Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas bergerak melemah pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi. Koreksi ini memperpanjang tren penurunan dari sesi sebelumnya, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).
Di saat yang sama, memanasnya konflik militer di kawasan Teluk ikut mengerek harga minyak dunia yang berpotensi memicu lonjakan inflasi global.
Baca Juga: Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%
Melansir Reuters berdasarkan data pasar pada pukul 01.24 GMT, berikut adalah pergerakan harga instrumen komoditas utama dunia:
- Emas Spot: Melemah 0,2% ke level US$4.321,49 per ons troi. Pada perdagangan Jumat lalu, harga emas bahkan sempat anjlok sekitar 3% hingga menyentuh titik terendahnya sejak 24 Maret akibat rilis data tenaga kerja AS yang solid.
- Emas Berjangka AS (Kontrak Agustus): Terkoreksi 0,5% ke posisi $4.345,60 per ons troi.
- Minyak Mentah: Melonjak lebih dari US$2 per barel pada Senin pagi akibat serangan udara terbaru.
Baca Juga: Badai Saham Teknologi Memanas, Bursa Asia Rontok dan KOSPI Korsel Sempat Dihentikan
Ketahanan Ekonomi AS dan Tekanan Inflasi Perang Iran
Sektor ketenagakerjaan AS mencatatkan pertumbuhan positif selama tiga bulan berturut-turut pada periode Mei.
Kondisi ini mengonfirmasi bahwa pasar tenaga kerja paman Sam kembali bertenaga setelah sempat melambat tahun lalu.
Baca Juga: Bursa Saham Selandia Baru ke Level Terendah 2 Pekan, Terkena Sentimen Timur Tengah
Penguatan struktural ini memberi ruang bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga demi meredam inflasi yang melonjak akibat dampak perang Iran.
Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack menegaskan bahwa serapan tenaga kerja baru menunjukkan kondisi pasar kerja yang seimbang menuju full employment.
Namun, ia memperingatkan bahwa inflasi yang persisten tinggi berpotensi memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat demi menjaga stabilitas harga.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah berupaya mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan balasan.
Langkah ini diambil setelah Iran menghujani target-target Israel dengan salvo rudal sebagai bentuk retaliasi atas pemboman di pinggiran Beirut, Lebanon.
Baca Juga: UPDATE-GFZ Mutakhirkan Gempa Mindanao Jadi M 7,8, Waspadai Gelombang Tsunami 1 Meter
Permintaan Fisik dan Aktivitas Spekulan Emas
Di tengah volatilitas harga pasar global, aktivitas dari sektor bank sentral dan retail menunjukkan dinamika yang beragam:
- Bank Sentral China (PBOC): Data resmi menunjukkan China terus menambah cadangan emasnya selama 19 bulan berturut-turut hingga akhir Mei, membuat total cadangan emas Negeri Tirai Bambu melonjak menjadi 74,96 juta fine troy ounces.
- Pasar Retail India & China: Permintaan fisik emas di India cenderung merosot pekan lalu karena konsumen memilih memantau pasar (wait and see) akibat fluktuasi harga global. Sementara itu, nilai premi emas di pasar domestik China sedikit melunak.
- Posisi Spekulan: Data komitmen pelaku pasar menunjukkan para spekulan emas meningkatkan posisi beli bersih (net long positions) mereka sebanyak 14.409 kontrak menjadi total 111.341 kontrak dalam sepekan hingga 2 Juni.
Baca Juga: Dolar AS Makin Garang Senin (8/6), Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik ke 70%
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Koreksi pada komoditas emas ikut menyeret performa sebagian besar logam mulia lainnya pada perdagangan Senin pagi:
- Perak Spot: Turun 0,4% ke level US$67,52 per ons troi.
- Platinum: Melemah 0,2% menjadi US$1.773,69 per ons troi.
- Paladium: Menjadi satu-satunya yang bergerak melawan arus dengan menguat 0,5% ke posisi US$1.231,51 per ons troi.













