Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa rangkaian serangan terbaru antara Israel dan Iran tidak akan memengaruhi jalannya negosiasi damai yang tengah diupayakan pemerintahannya dengan Teheran.
Dengan nada keras, Trump bahkan menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak memegang kendali atas keputusan strategis tersebut.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Anjlok Terdalam dalam 3 Bulan Senin (8/6), Yen Tembus Level 160
Melansir Reuters Senin (8/6/2026), pernyataan ini muncul setelah militer Israel mendadak meluncurkan serangan udara ke wilayah ibu kota Beirut, Lebanon, pada hari Minggu kemarin.
Langkah tersebut menjadi serangan pertama sejak AS mengumumkan rencana gencatan senjata (truce) untuk Lebanon pada pekan lalu.
Sebagai balasan, Iran langsung menghujani target-target Israel dengan salvo rudal, yang sempat dikhawatirkan pengamat bakal merusak meja diplomasi.
"Serangan itu tidak akan memberikan dampak apa pun terhadap kesepakatan damai," ujar Trump secara eksklusif kepada Financial Times pada hari Minggu.
"Saya yang memegang kendali. Saya yang menentukan semua keputusan. Dia (Netanyahu) tidak memegang kendali."
Baca Juga: Bursa Saham China dan Hong Kong Dibuka Merosot Dalam Senin (8/6)
Ketegangan di Meja Telepon: Trump Minta Israel Menahan Diri
Sebelum serangan hari Minggu terjadi, Trump dilaporkan terus menekan Israel untuk menghentikan agresinya di Lebanon guna membuka ruang bagi tercapainya kesepakatan komprehensif demi mengakhiri perang yang lebih luas dengan Iran.
Trump bahkan dikabarkan sempat mencerca Netanyahu dengan kata-kata kasar dalam panggilan telepon pekan lalu.
Seorang pejabat AS yang dikutip oleh media Axios mengungkapkan bahwa Trump dan Netanyahu sempat berbicara kembali via telepon selama hampir 30 menit pada hari Minggu, sesaat setelah Iran meluncurkan rudalnya.
Dalam percakapan tersebut, Trump meminta Netanyahu untuk menahan diri dari serangan balasan langsung ke wilayah Iran.
"Kita sudah sangat dekat untuk menghasilkan sesuatu yang baik dalam kesepakatan ini," ujar Trump dalam rekaman pembicaraan tersebut. Langkah persuasif Trump ini dinilai berhasil "membeli sedikit waktu" agar situasi tidak langsung eskalasif.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Merosot ke Level Terendah 2 Bulan Dipicu Bayang-Bayang Suku Bunga AS
Update Militer dari Lapangan dan Dampak Ekonomi
Hingga Senin dini hari, militer Israel belum meluncurkan serangan balasan ke wilayah Iran. Kepala Staf Angkatan Darat Israel Eyal Zamir menyatakan bahwa pasukannya belum menerima perintah untuk menyerang Iran, namun dipastikan akan bergerak "dengan penuh determinasi" begitu perintah resmi diturunkan.
Di sisi lain, sayap militer Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim rudal-rudal mereka berhasil menyasar pangkalan udara Ramat David di dekat Nazareth.
Namun, militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mengintersepsi sebagian besar rudal tersebut.
Eskalasi terbaru di akhir pekan ini langsung berimbas negatif pada pasar komoditas global. Pada awal perdagangan hari Senin, harga minyak mentah dunia melesat lebih dari 2%, membawa minyak acuan Brent kembali bertengger di atas level $95 per barel.
Baca Juga: Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%
Rumitnya Tuntutan Meja Runding AS-Iran
Negosiasi damai yang dimotori oleh Washington dan Teheran sejauh ini masih menghadapi jalan terjal karena adanya perbedaan prinsip mengenai batas wilayah konflik:
| Pihak | Posisi & Tuntutan Utama dalam Negosiasi |
| Amerika Serikat (Trump) | • Harus mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir secara total. • Menuntut syarat yang jauh lebih ketat dibanding perjanjian nuklir era Obama tahun 2015. • Membuka kembali jalur pelayaran global di Selat Hormuz. |
| Iran (Teheran) | • Menuntut pencabutan total sanksi ekonomi internasional dari AS. • Meminta pengakuan atas kendali wilayah mereka di Selat Hormuz. • Menuntut pencairan aset-aset keuangan Iran senilai miliaran dolar yang dibekukan di luar negeri. |
| Israel (Netanyahu) | • Menolak menyatukan isu Lebanon dengan draf damai Iran. • Bersikeras operasi militer terhadap Hezbollah di Lebanon harus diperlakukan terpisah dari gencatan senjata apa pun dengan Teheran. |
Baca Juga: Badai Saham Teknologi Memanas, Bursa Asia Rontok dan KOSPI Korsel Sempat Dihentikan
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator damai Teheran, Mohammed Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa pangkalan militer AS dan aset-aset Israel di kawasan tetap menjadi target sekutu mereka yang sah.
Hal ini dikarenakan AS dan Israel dianggap telah melakukan tindakan bermusuhan, termasuk "pelanggaran kesepakatan gencatan senjata di Lebanon."
Meski situasi di lapangan kembali memanas, Trump tetap optimistis perang besar ini bisa diakhiri lewat jalur kesepakatan tertulis.
"Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan, atau saya akan menghancurkan mereka habis-habisan," pungkas Trump dalam wawancara khusus bersama NBC News yang ditayangkan bertepatan dengan hari ke-100 konflik tersebut.













