Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Sentimen industri Thailand terus membaik. Indeks sentimen industri negara tersebut meningkat untuk dua bulan berturut-turut pada Juli 2026, didorong oleh kuatnya penjualan kendaraan listrik (EV) dan dukungan pemerintah.
Melansir Reuters Rabu (19/8/2026), Federation of Thai Industries (FTI) mencatat, indeks sentimen industri naik menjadi 90,0 pada Juli, dari 88,2 pada Juni.
Peningkatan tersebut mencerminkan membaiknya keyakinan pelaku industri terhadap kondisi bisnis, meski sektor manufaktur Thailand masih menghadapi sejumlah tekanan eksternal.
Baca Juga: PBB: Kekerasan terhadap Pekerja Kemanusiaan Mencapai Rekor pada 2025, Gaza Terparah
FTI memperkirakan prospek industri dalam tiga bulan ke depan juga membaik.
Indeks prospek tiga bulan meningkat menjadi 96,1, seiring ekspektasi penurunan biaya listrik dan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pertemuan IMF dan Bank Dunia yang akan digelar di Thailand pada Oktober.
Penjualan EV Jadi Penopang
FTI menyebut lonjakan penjualan kendaraan listrik menjadi salah satu faktor utama yang menopang kepercayaan industri pada Juli.
Selain itu, peningkatan belanja pemerintah dan ekspor produk non-durable juga turut memberikan dorongan terhadap aktivitas manufaktur.
Pemerintah Thailand sebelumnya meluncurkan skema subsidi konsumen senilai 176 miliar baht atau sekitar US$5,3 miliar pada Juni.
Baca Juga: Yuan China Menguat Rabu (19/8), Pasar Nantikan Sinyal Kebijakan The Fed
Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup.
Program subsidi tersebut merupakan bagian dari rencana pinjaman pemerintah senilai 400 miliar baht untuk mengatasi dampak kenaikan harga minyak.
Thailand juga tengah menyiapkan program kendaraan listrik senilai sekitar US$700 juta yang ditujukan untuk mengganti hingga 80.000 kendaraan sebagai bagian dari agenda transisi energi.
Tarif AS hingga Pariwisata Jadi Risiko
Meski sentimen industri membaik, pelaku manufaktur masih menghadapi sejumlah tantangan.
FTI menyoroti dampak tarif Amerika Serikat (AS), pelemahan sektor pariwisata serta meningkatnya kredit bermasalah di kalangan usaha kecil sebagai sejumlah risiko terhadap aktivitas industri.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian. Pelaku industri memperkirakan konflik di kawasan tersebut dapat menekan ekspor Thailand ke wilayah Timur Tengah sekaligus meningkatkan ketidakpastian biaya energi.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat, Pasokan Minyak Global Terancam Terganggu
Di sisi lain, perekonomian Thailand tumbuh 1,9% secara tahunan pada kuartal II 2026.
Lembaga perencanaan negara Thailand juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 2,0%-2,5%, dari perkiraan sebelumnya 1,5%-2,5%.
Perbaikan sentimen industri pada Juli menjadi sinyal positif bagi prospek manufaktur Thailand.
Namun, tekanan dari perdagangan global, biaya energi dan kondisi ekonomi eksternal masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga momentum pertumbuhan.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
