Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI/BEIRUT/JERUSALEM. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington akan menghantam Iran “sangat keras dalam pekan depan”. Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah pemerintahannya memberikan keringanan sebagian selama 30 hari bagi pembelian minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi.
Langkah tersebut diambil untuk meredam lonjakan harga energi global yang dipicu oleh perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut telah meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan mengguncang pasar minyak dunia.
Harga minyak bergerak sangat fluktuatif menyusul berbagai pernyataan Trump mengenai kemungkinan durasi perang. Ketidakpastian ini juga dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur laut vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Trump sebelumnya sempat menyebut perang tersebut “sudah selesai” dan juga berjanji menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan Jumat, Trump menyatakan Amerika Serikat siap mengawal kapal-kapal di kawasan itu jika diperlukan.
Baca Juga: Macron Sebut Pelonggaran Sanksi Minyak Rusia oleh AS Hanya Sementara
Harga minyak acuan Brent sempat turun sekitar 1% menjadi sekitar US$ 99,50 per barel pada perdagangan Eropa. Meski demikian, harga tersebut masih melonjak hampir 40% sejak perang dimulai. Kenaikan harga energi turut menekan pasar saham di Eropa dan Asia.
Konflik Meluas di Timur Tengah
Setelah hampir dua pekan perang, sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas. Sebagian besar korban berada di Iran, namun korban juga terjadi di Lebanon dan semakin banyak di kawasan Teluk.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade konflik Timur Tengah, negara-negara Teluk kini berada di garis depan pertempuran.
Militer Amerika Serikat juga mengalami korban. Militer AS mengonfirmasi bahwa empat dari enam awak pesawat pengisian bahan bakar di udara yang jatuh di Irak barat tewas dalam insiden tersebut.
Sementara itu, Iran kembali meluncurkan rudal dan drone ke Israel. Militer Israel merespons dengan melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Teheran serta terus menyerang milisi Hezbollah yang bersekutu dengan Iran di Lebanon, termasuk di ibu kota Beirut.
Media Iran melaporkan seorang perempuan tewas akibat serangan udara di dekat aksi unjuk rasa di Teheran dalam rangka peringatan Hari Quds (Yerusalem), yang digelar untuk mendukung rakyat Palestina di wilayah yang diduduki Israel.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi dilaporkan menghadiri aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan simbolis.
Baca Juga: Filipina Siapkan Intervensi Pasar Listrik Saat Harga LNG Melonjak
Militer Israel menyatakan angkatan udaranya telah menghantam lebih dari 200 target di Iran bagian barat dan tengah dalam 24 jam terakhir, termasuk peluncur rudal balistik, sistem pertahanan udara, serta fasilitas produksi senjata.
Gangguan Pasokan Energi Terbesar
Kekhawatiran terhadap gangguan berkepanjangan pada pasokan energi global mendorong harga minyak melonjak sekitar 9% hingga menyentuh US$ 100 per barel pada Kamis. Lonjakan tersebut turut menekan pasar saham Amerika Serikat.
Dengan meningkatnya harga bensin dan solar di berbagai negara, pemerintah AS pada Kamis mengeluarkan lisensi selama 30 hari yang memungkinkan negara-negara membeli minyak mentah dan produk minyak Rusia yang saat ini berada di laut.
Dalam perdagangan minyak internasional, muatan yang sedang dalam perjalanan memang kerap dijual kembali atau berpindah pembeli.
International Energy Agency (IEA) menyebut perang tersebut berpotensi menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Data dari asosiasi pengendara Amerika, AAA, menunjukkan harga rata-rata solar ritel di AS mencapai US$ 4,89 per galon pada Kamis, tertinggi sejak Desember 2022.
Trump bahkan menyatakan Amerika Serikat berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak.
“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia. Jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang,” kata Trump melalui media sosial. Ia menambahkan prioritas utama pemerintahannya tetap mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menilai lonjakan harga minyak hanya gangguan sementara yang pada akhirnya akan memberikan manfaat ekonomi besar bagi Amerika Serikat dalam jangka panjang.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan Amerika Serikat “sepenuhnya menghancurkan rezim teroris Iran”.
Ia menambahkan bahwa AS memiliki “daya tembak tak tertandingi, amunisi tak terbatas, dan waktu yang cukup”.
Baca Juga: Harga Emas Menuju Penurunan Mingguan Kedua di Tengah Penguatan Dolar AS dan Minyak
Media Axios melaporkan bahwa dalam pertemuan virtual para pemimpin negara-negara Group of Seven, Trump mengatakan Iran “hampir menyerah”.
Namun Iran justru menunjukkan sikap sebaliknya. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya berjanji akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan mendesak negara-negara tetangga menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka atau berisiko diserang.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar konferensi pers pertamanya sejak perang dimulai. Ia melontarkan ancaman tersirat untuk membunuh pemimpin tertinggi baru Iran tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan satu tentara Prancis tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan di Irak utara, beberapa jam setelah pangkalan militer Italia di wilayah yang sama diserang. Pasukan Prancis berada di sana untuk memberikan pelatihan sebagai bagian dari koalisi internasional melawan militan ISIS.
Di Israel utara, sejumlah rumah di kota Arab Badui dekat pangkalan udara rusak parah akibat serangan pada malam hari. Belum jelas apakah kerusakan disebabkan oleh serangan langsung atau serpihan dari sistem pertahanan udara yang mencegat rudal. Sebagian besar korban luka dilaporkan mengalami cedera ringan.













