Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia melanjutkan kenaikan untuk hari keempat berturut-turut pada Rabu (19/8/2026), di tengah ketidakpastian arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 69 sen atau 0,8% menjadi US$91,71 per barel pada pukul 04.15 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 76 sen atau 0,9% menjadi US$85,70 per barel.
Baca Juga: Sentimen Industri Thailand Naik Dua Bulan Beruntun, Ditopang Penjualan Mobil Listrik
Kedua kontrak tersebut pada perdagangan Selasa (18/8) ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan.
Penguatan harga minyak terutama dipicu oleh memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz tetap terbuka.
Pernyataan tersebut bertentangan dengan klaim Iran yang menyebut jalur pelayaran strategis tersebut masih tertutup bagi kapal.
Gencatan senjata sementara antara kedua negara juga berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya beralih ke posisi militer yang "sepenuhnya ofensif" karena kebuntuan diplomatik.
Baca Juga: PBB: Kekerasan terhadap Pekerja Kemanusiaan Mencapai Rekor pada 2025, Gaza Terparah
Lalu Lintas Selat Hormuz Melambat
Ketidakpastian tersebut mulai berdampak pada aktivitas pelayaran. Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi enam kapal pada Selasa, dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan rata-rata 11 kapal dalam 10 hari terakhir.
Sebagian besar pemilik kapal memilih menghindari jalur tersebut karena belum ada kepastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran setelah sebelumnya mengalami blokade akibat perang.
"Risiko pelayaran kembali meningkat karena serangan dari Iran dan Houthi masih terjadi di kedua titik strategis, sehingga harga minyak tetap mendapat dukungan dalam jangka pendek," kata June Goh, analis pasar minyak senior di Sparta Commodities.
Selain Selat Hormuz, gangguan juga terjadi di Selat Bab el-Mandeb yang menjadi jalur penting perdagangan minyak di kawasan Laut Merah.
Dua perusahaan pelayaran besar China bahkan menghentikan pengiriman kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Kapal-kapal tersebut kini mengambil muatan minyak dari luar kawasan Teluk.
Baca Juga: Yuan China Menguat Rabu (19/8), Pasar Nantikan Sinyal Kebijakan The Fed
Negara Produsen Cari Jalur Ekspor Alternatif
Di tengah gangguan pelayaran, negara-negara produsen minyak mulai mencari jalur alternatif untuk menjaga arus ekspor.
Irak, misalnya, telah menyetujui mekanisme ekspor minyak mentah melalui perusahaan internasional dan lokal serta sejumlah titik ekspor alternatif guna menghindari Selat Hormuz.
Kontrak berdasarkan mekanisme tersebut akan berlaku selama tiga bulan mulai 1 September.
Menurut Goh, produsen minyak di kawasan Teluk juga mulai menggunakan jalur alternatif untuk membawa minyak keluar menuju Teluk Oman.
"Jika dapat dipertahankan, hal ini dapat membantu meningkatkan kembali produksi yang sebelumnya dihentikan dari dua produsen tersebut," ujarnya.
Baca Juga: Yuan China Menguat Rabu (19/8), Pasar Nantikan Sinyal Kebijakan The Fed
Persediaan Minyak AS Jadi Perhatian
Dari Amerika Serikat, sentimen harga minyak juga mendapat dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah dan produk distilat.
Berdasarkan data yang dikutip dari American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah dan distilat AS turun pada pekan lalu. Namun, stok bensin meningkat.
Data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) akan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Analis yang disurvei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 600.000 barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus.
Dengan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah dan ketidakpastian jalur ekspor melalui Selat Hormuz, harga minyak masih berpotensi bertahan di level tinggi dalam jangka pendek.
Namun, kemampuan produsen untuk menggunakan jalur ekspor alternatif menjadi faktor penting yang dapat meredam tekanan kenaikan harga.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat, Pasokan Minyak Global Terancam Terganggu












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
