Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Jepang ditutup melemah pada Jumat (13/3/2026) dan mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong investor melepas aset berisiko.
Melansir Reuters, Indeks Nikkei 225 turun 1,2% dan ditutup di level 53.819,61 setelah sempat merosot hingga 2,1% pada sesi perdagangan. Sepanjang pekan ini, indeks tersebut tercatat melemah 3,2%.
Baca Juga: Trump Sesumbar! Membunuh Pemimpin Iran Adalah Kehormatan Besar Baginya
Sejak penutupan pada 27 Februari, sebelum pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran Nikkei telah kehilangan sekitar 8,5% nilainya. Sementara itu, indeks yang lebih luas, Topix, turun 0,6% ke level 3.629,03.
Analis pasar dari Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Shutarou Yasuda, mengatakan meskipun harga minyak mentah sedikit turun dari puncaknya, levelnya masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum konflik dimulai.
“Risiko gejolak di pasar saham kemungkinan masih akan berlanjut pekan depan, tergantung perkembangan berita,” ujarnya dalam laporan.
Di pasar energi, kontrak berjangka minyak Brent crude untuk pengiriman Mei turun tipis 0,04% menjadi sekitar US$100,42 per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman April melemah 0,6% menjadi sekitar US$95,12 per barel.
Baca Juga: AS Selidiki 60 Negara Terkait Dugaan Praktik Perdagangan Tidak Adil dan Kerja Paksa
Konflik tersebut menekan sentimen pasar Jepang yang sebelumnya terdorong oleh kinerja laba perusahaan yang kuat serta ekspektasi kebijakan fiskal ekspansif setelah kemenangan pemilu cepat oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Dalam indeks Nikkei, tercatat 72 saham menguat dan 152 saham melemah.
Saham sektor teknologi menjadi penekan utama indeks. Saham SoftBank Group turun 4,5%, sementara produsen peralatan pengujian chip Advantest melemah 3,5%.
Saham Honda Motor anjlok 5,6%, penurunan harian terbesar sejak Februari 2025. Produsen mobil terbesar kedua di Jepang itu menyatakan akan mencatat kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun sebagai perusahaan terbuka, menyusul biaya restrukturisasi hingga US$15,7 miliar terkait bisnis kendaraan listriknya.
Baca Juga: Fitch Naikkan Proyeksi Harga Logam dan Komoditas Tambang untuk 2026, Cek Datanya!
Di tengah pelemahan pasar, saham sektor energi justru menguat. Indeks perusahaan eksplorasi energi di bursa Tokyo menjadi sektor dengan kenaikan terbesar di antara 33 sub-indeks, naik 2,1%.
Saham perusahaan minyak dan gas terbesar Jepang, Inpex Corporation, juga menguat sekitar 2%.













