko: valuasi S&P 500 yang sangat mahal dan sejarah kinerja lemah di tahun pemilu paruh waktu meningkatkan peluang volatilitas dan koreksi pada 2026. Meski demikian, “crash” tidak bersifat pasti atau segera. Sejarah juga menunjukkan pemulihan kuat pascapemilu. Artinya, investor perlu disiplin manajemen risiko dan ekspektasi, bukan panik berbasis satu indikator valuasi semata.

Selanjutnya: Soal Minyak Venezuela, Trump Siapkan Pertemuan dengan Exxon, Chevron, ConocoPhillips

Menarik Dibaca: IHSG Diperkirakan Sentuh Level Tertinggi, Berikut Rekomendasi Saham dari Sinarmas




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×