kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.743.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 18.183   133,00   0,74%
  • IDX 5.454   -140,47   -2,51%
  • KOMPAS100 720   -16,35   -2,22%
  • LQ45 544   -13,28   -2,38%
  • ISSI 189   -5,23   -2,69%
  • IDX30 307   -8,68   -2,75%
  • IDXHIDIV20 381   -11,19   -2,86%
  • IDX80 82   -1,89   -2,26%
  • IDXV30 105   -2,00   -1,87%
  • IDXQ30 99   -3,34   -3,27%

Abaikan Peringatan Donald Trump, Israel Luncurkan Serangan Udara ke Jantung Iran


Senin, 08 Juni 2026 / 10:12 WIB
Abaikan Peringatan Donald Trump, Israel Luncurkan Serangan Udara ke Jantung Iran
ILUSTRASI. Teheran Iran (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki babak baru yang kian berbahaya. Otoritas militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukannya telah meluncurkan serangan udara ke sejumlah target militer di wilayah Iran bagian barat dan tengah pada hari Senin (8/6/2026).

Melansir Reuters, lari dari kendali diplomasi, agresi ini dilancarkan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menahan diri.

Baca Juga: China Kirim Kapal ke Timur Taiwan, Menhan Wellington Koo: Ini Perang Kognitif

Sesaat sebelum jet tempur Israel bergerak, Trump sempat sesumbar kepada media bahwa ketegangan regional tidak akan menggagalkan negosiasi damai Washington dengan Teheran.

Trump bahkan menegaskan posisi politiknya dengan menyebut Netanyahu "tidak memegang kendali" (doesn't call the shots).

Namun, keputusan Israel untuk membom Beirut (Lebanon) pada hari Minggu membuat situasi lapangan memanas cepat hingga berujung pada serangan langsung Israel ke dalam wilayah kedaulatan Iran hari ini.

Baca Juga: Kendalikan Diplomasi Timur Tengah, Trump ke Netanyahu: Saya yang Menentukan

Kronologi Saling Serang Lintas Negara

Pihak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melaporkan bahwa Israel menggunakan rudal balistik yang diluncurkan dari udara (air-launched ballistic missiles) untuk menyasar fasilitas militer mereka.

Rentetan serangan balasan yang terjadi dalam waktu singkat ini langsung mengejutkan pasar komoditas global.

Pada awal perdagangan Senin pagi, harga minyak mentah dunia melesat naik hingga lebih dari 3%, membawa minyak acuan global jenis Brent bertengger di atas US$96 per barel.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Anjlok Terdalam dalam 3 Bulan Senin (8/6), Yen Tembus Level 160

Dilema Meja Runding: Ambisi Trump vs Realita Lapangan

Meskipun Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai komprehensif untuk mengakhiri perang besar ini sudah di depan mata, terdapat jurang perbedaan yang sangat dalam di antara para aktor utama:

1. Posisi Donald Trump (Amerika Serikat)

Bersikeras bahwa dialah pemegang keputusan tertinggi ("I call all the shots").

Meminta Israel menyetop agresi di Lebanon demi memuluskan draf damai dengan Teheran.

Menuntut perjanjian yang jauh lebih ketat dari era Barack Obama (2015), termasuk jaminan Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir.

2. Posisi Benjamin Netanyahu (Israel)

Mengabaikan draf gencatan senjata usulan AS di Lebanon; bersikeras konflik dengan Hezbollah harus diselesaikan terpisah dari urusan Iran.

Menjustifikasi pengeboman distrik Dahiyeh (Beirut) pada hari Minggu sebagai respons atas serangan roket Hezbollah ke wilayah Israel.

Menghadapi tekanan politik dan kritik tajam dari rival domestik menjelang pemilu nasional Israel tahun ini.

3. Posisi Mohammed Baqer Qalibaf & Kazem Gharibabadi (Iran)

Menegaskan bahwa pangkalan militer AS dan aset Israel di Timur Tengah adalah target yang sah karena AS dianggap melanggar kesepakatan di Lebanon.

Menuntut pencabutan total sanksi internasional dan pengakuan atas kendali Iran di Selat Hormuz (jalur transit seperlima minyak dunia yang saat ini mereka blokade).

Menolak keras rencana AS yang ingin mengalihkan aset keuangan Iran yang dibekukan untuk membayar ganti rugi ke negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Baca Juga: Bursa Saham China dan Hong Kong Dibuka Merosot Dalam Senin (8/6)

Dampak Jangka Panjang terhadap Blokade Energi

Perang berskala luas ini telah mencapai titik buntu (stalemate) sejak awal April, ketika AS dan Israel sempat meredam serangan ke Iran.

Sebagai bentuk perlawanan, Teheran memblokade sebagian besar jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, yang direspons Washington dengan melakukan blokade tandingan di pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

Meskipun perwakilan diplomatik kedua negara mengklaim kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah hampir rampung, aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir terbukti mengaburkan prospek tersebut.

Eskalasi ini bahkan mulai menyeret negara-negara Arab tetangga yang menjadi markas atau pangkalan militer bagi pasukan Amerika Serikat.




TERBARU

[X]
×