Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks harga saham acuan Jepang, Nikkei, merosot tajam pada perdagangan hari Senin (8/6/2026) hingga mencatatkan penurunan terdalam dalam tiga bulan terakhir.
Di saat yang sama, mata uang Yen terpuruk di atas level 160 per dolar AS. Gejolak ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap valuasi saham sektor teknologi serta memanasnya kembali konflik bersenjata di Timur Tengah.
Baca Juga: Bursa Saham China dan Hong Kong Dibuka Merosot Dalam Senin (8/6)
Melansir Reuters pada akhir sesi perdagangan, berikut adalah posisi dua indeks utama bursa Tokyo:
- Indeks Nikkei 225: Anjlok sebesar 4,6% ke level 63.747,83, yang menjadi rekor penurunan harian terbesar sejak 9 March lalu.
- Indeks Topix (Cakupan Lebih Luas): Tergelincir sebesar 3,08% ke posisi 3.827,63.
Efek Domino dari Wall Street dan Krisis Energi Timur Tengah
Keterpurukan bursa saham Jepang mengekor performa buruk Wall Street pada akhir pekan lalu.
Saham-saham sektor teknologi AS berguguran setelah rilis laporan ketenagakerjaan bulan Mei yang kuat memicu kekhawatiran bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mengambil arah kebijakan moneter yang ketat (hawkish).
Akibatnya, Indeks Semikonduktor Philadelphia mencatatkan kejatuhan harian terbesar sejak Maret 2020.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Merosot ke Level Terendah 2 Bulan Dipicu Bayang-Bayang Suku Bunga AS
Kondisi psikologis pasar kian diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia pada Senin pagi.
Kenaikan harga komoditas energi ini terjadi setelah serangan udara Israel ke Beirut dibalas oleh Iran dengan meluncurkan salvo rudal ke wilayah Israel.
Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa saling serang tersebut tidak akan memengaruhi kelanjutan negosiasi damai pemerintahannya dengan Teheran, investor tetap memilih mengamankan aset mereka.
"Selain penurunan pada saham-saham terkait teknologi, peningkatan risiko geopolitik global juga tampaknya menjadi beban berat bagi pasar saat ini," jelas Maki Sawada, pakar strategi ekuitas di Nomura Securities.
Baca Juga: Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%
Yen Jepang Berada di Zona Intervensi Kritis
Melemahnya mata uang Yen hingga menembus angka 160 per dolar AS membawa kembali memori sebulan lalu, di mana pemerintah Tokyo terpaksa menggelontorkan dana raksasa untuk melakukan intervensi pasar langsung demi mendongkrak mata uangnya.
Selain kejatuhan nilai tukar, harga obligasi pemerintah Jepang juga dilaporkan merosot. Penurunan ini didorong oleh kekhawatiran bahwa lonjakan biaya energi internasional akan mentransfer tekanan inflasi (imported inflation) yang kuat ke dalam negeri.
Situasi pasar keuangan yang rapuh ini dipertegas oleh rilis data ekonomi domestik terbaru pada hari Senin, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jepang resmi kehilangan momentum pada kuartal Januari-Maret akibat tekanan krisis Timur Tengah.
Baca Juga: Badai Saham Teknologi Memanas, Bursa Asia Rontok dan KOSPI Korsel Sempat Dihentikan
Saham Sektor Teknologi Jepang Berguguran
Saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor menjadi motor utama yang menyeret kejatuhan indeks Nikkei. Beberapa emiten teknologi raksasa Jepang yang mencatatkan kerugian terbesar meliputi:
- Sumco Corp: Produsen wafer silikon ini memimpin kejatuhan dengan anjlok 13%.
- Renesas Electronics: Emiten pembuat cip mikro ini merosot 12,1%.
- Kioxia Holdings: Perusahaan memori kilat (flash memory) terkemuka ini jatuh sebesar 11,4%.













