Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sejumlah investor ritel dari China daratan dilaporkan berbondong-bondong melakukan perjalanan ke Hong Kong.
Melansir Rejuters Senin (8/6/2026), mereka bergegas mencari berbagai alternatif untuk menyelamatkan portofolio investasi mereka di pusat keuangan tersebut, menyusul tindakan tegas mendadak dari pemerintah Beijing bulan lalu terhadap perdagangan sekuritas lintas batas ilegal.
Baca Juga: Saling Serang Israel-Iran Meletus, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari US$2
Pada akhir Mei, regulator keuangan China mengumumkan sanksi keras terhadap tiga broker online terkemuka—Futu, Tiger, dan Longbridge.
Ketiganya dijatuhi hukuman karena terbukti memfasilitasi investor domestik China membeli saham di pasar luar negeri secara "ilegal" tanpa mengantongi lisensi resmi di China daratan.
Langkah agresif Beijing ini langsung mengaburkan prospek investasi lepas pantai (offshore) warga China daratan di Hong Kong.
Padahal, Hong Kong selama ini menjadi pasar favorit mereka karena menawarkan variasi produk keuangan yang beragam serta kemudahan akses ke mata uang asing.
Berdasarkan data dari perusahaan broker Kaiyuan Securities, nilai aset finansial warga China daratan yang dipertaruhkan dalam pusaran regulasi ini diperkirakan mencapai US$54 miliar.
Dana raksasa tersebut mencakup kepemilikan saham AS dan Hong Kong yang dibeli investor ritel demi mengejar keuntungan dari lonjakan saham sektor teknologi.
Baca Juga: Di Tengah Bayang-Bayang Perang, Timnas Iran Tiba di Meksiko Jelang Piala Dunia 2026
Fenomena 'Pengungsi Futu' di Hong Kong
Demi menyelamatkan asetnya, para investor ritel ini kini berlomba-lomba memindahkan dana mereka dari broker online yang disanksi ke perusahaan pialang lokal Hong Kong yang berskala lebih kecil.
Selain itu, mereka juga mengantre di bank-bank kota demi memenuhi aturan uji tuntas (due diligence) nasabah yang kini diperketat.
Cabang-cabang broker lokal seperti uSmart dan Chief Securities di wilayah West Kowloon dilaporkan dipadati oleh puluhan pengunjung dari China daratan yang ingin membuka akun baru.
Beberapa di antaranya bahkan rela menempuh perjalanan jauh menggunakan kereta cepat dari kota Gui Yang di wilayah selatan China.
"Banyak sekali 'pengungsi Futu' akhir-akhir ini yang datang ke sini," ujar salah satu karyawan broker di West Kowloon yang rata-rata membantu puluhan investor daratan membuka akun setiap harinya sejak penertiban dimulai.
Ketiga broker yang dijatuhi sanksi sendiri telah mengumumkan akan menyetop seluruh layanan pembukaan posisi baru, penambahan posisi, hingga transfer dana bagi investor asal China daratan mulai 12 Juni.
Baca Juga: Rudal Iran Hantam Israel, Trump Turun Tangan Minta Netanyahu Tahan Diri
Respons Regulator China (CSRC) dan Jalur Resmi
Menanggapi situasi ini, Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC) memberikan klarifikasi tertulis kepada Reuters.
CSRC menyatakan bahwa penertiban ini murni menyasar operasional ilegal para broker di wilayah China daratan dan tidak akan mengganggu aktivitas bisnis mereka yang berada di luar negeri.
CSRC juga memastikan bahwa:
- Akun milik investor China tidak akan ditutup secara paksa.
- Tidak ada likuidasi aset wajib akibat kampanye perbaikan regulasi ini.
Secara regulasi resmi, investor ritel China daratan sebenarnya hanya diizinkan berinvestasi di pasar saham Hong Kong melalui dua jalur yang diawasi ketat, yaitu saluran southbound Stock Connect dan program dana Qualified Domestic Institutional Investor (QDII) yang berbasis kuota.
Baca Juga: Xi Jinping Kunjungi Pyongyang: Kim Jong Un Tampil Percaya Diri dengan Sokongan Rusia
Pengetatan Aturan Perbankan Hong Kong
Meskipun regulator pasar modal dan perbankan Hong Kong tetap mengizinkan broker serta bank lokal untuk melayani klien yang memegang dokumen identitas China daratan, proses pemeriksaan latar belakang kini diperketat secara signifikan.
Otoritas Moneter Hong Kong menegaskan bahwa perusahaan pialang bertanggung jawab penuh untuk memastikan standar kepatuhan yang kuat dalam setiap pembukaan rekening baru.
Baca Juga: Gelombang Kegagalan Mengintai Ketika Euforia Kripto Mulai Memudar
Pernyataan Sikap Perbankan:
Bank-bank besar dengan operasional lintas batas, seperti HSBC, kini dilaporkan meminta klien asal China daratan yang ingin membuka akun investasi untuk menandatangani surat deklarasi khusus. Surat tersebut menyatakan bahwa dana yang digunakan murni berasal dari luar negeri, bukan hasil transfer dari dalam negeri China.
Chief China Economist di Nomura Ting Lu menilai, ada motif strategis di balik langkah mendadak Beijing ini.
Menurutnya, pemerintah China sedang berusaha mengendalikan arus keluar modal (capital outflow) sekaligus mengarahkan tabungan masyarakatnya untuk berinvestasi di dalam negeri sendiri.
"Pemerintah mencoba menyalurkan dana domestik tersebut ke sektor-sektor teknologi tinggi di dalam negeri, khususnya untuk sektor yang dapat memperkecil kesenjangan teknologi antara China dan Amerika Serikat," pungkas Ting Lu.













